Saat Lelahku

Aku lelah
Aku ingin bebas
Lepas dari semua tali perasaan ini
Yang kian hari makin menyayat hati

Aku lelah
Seperti pion-pion catur
Menunggu otak picik menggesernya
Lama, dan menyiksa batin
Dalam kurungan panci bertekanan

Aku lelah
Ingin berlari dari kebodohan ini
Dari tirani ini
Manipulasi hidup dari perasaan
Yang sebenarnya hampa
Tapi menutup semua lubang kesempatan

Aku lelah
Aku ingin ibuku ada
Mencium keningku ketika gundah
Mengokohkan lagi hati ini
Mengusap kering air mata ini
Ibu,
aku rindu

Relikui Kehidupanku

Alangkah baik jika aku berdiri
Mematahkan keraguan hati
Merangkai langkah yang pasti
Biarpun kaki ini tak berdiri tegak
Badan pun sempoyongan
Namun fikirku sudah terpatri
Dan bersiap untuk berlari

Ku berlari
Mengejar cinta sejati
Membuang ketakutan hati
Samurai di kanan, pistol di kiri
Menerjang semua penghalang

Semangatku tak padam-padam
Seperti api yang menyala-nyala
Meski diterjang air dingin
Aku tak kan beku
Diterjang badai api
Aku tak kan meleleh
Aku adalah energi
Yang tak pernah mati

Sampai aku hilang sinar
Dalam gelap aku memandang
Ragaku tak terasa lagi
Seakan ruh sudah pergi
Dan aku tak mau mati
Hatiku pun kembali
Menunutun dalam sejuknya iman
Sebuah lilin dalam gelap, gersang

Aku kembali
Menata lagi puing-puing harapan
Dan aku tak kan takut
Aku siap jatuh lagi

Jalan-Mu

Alunan nada yang melambai
Melantunkan syair indah

Ketika jiwa ini kering
Meradang panas tanpa iman
Kesejukan lantunan qur'an yang merindukan
Hati ingin meraihnya

Hari yang begitu lekas pergi
Tak sedikitpun tinta kebaikan
Tergores dalam kertas amal
Lalu,
Masihkah Tuhan memberi tangan-tangan dingin-Nya
Memberi salju penyejuk dan pengampunan

Betapa sombong diri ini
Melangkah di bumi ini dengan mendangak
Memamerkan bunga-bunga kekayaan
Gengsi yang begitu mencuat
Mengalahkan hasrat untuk mengingat-Nya

Dan ketika hati ini tersentuh
Kenapa tak ada daya untuk mengubahnya
Mengukir kembali mutiara iman
Tuhan,
Beri aku kekuatan untuk membunuh nafsuku
Menegakkan megahnya nama-Mu
Mengagungkan kebesaran-Mu
Kembali ke jalan-Mu

Lelap

Lelap
Adalah lalai
Maka sebut cintamu
Yang mengasihimu
Ketika kamu putih
Ketika kamu hitam
Bahkan abu-abu

Lelap
Adalah sesal
Maka bukalah urat sarafmu
Untuk menerima kenyataan
Menghela nafas yang besar
Dan melangkah tegap

Namun, Terbuai dalam lelap
Tidur yang sepi
Otakmu kosong
Jiwamu kering
Telingamu tuli
Tengok sekelilingmu, ketika
Semut-semut sudah memanggul gula dari gelasmu
Lalu apakah kau tetap menatap mukamu begitu saja

Cacing - Cacing

Adalah sebab
Tak tertebak
Mengghalau asa
Menulis prosa
Tentang apa yang tak terasa

Ada juga maya
Semu tak bernyawa
Membalikkan rasa
Membayang hitam menutup hati
Mungkin tak terbenahi
Sampai kau temukan diri

Ini megah, warna warni
Retorika hidup yang menggembirakan hati
Semua serba judi
Tak ada kata suci

Kita sama-sama mati
Tak acuh dengan cacing-cacing malang
Melindas dengan sepatu janji
Sampai cacing-cacing itu menggeliat sakit
Di bawah terik
Berselimut dingin malam

Bahkan, iba tak tumbuh-tumbuh
Keserakahan menghentikan nadi
Mengalirkan darah pencuri
Mendetakkan jantung kesombongan

Potret Jakarta

Langkahmu gontai
Menyeret kaki derita
Mata yang kosong
Menatap kehampaan

Langkahmu lesu
Menggendong sarat beban
Tangan yang kotor
Menengadah dalam harapan

Suram,
Kabut hitam tak kunjung terang
Jalan batu tak kunjung aspal
Tebing curam tak kunjung landai
Awan pun tak segera menetes
Tak ada gerimis kehidupan

Malam ini tak bisa tidur
Hujan menderu deras
Kolong jembatan tak kasih kehangatan lagi
Merangkak-rangkak ku dalam kegelapan
Mencari kardus kusam
Berharap akan ada kehangatan

Sepintas terlihat gedung di seberang
Apartemen terlihat terang
Berhias lampu keemasan
Mungkin, disana Pak Bejo sedang tidur
Dibalik selimut tebal
Terlentang tanpa beban
Dikerumuni kupu malam
Lupa, yang dibawah kolong jembatan

Garuda

Kini kau meradang
Bulu-bulumu tercabut hilang
Tak bisa terbang
Membawa bangsa ini menuju bintang

Kau sudah loyo
Kaki-kakimu yang kuat
Kini mulai rapuh
Tak mampu lagi menggenggam erat kebhinekaan

Tubuhmu yang dulu kekar
Matamu yang dulu tajam
Bulu-bulumu yang bersinar
Semua lenyap
Musnah
Bahkan, perisai di dadamu yang kokoh
Kini roboh oleh zaman

Garuda,
Kini kau simbol belaka
Sebuah patung tak bermakna
Disia-siakan, perjuanganmu dicibirkan

Jiwamu Hilang

Dulu kau diagungkan
Nilaimu ditinggikan
Refleksi dari pribadi
Bangsaku, negaraku

Sekian lama kau bersemayam
Dalam tubuh bangsa ini
Berharap menjadi jati diri
Tapi,
Tak kunjung jadi

Kini kau semakin hilang
Hanya semboyan di kemajuan zaman
Nilaimu tak hidup lagi
Hanya,
Sekedar frasa-frasa mati

Kau tercipta dari pengorbanan
Tapi hilang
Dalam kelalaian

Bangsaku kini bimbang
Berjalan tanpa pegangan
Mengarungi hidup kekacauan
Intoleransi, Eksklusifisme,
Liberalisme, Kapitalisme,
Invidualisme, Hedonisme
Telah menghapus jiwamu

Di Halte Busway itu

Dalam penantianmu
Harap-harap cemas
Menunggu armada biru

Sesekali kau tengok waktu
Dalam  lingkaran indah di lenganmu
Cemas semakin menderu
Mengikuti laju sang waktu

Tak sempat melihat aku
yang tak pernah lepas dari pandangku
Berharap waktu tak melaju
membiarkan
Aku di sampingmu

Wahai gadis di halte busway itu
Biarkan aku menulismu
Keindahan senyummu
Kejernihan matamu
berhias lentik lingkaran ayu
Wajah yang mendispersikan cahaya anggun
Oh indah,
Menggodaku

Pengkhianat Cinta

Tak sedikitpun tersisa
Melati yang indah
Kini jadi serigala pembual cerita
Seperti lonte penjual raga

Kini ku ambil lagi batu itu
Batu yang hampir terukir indah
Tapi kau remukkan dengan palu kepalsuan
Tak sudi ku labuhkan lagi
Dalam asamu
Dalam bualanmu, yang
Hanya ingin menggores luka
Bukan ukiran cinta

Dasar idiot
Bego
Ku beri cinta, kau balas nista

Kuakui
Narasimu sungguh indah
Seakan besar harapan cinta
Cinta yang kau buat opera
Sandiwara di atas panggung nyata
Menangis untuk dusta
Tertawa dalam kelicikan

Kau
Wanita jalang
Pencari cinta lelaki
Sekedar,
Penikmat nafsu birahi

Melatiku Cahayaku

(Untuk yang Jauh di Mata)

Saat hati meradang perih
Kau datang membawa air
Air yang jernih, mengalir, mengusir kegundahan ini
Membunuh ragu ini
Membawaku ke lereng terjal
Untuk kembali ke jalan Illahi
Dan berharap jatuh di lembah surgawi

Saat lidah membeku kaku
Kau datang ucapkan salam
Kau tarik aku ke dalam track yang benar
Kembali menyebut nama_Nya

Saat mata tertutup debu hitam
Kau datang membawa lilin iman
Menerangiku ketika hilang
Menyadarkanku di persimpangan jalan,
Jalan menuju sebuah titik
Titik kesuksesan

Kau Cahayaku
Datang membawa nafas segar
Keharuman melati cinta
Yang menyejukkan dadaku
Menetralkan listrik cintaku

Melatiku,
Kau suntikkan darah segar di nadiku
Menguatkan detak jantungku
Menyeimbangkan Ph cintaku

Ya tuhan,
Jangan biarkan cahaya itu pergi
Biarkan aku slalu melihatnya
Biarkan aku slalu mendengarnya
Biarkan aku menjaganya
Biarkan cahaya itu ada,
dalam setiap sel tubuh ini

Dan bisa ku genggam
Sampai nanti
Sampai ku kembali
Menghadap_Mu,
Ke Surga_Mu
Bersama melatiku

Kado Untukmu

Waktu itu t'lah lewat
Berdentang , melangkah, dan pergi
Tapi aku datang
Membawa energi baru
Energi untuk melatiku

Memberi spirit baru
Melepas lelah itu
Letih hati itu
Kini t'lah berlalu

Ini untukmu
Kau beri ruang di hati
Ku letakkan sebuah batu
Yang di situ, kita kan ukir sebuah kisah
Bukan imajinasi, atau ilusi
Tapi ini intuisi
Bagaikan institusi yang menggores citra indah
Membangun cinta, membuang  sedih

Kini batu itu t'lah terukir kecil
Berharap jadi prasasti
Yang tertulis indah tentang kita

Dan aku, takkan membelah batu itu
Karena itu nyawaku
Yang takkan ku pindah
Ke halaman yang lebih indah
Karena ku tak mau,
Dan kau pun tak mau

Ku Petik Melati itu

Di antara semak-semak
Kaulah terindah
Tak bisa mengelak
Ku telah melihatmu

Membayang indah di otakku
Mengawal mimpi-mimpi baruku
Yang sekian ini t'lah lenyap dari tidurku

Mata hati memandangmu
Wahai melatiku
Mengapa engkau belum mekar juga
Mencemaskan imajinasiku

Tapi ku t'lah melangkah
Beberapa jengkal mendekatimu
Dan ku t'lah memetikmu
Ku bawa kau pulang bersama senyumku

Ku sirami dengan cintaku
Ku sinari dengan sayangku
Ku harap kau segera mekar
Menampakkan wajah indahmu

Melati

Coba untuk memahami
Bunga yang indah namun tersembunyi
Begitu wangi walau itu tak pasti

Bunga yang selalu memberi harapan
Akan indah esok hari
Membawa pesan penuh ekspresi
Membawa kesan penuh puisi

Kau datang bagai pelangi
Menghias indah setiap sudut
Sudut kehidupan
Tertampak di monitor ini

Hati yang bening
Selalu terpancar dalam gaya pesanmu
Membuat sejuk rasa sadarku
Memaksa bibir tersenyum senang

Kau adalah bunga yang belum mekar
Tertutup kelopak nan membuai hati
Sembunyikan mata indahmu
Sembunyikan senyum manismu

Ku harap kau mekar esok hari
Menampakkan warnamu yang indah
Menebar baumu yang wangi
Menarik senyum itu
Yang kau sembunyikan di balik monitor ini
Dan mengatakan
Akulah bunga melati itu

Di Pojokan Kelas itu

Hujan deras sekali
Melegakan dahaga bumi
Menutup rongga-rongga kematian
Menyeret tanah-tanah kering
Memaksa burung kecil mencari tempat sembunyi

Hujan deras sekali
Kenangan itu teringat lagi
Saat di pojok kelas yang menggigil
Melihat elok setiap gerak bibirmu

Hujan deras sekali
Ku ingin di pojokan kelas itu lagi
Rasakan hangat tubuhmu
Rasakan indah bersamamu

Hujan deras sekali
Memori ini sulit ku hapus
Saat ku peluk mesra tubuhmu
Di pojokan kelas itu

Hujan deras sekali
Meneteskan air kenangan
Yang menyaksikan cerita kita
Di pojokan kelas itu

Hujan deras sekali
Mengalirkan sebuah intuisi
Akan masa-masa indah itu
Di pojokan kelas
Kita bersembunyi

CerMin

Saat ku bercermin
Kau berikan bayangan hitam
Replika tentang hidup
Terasa terang, namun gelap membayang

Saat ku bercermin
Ada sesuatu yang hilang
Entah hal itu,
Mungkin aku sembunyikan

Saat ku bercermin
Ku takut melihat wajah ini
Ada yang kalut
Terpahat di kerut kening

Saat ku bercermin
Tak kusangka tampak ini
Memilukan rasa sadar
Menyimpan api merah

Saat ku bercermin
Ketampanan yang hampir sirna
Kejujuran yang terlalai
Menyelip di antara gigi coklat
Tergusur lidah yang tajam
Terkikis erosi air ludah

Saat ku bercermin
Mencoba mengusap noda
Namun, semakin sulit
Di antara keriput kulit

Saat ku bercermin
Kau tak berikan bayangan lagi
Kini kau telah pecah
Menjadi puing penyesalan
Menjadi siksa diri
Menghadap Illahi

Asa Yang Tertunda

Citra membayang di mata
Bagaikan flora yang beraneka
Begitu indah namun fana

Prolog hingga epilog yang elok
Bola pejal yang penuh makna
Tak hanya Ekspresi tapi juga Impresi
Bukan imitasi, tapi imajinasi

Benang kusut yang kini pecah
Begitu mudah, namun elusif
Ilusi tentang Cinta..
Seperti Virulen yang meracun raga

Kini ku gembira
Dalam intonasi yang tersendat-sendat
Separasi hati telah menjalar
Tak pernah mencoba untuk mengerti
Dan hanya menikmati
Asa yang tertunda

Hukum adalah Permainan

Detik-detik merangkak pergi
Dentuman dawai kini putus lagi
Obrolan gila itu telah sunyi
Namun menyisakan sejuta opini

Opini yang terus mengalir
Bahkan di dunia fiksi
Tentang suatu visi
Yang macet tergerus erosi
Hingga merusak supremasi

Lihat,
Sejarah menulis Reformasi
Perubahan yang mendengung
Kini tak terdengar lagi

Bohong,
Supremasi hukum itu hanya gaung anjing
Mustahil,
Hukum tidak membedakan
Gila,
Menyebut negara hukum

Hukum adalah permainan
Si kantong tebal juaranya
Si kantong kempes korbannya

Hukum dibuat untuk menindas
Dan korbannya kucing-kucing hitam
Yang tak mampu membayar hukum

Selamat Tinggal Desaku

(untuk ayah dan ibu di desa)

Saat berada nan jauh ku pergi
Ku merindukanmu
Ku rindukan sejuknya alam mu
Ku rindukan segarnya air sungai yang mengalir dari matamu

Desaku yang kucinta
Surga masa kecilku
Peredam emosiku
Yang menghembuskan angin kegembiraanku
Yang melukis dalam setiap pribadiku

Ketenanganmu membawa damai dalam hatiku
Kerja kerasmu membawa semangat dalam jiwaku
Keramahanmu sepertinya selalu terlukis dalam retina mataku
Kau takkan hilang dari imajinasiku

Tapi kini aku harus pergi
Biarkan kau menjadi lukisan indah sebelum tidurku
Gunung yang berada di kanan kiri ku, kini t'lah menjadi gedung-gedung yang tinggi
Sungaimu yang jernih, kini menghitam keruh
Bunga-bunga di pinggir jalan yang indah, kini t'lah berubah menjadi tumpukan sampah
Namun, inilah jalanku

Aku pergi untuk meraih citaku
Mengais ilmu di ibu kota
Berjuang, hanya karena ingin mencuri ilmu
Bertahan hanya demi harapan orang tuaku

Tersenyum Manis

Awal yang mengakhiri kebahagiaan
Akhir yang mengawali penderitaan
Kau tuntun aku dengan hasrat
Menaiki tebing curam
Menuruni jurang terjal

Hanya ingin mendengar
Nyanyian dalam hatimu
Hanya ingin bicara
Memecah kebisuan

Biarkan
Perih dalam hati yang senang
Perang dalam ego yang pasti
Terbangun dalam keresahan

Kau...
Hanguskan aku dalam es
Bekukan aku dalam bara api
Tenggelamkan aku tinggi-tinggi
Lemparkan aku dalam-dalam
Hidup terasa mati

Biarkan
Senyumu menyayat hati
Senangmu menyeret luka

Namun,
Setidaknya kau masih tersenyum manis

Friend Forever

Terbentuk suatu proses
Hidup yang tak bisa sendiri
Tak bisa berdiri tanpa akar
Tak bisa berdiri tanpa teman

Sosial yang unik
Berdiri atas sifat-sifat yang ego

Kau seperti hidung
Yang sombong dengan segala kelebihan

Kau seperti bulu hidung
Tempat kami sharing segala kepedihan

Kau adalah faring
Yang membuat kami terorganisasi

Kau adalah Laring
Yang banyak bicara dan membosankan

Kau seperti bronkus
Yang menyatukan kami dalam damai

Kau tak lain paru-paru
yang rentan dan perfeksionis

Kita adalah satu sistem
Mati tanpa teman
Namun,
Hidup tersa sulit
Dalam satu dan unik

Metagenesis Cinta

(sebuah puisi cinta)


Terlintas di ranah pikiranku
Tentang emosi hasrat bertalu-talu
Akan indah cinta bilang begitu

Menggeliat dan menusuk-tusuk
Mengiringi detak jantungku
Perlahan menutup mata hati
Bagaikan peristaltik di kerongkongan
yang kehausan menahan kering dan layu

Hingga akhirnya meraba-raba di otak
Terlihat indah kian membuai hati
Hingga akhirnya jatuh dan basah
Basah, basah, dan basah
Dalam tangis penyesalan

Sebelum Lelapku

Malam yang sunyi
Mata terbelalak sepi
Nyanyian jangkrik sayup-sayup menemani
Bagaikan simphoni
Yang menggugah jiwa yang layu
Untuk bangkit membawa emosi
Emosi yang kadang menggila
Terbawa dalam mimpi
Rasakan dunia fatamorgana

Desiran angin kering
Kini lembab kembali
Membawa sejuta mimpi
Menutup cerita hari ini

Hiruk pikuk suasana pagi pun menanti
Ada harapan akan hangatnya mentari
Terpancar dalam dinginnya mimpi
Meneteskan embun yang sejuk
Terbayang...
Merajut cerita esok hari

Kau Mulai Lagi (Nafsu dan Hati)

Malam.
Perang.
Terbang.
Kau mulai lagi
Genggam nafsuku
Bawa akalku pergi

Malam.
Perang.
Terbang.
Kau mulai lagi
Pesonamu sungguh estetis
Lekuk tubuhmu sungguh erotis

Malam.
Perang.
Terbang.
Kau mulai lagi
Bicaramu mendesah sunyi
Gayamu membikin ereksi

Kau mulai lagi
Menutup iman hati
Manggeser akal ini
Sejenak berada dalam panas
Keringat mengucur deras
Menambah elok di setiap sudut erotis

Ah...
Biarkan kita overlapping
Ya...
Agar pikiran tak pusing

Hidup Penuh Cinta

Saat satu cinta bersemi
Begitu cepat tumbuh lagi

Tak tahu datangnya angin
Berhembus begitu mesra
Indah... dan begitu rasanya
Berbunga-bunga di dalam jiwa

Biarlah ku jalani saja semua ini
Dua bahkan tiga cinta bersemi
Meski bisa menyakiti
Namun, ini soal hati
Tak bisa dicegah
Tak bisa dipaksa

Inikah rasanya cinta
Cinta kawula muda
Di sana-sini cinta bersemi

Bukan berarti playboy
Bukan berarti playgirl
Ini hidup remaja
Hidup penuh cinta

Mentari Pagi

Di ufuk timur desaku
Ketika surya perlahan menggiring malam
Membawa cahaya menggantikan selimut hitam

Melukis di antara awan
Menggores langit hingga menguning
Menembus celah dedaunan

Kedatanganmu ditunggu-tunggu
Untuk membuka jendela kehidupan
Meniupkan semangat segar setiap insan

Kau tegakkan dedaunan layu
Kau bangunkan mata terpejam
Menggiring burung-burung kecil untuk bernyanyi
Menggiring kelelawar untuk sembunyi

Kristal-kristal embun pun menyambut
Meneteskan kesejukan
Membawa senyum keindahan
Menorehkan tinta pada kertas putih

Copet

(puisi dari rakyat)

Copet...
Kemana-mana yang di incar dompet
Kalau ketahuan bisa mampus kau
Digebukin masa sampai mencret

Pencopet...
Seperguruan dengan si pejambret
Teman dekatnya perampok
Saudara sepupunya pencuri

Copet...
Tak hanya kelas teri
Tapi juga kelas kakap
Tak hanya dompet mini
Tapi juga dompet rakyat

Copet...
Kadang teriak copet
Tak sadar dirinya
pencopet
Bahkan lebih ngeri daripada penjambret

Pencopet...
Kemana-mana ya nyopet
Dijadikan wakil, ya wakil pencopet
Memang pantas disebut kampret

Dasar pencopet kelas kakap
Pintar nyuri perhatian rakyat
Pintar nyuri uang rakyat
Tampang kaya kutu kufret
Tak malu, kalau dibilang preet

Maaf ya preet...
Jangan tersinggung dengan ini
Ini hanyalah suara rakyat
Yang bosan dengan janji-janji manismu
Yang bosan dengan ketamakanmu
Yang merintih, dan terbelenggu dalam kemiskinan

Kapan kamu sadar Preet
Negara dalam keadaan keperet-peret
Jangan kau turuti nafsumu
Berjuanglah demi bumi pertiwi
Bebaskan matamu, dari mata duwitan
Bebaskan Indonesia dari pencopet

Pemerintah

Tersirat di hati rakyat
Intuisi tentang keinginan dan harapan
Karma menjelma dalam hidup
Wahai singa bangsa

Kau..... . . . . .
Yang tak kenal rakyat
Tak kenal keadilan
Tak kenal itu dosa
Tak kenal itu iman
Yang berkecimpung di lautan dollar

Buta . . . .
Hidup tak punya jiwa

Gelap . . . .
Mencuri ketika rakyat terlelap

Sunyi . . . .
Senyummu menentramkan hati, tapi...

Bohong . . . .
Bekerja untuk kantong

Bangsat . . . .
Bersenang di atas penderitaan rakyat

Tenggelam . . . .
Dalam kemewahan
Yang membawa kemiskinan di akhirat

Laknat...!!

(hanya sebuah rintihan rakyat)

Metamorfosis

(sebuah puisi kehidupan)


Dunia menyibak kesedihannya
Kegelapan t'lah menyelimuti lautan
Gila, gila & semua telah gila
Hanya burung yang berkicau indah

Bernyanyi di atas pohon padi
Hingga mencekik leher kering
Padi yang lezat dan kuning
Hingga bulu-bulu sayapnya berjatuhan

Esok tumbuh lagi
Gemerlap, indah dan cantik
Terbang di antara remang-remang cahaya
Berganti-ganti menawan hati

Sayang bulumu tak tumbuh lagi
Sekarang...
Sudah cukup tua untuk metamorfosis
Terlalu sulit hati ingin kembali
Karena jiwamu t'lah pergi
Binasa dalam kepuasan hidup

AngAn

Dinginnya malam
Membuat hati kecilku berangan
Dalam sedih
Dalam perih
Merintih...
Sakit yang tak terobati

Hatiku ingin bernyanyi
Apa daya dirinya telah meracuni
Menusuk hingga dalam jiwa
Yang tak pernah mati
Bersama mimpi

Anganku kembali
Berharap ingin memilikinya
Namun waktu tak mengizinkan
Waktu t'lah menjauhkan kita
Hingga aku kembali
Kembali...
Dalam ANGAN dan mimpi

(^terinspirasi oleh sakit hati & harapan cinta^)

TeKaD

(sebuah puisi kehidupan)


Tekad...
Bila tekadku sudah kuat
Tak satu pun bisa menghambat
'Kan ku pegang api panas-panas
'Kan ku genggam hingga padam
Dari dalam diriku

Bila tekadku sudah bulat
'Kan ku arungi samudra dalam-dalam
Berenang tanpa rintangan
Tak takut tenggelam
Dalam kesengsaraan
Dalam kemiskinan
'Kan ku lalui, walau pedih perih

Bila tekadku sudah mantap
'Kan ku daki gunung tinggi-tinggi
Demi meraih mimpi
Walaupun harus mati
Tapi aku tak takut pada diriku sendiri
Walau akan jatuh ke jurang
Tapi aku bisa terbang
Ku kepakkan sayapku lebar-lebar
Berjuang...
Sampai titik darah penghabisan