Hanya Diam

Aku hilang
Aku takut
Aku khawatir
Dalam cerita
Dalam canda
Dalam tidur yang lelap

Aku hanya diam
Membiarkan semua mengalir
Arus ini begitu deras
Namun aku tetap membendungnya
Aku adalah tembok raksasa
Yang menutup setiap pintu air suci
Dan kamu adalah muaranya

Di atas pohon
Burung pun tak berkicau lagi
Terlalu sibuk mencari melodi
Lagu indah mungkin terlalu membosankan
Hanya menyaksikan burung lain yang,
Menyanyikan lagu untukmu
Menarik senyum bibir indahmu

Bahkan nafas burung itu
Menghembus, terengah-engah
Tak memberi sisa nafas untuk pita ini
Membiarkan pita ini tetap kaku

Kabut Tebal

Kabut tebal selalu dalam pandanganku
Dalam jalan menuju rumah
Mungkin dibalik kabut ada mayat-mayat hidup
Yang siap menerkamku
Menginfeksi setiap sel ini
Hingga aku lupa akan rumahku

Mungkin juga dibalik kabut itu
Ada bidadari yang elok
Yang siap memelukku
Memberi indah dalam hidupku
Hingga aku lupa akan rumahku

Bahkan aku tak sampai-sampai
Hingga dingin melahap tubuh ini
Kaki ku pun selalu menginjak duri
Mataku pun mulai pedih
Ingin ku meniup kabut tebal ini
Namun nafas ini sudah tersengal-sengal

Oh tidak,
Ruas-ruas tanganku mulai putus
Satu persatu ku sambung lagi
Dan selalu berjatuhan, dan
Berantakan

Namun hatiku masih utuh
Denyut jantungku masih terdengar merdu
Masih ada sisa energi untuk menembus kabut
Hingga aku menemukanmu

Aku Masih Percaya Itu

Mengira kau adalah dewiku
Membuat ku memikirkanmu
Seakan menangkapmu saat kau terjatuh
Menangkap setiap butiran air matamu

Pikirku melayang
Mungkin aku sudah jatuh
Dalam permainanmu

Setiap apa yang kau bisik
Aku percaya itu
Setiap apa yang kau lihat
Aku percaya itu
Setiap apa yang kau dengar
Aku percaya itu
Dan aku masih percaya itu

Besok mungkin bulan tak seindah malam ini
Saat kau coba mengotak-atik
Apa yang di pikirku
Dan membalikkan pandanganku
Ke bintang itu
Yang jauh dan menghilang

Hatiku, Pikirku, Padamu

Bukan perasaan yang sering ku korbankan
Namun kemunafikan itu selalu menipuku
Kekecewaan bukan berarti musuh yang aku hindari
Kejujuran bukan selalu aku dekati
Munafik itu mungkin tuhan kalian
Tapi aku hanya orang yang benar
Benar-benar dalam kemunafikan

Sekarang, aku takkan malu
Karena malu adalah penyesalan
Hanya sekedar berbuat seperti apa yang dikata
Hatiku
Pikirku
Padamu

Tak bisa kupungkiri
Terus terang mungkin melegakan
Munafik itu menyakitkan
Menahan apa yang dikata
Hatiku
Pikirku
Padamu
Adalah menyakitkan
Adalah penyesalan

Munafik itu bukan strategi
Mencari cinta sejati
Berburu cinta sejati adalah
Mengungkapkan, apa yang dikata
Hatiku
Pikirku
Padamu
Bukan mendustainya

Aku adalah seburuk-buruknya manusia
Yang mencoba untuk selalu mengungkapkan
Apa yang dikata
Hatiku
Pikirku
Padamu
Meski tak seutuhnya
Semua akan jadi milikku
Karena mungkin Tuhan menciptakanmu bukan untukku
Dirinya bukan untukku
Apapun bukan untukku
Tapi Tuhan menciptakan
Apa yang dikata
Hatiku
Pikirku
Padamu
Adalah benar