Terhempaslah Aku

Saat kau memanggil
Aku sakit
Saat kau berbisik
Aku hancur
Saat kau bernafas
Aku terhempas
Aku yang hina

Aku adalah seonggok rongsokkan
Yang mencoba didaur ulang
Namun sayang wujud ini sudah terlalu hina
Sudah tak pantas di tata lagi
Hanya harapan-harapan kosong saja

Memang, intuisiku tak sekuat dulu
Saat-saat keyakinanku mendapatkanmu
Tapi,
Pikiran diskursif ini masih saja menujumu
Dan selalu menguatkan intuisiku

Kamuflase-kamuflase
Sering aku lakukan
Tapi, terhempaslah aku
Karena selalu berujung pada RaSa Hati-ku
Aku yang tak berwujud ini
Mencoba menjadi partikel-partikel kecil
Yang berusaha menyusun jantungmu
Menyusun bagian-bagian kecil hatimu

Namun sekarang
Detak jantungmu tak ku dengar lagi
Meski, aku terus memaksa untuk selalu mendengarnya
Hanya saja,
Tak cukup energiku untuk mewujudkan aku
Dan selalu, terhempaslah aku
Menjaga RaSa Hati-ku

Hapus Aku

Membaca pesanmu
Aku tak berbentuk lagi
Keindahan dunia tak dapat ku lihat lagi
Aku hilang dalam 
Aku terdampar
Ruas-ruas jari ini berjatuhan
Menulis hal indah pun tak sanggup lagi

Aku jatuh dalam

Awan yang kulihat selama ini
Kini gugur menjadi hujan

RaSa Hati-ku telah pergi

Aku yang tenggelam dan terus tenggelam
Dalam penyesalan
Memperbaiki pun tak sempat
RaSa Hati-ku telah hancur
Oleh tangan-tanganku sendiri
Pikirku sendiri

Hapus aku

Biar aku menjadi debu
Terombang-ambing dalam penantian
Yang mustahil aku berbentuk lagi

Hapus aku
Aku ingin menjadi gelombang
Yang berlari tiada henti
Meninggalkan kisah ini

Hapus aku
Biarkan RaSa Hati-ku tetap menjadi RaSa Hati-ku
Biarkan aku genggam debu-debu hatiku
Berlari dan terus berlari
Agar kau tak melihat bahwa air mata ini berjatuhan

Di Dasar Samudranya

Masih saja
Dalam kekakuanku
Aku tak mau menumpahkan air ludah ini
Tak sanggup aku
Menghentikan senyum-senyum manismu

Pernah aku bertanya
Pada kabut-kabut yang kelam
Tentang anggapanku
Anggapanmu
Bahkan anggapan yang lainnya
Tetap saja aku yang hitam
Lebih hitam dari kabut-kabut malam

Sekian kali aku membuka mata
Selalu terlihat rabun akan bunga mana yang paling indah
Kabut-kabut ini selalu menyelimuti mata batinku
Tangan-tangan pun tak sanggup memetik satu saja
Karena selalu kabur
Dan menghilang dari mataku

Aku tahu
Ini adalah tentang aku,
yang mangharapkanku
dan menunggunya.

Aku tahu
Aku yang mungkin menyiakanmu,
pikirmu.
Tapi aku juga tak mungkin menunggunya,
pikirku.
Sebongkah batu besar ini telah menutup jalanku
Hingga air-air ludah pun terbendung olehnya

Sungguh aku harus menyesal dengan ini
Sudah terlalu dalam kita menyelam di sungai ini
Bahkan dia melihatnya
Dan aku melihat dia dari dia
Yang semakin dalam pula menyelam di lautan

Tapi nafasku sudah habis olehmu
Dan aku butuh nafasnya olehnya
Dia dari dia mungkin sudah menghabiskan nafasnya
Aku tak peduli itu
Karena itu adalah nafas-nafas sesaat
Dan nafasku itu sudah lama
Dan akan terus lama
Hingga aku di dasar samudranya

Tulang Punggung

Aku ini
Begitu rendah
Begitu dihina
Begitu dilecehkan oleh tetangga

Tulang punggungku remuk
Terkontaminasi pikiran-pikiran tikus
Bertabiat layaknya kerbau berkubang
Dalam lumpur kebodohan
dan kesenangan sesaat

Hura-hura itulah aku
Hedonisme itu bajuku
Nepotisme itu nafasku
Kapitalisme itu dewasaku
Dan, Korupsi adalah darah dagingku

Kapan aku bisa menyusun kembali tulang-tulang punggungku
Kapan aku akan berjalan tegak lagi
Sungguh sedih aku, berdiri sebagai tubuh ini
Namun malu hanya dimiliki beberapa jari tanganku

Dan sering kali
Ketika aku jadi kepala, aku berkapala tikus
Ketika aku jadi dada, aku berdada kancil
Ketika aku jadi punggung, punggungku hilang
Punggungku hilang dalam dunia maya
Dalam dunia fatamorgana

Sungguh aku bersedih
Aku hanya seekor katak dalam tempurung
Aku dikendalikan
Aku dikendalikan
Aku dikendalikan
Tak bisa ku berdiri, di atas kakiku sendiri.

Seraut Wajah

Seraut wajah
Menarik mata-mata sadar
Akan indah seraut wajah
Menarik senyum bibir-bibir manis

Seraut wajah
Memaksa kepala menoleh
Demi melihat seraut wajah
Yang sejuk dan menyegarkan
Terkagum-kagum indah seraut wajah

Seraut wajah
Menarik tangan-tangan ini
Jari-jari kecil ini
Menulis indah
Tentang seraut wajah

Seraut wajah
Kau sampaikan keanggunanmu
Keramahanmu, Kesopananmu,
Hanya dengan senyum,
dalam seraut wajah

Lubang Hitam

Terjerambab dalam angan dan bayangan
Aku yang tak tentu arah
Mencoba melihat
Kegelapan selalu mengikuti
Bahkan menghadang

Malam ini
Aku serasa dalam fatamorgana
Desiran sejuk angin yang menerpa
Perlahan-lahan membawaku ke neraka kehidupan
Sungguh aku tak tentu arah
Aku jatuh
Aku bangun
Dan aku kuat berdiri lagi
Namun aku selalu terjerembab
Dan selalu bangkit

Aku adalah partikel-partikel
Yang terhambur dan berantakan
Aku di sini, di sana, dimana-mana
Terserah kamu yang menemukan
Aku tak peduli itu

Aku mencoba layaknya cahaya,
Menembus kegelapan.
Mengarungi luasnya semesta
Hingga tertumbuk lubang hitam
Dan aku jatuh di sana.
Dalam perjuangan yang tak ada habisnya
Aku berlari bagai gelombang
Melepas jeratan gravitas lubang hitam
Terus dan terus, walau aku bukan cahaya
Tapi keyakinan membawaku pergi menjauh
Lubang hitam kutinggalkan

Debu dan Api

Dikala aku menemuimu
Aku bagai debu dan bagai api
Aku debu yang siap menyelimuti hatimu dengan debu lembutku,
Perhatianku.
Aku juga api yang siap menghangatkan setiap lekuk tubuhmu,
Memelukmu.

Aku tahu aku api yang semakin panas
Aku tahu aku debu tanpa api, tertiuplah aku
Tapi kau sesekali jadi api
Dan aku hanya debu
Dan apakah karena aku debu dan kau api, hingga aku tak dapat menghidupkanmu?

Sampai suatu saat
Aku ingin aku debu yang menghidupkan api
Menjadi kewajiban atas perjuanganku
Berjalan di atas api memegang debu
Takkan terhambur debuku di atas api

Akulah api yang meninggalkan debu
Membiarkannya tertiup angin kecil
Yang membawanya tanpa alasan padamu
Sampai suatu saat
Akulah,
Bara-bara api takkan padam oleh debu, tapi bernafas dalam debu

Dalam kewajibanku padamu atas debuku