Tuhan Di Tanah Kami

Tuhan di tanah kami,
menjelma dalam setiap dimensi,
menggema di ruang-ruang hati.
Sebuah teriakan sunyi,
dalam, jauh, tak terbatas,
lalu kami berusaha membatasi.

Masih Mendengar

Kalau kau masih mendengar, inilah jiwaku, tempat aku meletakkan nyawa di atasnya. Dengan segala hormat dan sanjungan, aku persembahkan arloji kehidupanku pada lenganmu. Dan tak terkapar aku melihat ketika helaian sayapmu tak pernah jatuh di hadapku. Semacam duri yang aku tancapkan lebih dalam dari urat nadiku, lalu aku membiarkannya menyatu dalam daging yang meronta-ronta dalam kelupaanmu.

Selamat Pagi Tuhan

Pagi yang berembun
terasa lama ia mendinginkan,
lalu terlupa oleh sengatan panas mentari.
Kami pun segera berjalan beriringan,
dalam garis batas bumi dan langit,
di bawah lengkung cahaya keemasan mentari pagi.
Dimana kami terus berucap,

Merdeka atau Mati

MERDEKA...!!!
Sebuah teriakan yang menggema
Pekikan angin yang menjelma
Kata yang tak disertai makna
Karena rasa telah terhalau
Oleh angin-angin segar dari sebuah rekayasa

Arti Merdeka

Merdeka,
adalah kata,
yang lebih sering terdengar mendekati 17 Agustus.

Merdeka,
adalah kata ambigu,
ada yang bilang belum merdeka,
ada yang bilang sudah merdeka lalu mati.

Skeptis

Masih saja,
mengendus-endus cerita palsu yang aku buat,
sejak kekecewaan menghantuimu.
Skeptis,
dan lebih sering mendengar daripada berpikir logis.

Topeng-Topeng Emas

Aku lebih senang
Kamu datang membawa pisau
Lalu menikamku
Daripada kamu datang membawa senyum
Lalu mengambil hatiku

Untuk Apa Merdeka

Untuk apa merdeka.
Jika harga diri hanya semurah harga kondom.

Untuk apa merdeka.
Jika harga diri lebih rendah dari harga BBM bersubsidi.

Untuk apa merdeka.
Jika harga diri hanya dihargai sekilo daging sapi.

Di Balik Batu

Di balik batu
Ku temukan Tuhan
Bersama doa-doa yang melayang
Di antara bumi dan langit yang kelam.

Di balik batu
Kujumpai Tuhan
Tapi Ia diam
Seakan Ia begitu suci dalam sepinya waktu.

Tanah Kami Digerogoti

Tanah ini membentang,
di sejauh hamparan mata memandang.
Nan hijau tak bertepi,
di bawah lengkung langit yang eksotik.
Siapa yang tak senyum melihatnya?
Adalah orang yang dibalik senyumnya terpendam rasa ego.

Terlalu Pagi

Seperti bosan yang menepi
Lagi-lagi rikuh berbalut rindu
Seperti sajak yang jengah untuk dilantunkan
Karena masih terlalu pagi untuk berucap