Deretan Kata Tak Terbaca

Ada deretan kata
Yang penuh makna
Namun tak terbaca
Terselip di antara ribuan kalimat
Yang menyimpul di sudut bibir

Kebodohanku

Aku terlalu naif
Sebab aku beringsut
Mendekati kebodohan
Yang membahagiakanku
Yang menelanjangi senyumku

Bila Malam Menjelang, 2

Dalam kegelapan malam
Sebuah pekikan tangis yang mencekam
Menggema di seluruh penjuru

Cahaya api masih menyala-nyala
Berusaha menampakkan kebengisannya
Membakar tirai gelap yang menutupi langit malam

Sesudah Ini

Hilang sudah rasa yang memporak-porandakan jiwamu, jiwaku,
atau hanya sebuah kiasan yang merajut waktu sepi tiada henti.
Sebab hidup hanya menunggu mati,
menunggu waktu senja yang abadi.
Menunggu waktu dimana ucapan tak terdengar lagi,
hanya sebuah isakan tangis yang masih terdengar lirih
dan perlahan sayup, lalu pergi.
Menunggu waktu yang mana seribu tanya mencumbui ubun-ubun ini
dan dengan asyiknya menari-nari tanpa nada, tanpa bunyi.

Aku adalah Semut

Aku adalah semut.
Di jalan, terjal, perang, aku sembunyi.
Di lereng, licin, curam, aku berlari.
Di jurang, dalam, sunyi, aku bernyanyi.
Ditikam, derita, sedih, aku berdiri.
Sebuah makna yang ingin kudapati,
atau kesia-siaan yang tak berujung.
Kebahagiaan,

Tak Pernah Berhenti (RaSa Hatiku VII)

Aku tersenyum sepi bersama lantunan musik yang menerpa dinding-dinding kamar.
Adalah rekaan tentang wajahmu
yang membuat decit kipas angin bercerita sunyi.
Sementara detik jam dinding menungguku,
menghitung mundur layaknya bom akan meledak.
Aku yang enggan beranjak,
masih dalam spektrum yang sama dengan ronamu.
Walau aku terasing.

Masih dalam Mimpi

Apakah aku terlalu ingin melampaui mimpiku? Menerawang sampai terkelupas ujung-ujung sarafku? Ini adalah sebuah mimpi yang terperangkap dalam tidur. Membuat aku semakin nyenyak memikirkannya. Dan bangun dalam kemalasan. Bantal dan guling masih enggan untuk ditinggalkan.

Bias

Biasa saja
Membias kata-kata
Menghempasnya
Menghelanya
Menerpa jiwa-jiwa teguh
Yang biasanya
Membias dari rencana

Dosa dari Sebuah Kejujuran

Masih
Sering terdengar
Lantunan getaran merdu
Dari rongga jiwamu yang ingin pergi
Ternyata masih di sini
Sebuah ikatan membelit tanya
Akan dosa dari sebuah kejujuran

Kamu Kira

Sejak kamu menolak
Mengabaikan rasa sakitmu
Meninggalkan jiwamu
Tanpa dendam yang pantas aku dapatkan
Cukup membiarkan saja
Tetesan air hujan yang membasahi rambutmu
Tanpa merasa kedinginan
Dan tanpa perlu payung yang meneduhkan