Si Anjing Pintar

Ada anjing pintar
Tetapi tak sepintar tuannya
Taringnya tajam
Bagai bilah pisau yang mecerucup dari rahangnya
Tetapi taring tuannya lebih tajam
Dalam senyum yang menyeringai
Menebar roda-roda opini
Menggilas beberapa semut hitam

Ketidakpastian yang Aku Tunggu

Terdengar degup jantung ketidakpastian,
menunggu sebuah suara yang enggan merintih.

Namun tetap saja terselip tanya
"Baikkah kau di sana?”
“Masihkah kakimu berdiri tegak?”
“Atau telah roboh diterjang badai?"

Tebal

Segala yang tertulis
Tak pernah tampak oleh kasat mata
Hanya sebuah cerita yang tersirat
Di sela-sela kisah hidup yang lain
Di sela-sela canda tawa yang lain
Adalah sedih yang menghunjam
Menulisnya setiap hari

Sebaiknya Kau Turun

Wahai elang yang terkekang
Adakah kebodohan menyelimutimu
Hingga kau terus terbang
Mengepakkan sayap dengan bangganya
Dan terus memekikkan suara-suara lantang
Tentang dunia yang kau perbaiki

Pagi Ini Alarm Terlalu Cepat Berbunyi

Pagi ini alarm terlalu cepat berbunyi
Menggantikan suara-suara dengkuran

Apa gerangan yang terjadi?
Di saat shubuh masih dalam antrean
Mimpi

Gumpalan Kata


Ada yang tercekat di leherku
Seperti kata, frasa, yang tak tahu dosa
Mungkin takkan terucap melalui nada
Selamanya

Sebab, itulah aku
Bergumul dalam sebuah harapan hampa
Menerpa badai yang kian agam
Menahan mata mengerjap sendu

Sedang jiwaku terkelapai
Mencegah asa...
Merajut lupa...

Terkekang

Apa jadinya bila aku bicara
Tentang sebuah senyuman menarik mata
Tentang hati yang terlanjur merasa
Kekalutan namun bahagia

Untuk Apa

Untuk apa aku berdiri
Jika hanya menunggumu pergi

Untuk apa aku berhenti
Jika hanya menunggumu lari

Untuk apa aku meneduh lagi
Jika hujan telah membasahi