Showing posts with label 100 Hari Mencari Tuhan. Show all posts
Showing posts with label 100 Hari Mencari Tuhan. Show all posts

Sang Pelupa

Kita adalah sang pelupa
Yang sengaja dilupakan
Dari ingatan tentang surga
Dari ingatan tentang neraka
Dari ingatan tentang jiwa

Sesudah Ini

Hilang sudah rasa yang memporak-porandakan jiwamu, jiwaku,
atau hanya sebuah kiasan yang merajut waktu sepi tiada henti.
Sebab hidup hanya menunggu mati,
menunggu waktu senja yang abadi.
Menunggu waktu dimana ucapan tak terdengar lagi,
hanya sebuah isakan tangis yang masih terdengar lirih
dan perlahan sayup, lalu pergi.
Menunggu waktu yang mana seribu tanya mencumbui ubun-ubun ini
dan dengan asyiknya menari-nari tanpa nada, tanpa bunyi.

Si Pena Sesat

Sepotong kertas, dan sebuah pena
Memberi ruh bejana kosong
Meniup api lilin temaram
Melukis langit yang semakin muram

Satu hal dari yang pasti,
adalah kepastian dari yang tidak pasti

Tuhan Di Tanah Kami

Tuhan di tanah kami,
menjelma dalam setiap dimensi,
menggema di ruang-ruang hati.
Sebuah teriakan sunyi,
dalam, jauh, tak terbatas,
lalu kami berusaha membatasi.

Selamat Pagi Tuhan

Pagi yang berembun
terasa lama ia mendinginkan,
lalu terlupa oleh sengatan panas mentari.
Kami pun segera berjalan beriringan,
dalam garis batas bumi dan langit,
di bawah lengkung cahaya keemasan mentari pagi.
Dimana kami terus berucap,

Di Balik Batu

Di balik batu
Ku temukan Tuhan
Bersama doa-doa yang melayang
Di antara bumi dan langit yang kelam.

Di balik batu
Kujumpai Tuhan
Tapi Ia diam
Seakan Ia begitu suci dalam sepinya waktu.