Showing posts with label Alam. Show all posts
Showing posts with label Alam. Show all posts

Tanah Kami Digerogoti

Saturday, August 3, 2013
Tanah ini membentang,
di sejauh hamparan mata memandang.
Nan hijau tak bertepi,
di bawah lengkung langit yang eksotik.
Siapa yang tak senyum melihatnya?
Adalah orang yang dibalik senyumnya terpendam rasa ego.

Filosofi Hujan

Sunday, November 25, 2012
Dan hujan pun menghentikan
Dalam kerumunan cara berfikir
Dalam setiap mulut yang berkata
Di saat semua rasa dalam kebimbimbangan
Sungguh sebuah kesedihan yang mendalam
Ketika mulut teralalu cepat membuka
Lidah yang begitu cepat menukik-nukik dalam
Derasnya air ludah
Dan tanpa memaknai dengan jiwa

Hujan pun semakin deras
Kebimbangan semakin menderu jiwa
Namun, dalam hati yang menyendiri,
Tentu merasa
Ke-akuan ini telah membawa kabut,
Menutup mata,
Hingga tak terlihat senyum indah,
Orang-orang yang menengadah
Hujan datang.
Yang terlihat hanya,
Seonggokan orang-orang yang mencela
Hujan datang.

Mungkin, hujan akan berhenti
Secepat Tuhan menghentikan nafas dalam tenggorokkan
Sesakit radang, dalam kerongkongan
Tapi lambungmu masih terus berdoa
Berharap hujan masih sampai di dasarnya
Dan usus-ususmu pun masih menangis
Karena hujan tak kunjung turun
Air-air kental tak kunjung datang

Dan apakah engkau ingin hujan segera reda?
Dengarkan bisikan lambungmu.
Dengarkan tangisan ususmu.

Mentari Pagi

Sunday, May 29, 2011
Di ufuk timur desaku
Ketika surya perlahan menggiring malam
Membawa cahaya menggantikan selimut hitam

Melukis di antara awan
Menggores langit hingga menguning
Menembus celah dedaunan

Kedatanganmu ditunggu-tunggu
Untuk membuka jendela kehidupan
Meniupkan semangat segar setiap insan

Kau tegakkan dedaunan layu
Kau bangunkan mata terpejam
Menggiring burung-burung kecil untuk bernyanyi
Menggiring kelelawar untuk sembunyi

Kristal-kristal embun pun menyambut
Meneteskan kesejukan
Membawa senyum keindahan
Menorehkan tinta pada kertas putih