Showing posts with label Logika. Show all posts
Showing posts with label Logika. Show all posts

Setetes Air Mani

Tuesday, June 27, 2017
Dari setetes air mani aku terjadi
begerak melesat tak takut mati
mencari jiwa setengah lagi
kutemui ia di dalam tuba fallopi
aku menang sebab naluri.

Apalah Jadinya

Sunday, February 12, 2017
Apalah jadinya
jika kau sudah terapung
di bantaran sungai itu hidupmu menggantung
berkecimpung dalam sampah dan air kotor sungai ciliwung,
lalu,
ada yang ingin membuatkan rumah apung
padahal undang-undang tidak mendukung
hanya ingin cari suara banyak dengan menikung

Tuhanku telah Mati

Tuhanku telah mati
sejak aku membelanya
sejak aku tak terima ketika Ia dihina
sejak Ia tak punya daya
menghukum mereka yang menghina.

Gema dari Bukit Hambalang

Tuesday, March 22, 2016
Dibalik rumput ilalang
Kemegahan akan kegagalan menjulang
Sisa-sisa proyek tuan
Yang biasa baper main twitter-an

Aku adalah Semut

Saturday, May 17, 2014
Aku adalah semut.
Di jalan, terjal, perang, aku sembunyi.
Di lereng, licin, curam, aku berlari.
Di jurang, dalam, sunyi, aku bernyanyi.
Ditikam, derita, sedih, aku berdiri.
Sebuah makna yang ingin kudapati,
atau kesia-siaan yang tak berujung.
Kebahagiaan,

Bila Kosong Itu Isi

Monday, September 23, 2013
Kosong bilang isi, isi bilang kosong.
Bila kosong itu isi, bukankah isi itu hanyalah kosong.
Mungkin lebih baik mengisi kekosongan atau mengosongkan yang isi.
Lalu kosong-kosong isi, dan isi-isi kosong.
Sebuah kosong memang memenuhi sebuahnya lagi yang isi.

Masih Mendengar

Wednesday, August 28, 2013
Kalau kau masih mendengar, inilah jiwaku, tempat aku meletakkan nyawa di atasnya. Dengan segala hormat dan sanjungan, aku persembahkan arloji kehidupanku pada lenganmu. Dan tak terkapar aku melihat ketika helaian sayapmu tak pernah jatuh di hadapku. Semacam duri yang aku tancapkan lebih dalam dari urat nadiku, lalu aku membiarkannya menyatu dalam daging yang meronta-ronta dalam kelupaanmu.

PR ku 3 Buah Soal

Sunday, July 21, 2013
Aku punya PR, ada 3 buah soal,
lumayan susah, sesusah menangkap tikus di dalam sangkar.
Dan parahnya lagi,
setiap hendak menyentuhnya malas pun menjangkiti seluruh tubuh,
aku lebih suka menghitung uang.
Waktuku hanya untuk menghitung uang,

Sang Kala

Wednesday, July 10, 2013
Dan demi senja yang merindukan pagi
Aku melangkah ke gelapan malam
Yang entah masih adakah harapan akan esok pagi
Masihkah akan melihat senyummu ?
Yang merekah di antara dua bukit kemenangan pagi

Di Saat

Saturday, March 16, 2013
Di saat hujan merindukan kemarau
Di saat air merindukan api
Di saat datang merindukan pergi
Di saat dekat merindukan jauh
Di saat-saat menanti saat

Karya Abadi

Thursday, January 24, 2013
Di saat embun tak menetes
Dan angin tak mau terbang lagi
Gundah mengganggu hati.
Berceceran pula
Potongan-potongan kertas
Di sana tertulis tentang rasa haus

Kopi Hitam yang Manis dan Tumpah

Wednesday, December 19, 2012
Membusuk juga bibirmu
Dalam keagungan kata-kata
Bersemayam jiwa-jiwa serakah
Menyuguhkan beberapa gelas kopi yg manis
Di atas meja emasmu
Berserakan pula di sana buah-buah yg ranum

Sajak Tak Berarah

Tuesday, December 18, 2012
Jika sajak melampaui mataku
Takkan aku melihat lagi
Buta akan penindasan
Buta akan kerusuhan
Aku sembunyi dalam karya

Kisah Menyambut Senja

Monday, December 17, 2012
Sore yang begitu terik
Segera menidurkan mentari
Dalam sayup-sayup cahayanya
Mengintip di antara kawanan mega

Yang Biasanya

Sunday, December 16, 2012
Tuhan...
Aku ingin menjadi aku yang biasanya
Merasakan apa yang biasanya
Berpikir seperti apa yang biasanya
Berada di jalan yang biasanya

Bermuka Dua

Dalam kebinasaan rasa ini,
Masih terlalu indah harapan untuk diperjuangkan
Yang harus adalah yang tak harus,
Hanya bisa menyambut mentari pagi
Dengan penuh kenistaan

Tuhan

Friday, December 14, 2012

Apa yang menjadi titahnya
Adalah hidup dalam sederhana
Dalam bait-bait derita
Namun bermakna

Apakah kau temukan tuhan dalam hatimu?,
Ataukah kau menuhankanmu sendiri?.

Tuhan Telah Mati

Saturday, December 1, 2012

Nafas-nafas yang berhembus
Berpikir Tuhan akan menolong
Mencabut kerisauan
Menyapu debu hati
Sayang Tuhan telah mati

Yang paling sempurna
Adalah wujud yang paling bodoh
Dari yang sempurna
Menemui-Nya dalam ketololan
Menengadah dengan kelupaan

Tuhan telah mati
Sejak Dia takdirkan kebodohan
Memuja-Nya dalam penuh rasa
Yang membiru,
Meng-aku-kan menjadi benar

Tuhan telah mati
Bersama lantunan lagu-lagu indah
Dan terus bercerita
Tentang kebodohan
Tentang pengorbanan
Berakar pada hati yang paling kosong
Memenuhi ubun-ubun
Menyumbat saraf-saraf yang jujur

Tuhanmu Ingkar

Wednesday, November 28, 2012
Jalanmu yang begitu lurus
Dalam pandangan tak terbuai
Keheningan hatimu
Kerendahanmu, tak kan disombongkan
Dengan keduniaan
Hanya, satu jalan yang penuh kenikmatan
Berjalan seiring penderitaan dan cobaan
Hatimu dalam ikhlas.

Kepelikan apa yang mengurungmu
Pada nyatanya
Hingga kau tak melihat
Kekacauan pada jalanmu
Yang sebenarnya telah bercabang-cabang
Menderitakanmu

Lihatlah pada jalanmu
Endapkan segala kemunafikan
Rasakan,
Ada cahaya yang merisaukan hati
Dalam ketidak teraturannya
Yang indah dari mulut ke mulut

Ketuklah setiap pintu yang kau temui
Tanyakan pada mereka,
Dimana surga itu
Maka, dikata oleh mereka
Surga berada dalam hatimu
Ketika segalanya kau endapkan
Dan segalanya kau biarkan
Pada rasamu yang paling kosong
Kehampaanmu dari ingatanmu
Dan lihat,
Tuhanmu ingkar.

Air Surga-ku

Friday, August 31, 2012
Setiap pandangan matamu
Adalah warna yang berbeda
Begitu juga yang lainnya
Karena aku bukan emas yang disukai
Tapi aku batu hitam yang terbuang

Setiap sel sarafku memikirkanmu
Dan yang lainnya
Memikirkanku
Akan aku di matamu dan lainnya
Memberi cahaya yang mungkin menggelapkan
Bagimu, karena pikirmu tentang ku

Nantinya
Sedikit impuls pada sarafmu
Akan mengatakan padamu
Bahwa jalan pikiranku
Adalah air surgaku padamu
Dan pada yang lainnya

Aku hanya menunggu saat-saat itu
Saat pikirku habis,
Tapi takkan habis air surgaku mengaliri kerongkonganmu
Dan hatimu berkata,
"Aku butuh air surgamu"