Showing posts with label Moral. Show all posts
Showing posts with label Moral. Show all posts

Aku Hilang

Aku hilang dalam terang
menjemput jiwaku yang tenggelam
terperosok dalam jurang keramaian
tandailah aku
tandailah aku

Setetes Air Mani

Dari setetes air mani aku terjadi
begerak melesat tak takut mati
mencari jiwa setengah lagi
kutemui ia di dalam tuba fallopi
aku menang sebab naluri.

Kartini Masa Kini

Kau
Adalah Kartini,
tegak tubuhmu, melawan badai,
yang menerpa hatimu setiap hari,
yang menghunjam rasa sangat pedih.
Tetapi, kau tetap gigih berdiri.

Budak-budak Teknologi

Kita adalah budak-budak teknologi,
terjebak dalam jaringan yang tak ingat mati,
memuja postingan yang menyentuh hati,
mengutuk orang tanpa bersaksi.

Wahai Bangsaku

Wahai bangsaku yang terkenal ramah
Jangan ikuti amarahmu
Jangan ikuti nafsumu
Jangan perlihatkan bahwa atas nama iman
Atas nama Tuhan
Engkau berlaku anarki

Dunia adalah Penjara

Dunia adalah penjara
Memenjarakan pikiran sempit semata
Mengklasifikasikan manusia
Warna kulit, ras, suku, dan agama
Seperti telah,
Memisahkan jiwa dari rasa manusia
Mengotori jiwa dengan rasa benci ketika beda

Kepulan Asap

Di hari-hari lelah kemarin
Aku ingin teriak nyaring
Mengumpat segala hal yang tidak penting
Seperti lompat ke sungai kering

Aku benci hari kemarin
Dan juga hari ini
Sebab selalu ada hal yang membatasi

Selamat Pagi

Aku adalah pagi
Yang menjelma dalam dingin
Memeluk erat kemalasanmu
Bersama kantuk yang menjalu semangatmu
Kian waktu kian menggancu mimpi
Sampai habis waktu karyamu.

Jika Waktu Telah Usang

Jika waktu telah usang
Masihkah ada tersisa di hatimu?
Sebuah rasa kasih sayang
Atau hanya dendam yang membiru
Tersulut hati bila dikenang
Menyayat diri dengan sembilu

Sang Pelupa

Kita adalah sang pelupa
Yang sengaja dilupakan
Dari ingatan tentang surga
Dari ingatan tentang neraka
Dari ingatan tentang jiwa

Nyanyian Belalang

Surabaya memanas
Pergi saja ke Malang
Agar hatimu tenang
Dari risau kenangan
Sebuah kegagalan

Aku adalah Semut

Aku adalah semut.
Di jalan, terjal, perang, aku sembunyi.
Di lereng, licin, curam, aku berlari.
Di jurang, dalam, sunyi, aku bernyanyi.
Ditikam, derita, sedih, aku berdiri.
Sebuah makna yang ingin kudapati,
atau kesia-siaan yang tak berujung.
Kebahagiaan,

Masih dalam Mimpi

Apakah aku terlalu ingin melampaui mimpiku? Menerawang sampai terkelupas ujung-ujung sarafku? Ini adalah sebuah mimpi yang terperangkap dalam tidur. Membuat aku semakin nyenyak memikirkannya. Dan bangun dalam kemalasan. Bantal dan guling masih enggan untuk ditinggalkan.

Bila Kosong Itu Isi

Kosong bilang isi, isi bilang kosong.
Bila kosong itu isi, bukankah isi itu hanyalah kosong.
Mungkin lebih baik mengisi kekosongan atau mengosongkan yang isi.
Lalu kosong-kosong isi, dan isi-isi kosong.
Sebuah kosong memang memenuhi sebuahnya lagi yang isi.

Sanggama

Ketika pagi menjelang,
beranjak meninggalkan tempat tidurmu,
dan bersetubuh dalam genggaman cemas akan takdir hari ini.
Semangat yang nyaris tiada henti
mencumbui raga yang mengenyangkan perutmu.
Sedang jiwamu meronta,

Tamak

Di dunia mana lagi akan berpijak, jika tamak memenuhi hati.
Helaan nafas yang mengangkat kepala adalah kaki yang melumpuh.
Genggaman tangan yang merengkuh dunia tanpa ruh kesejukkan.
Segala mata enggan untuk bertatap, menoleh dengan liarnya.
Mati pun tak pantas sebagai pelarian.
Sebab air mata hanyalah bumbu-bumbu kemunafikan.

Topeng-Topeng Emas

Aku lebih senang
Kamu datang membawa pisau
Lalu menikamku
Daripada kamu datang membawa senyum
Lalu mengambil hatiku

Untuk Apa Merdeka

Untuk apa merdeka.
Jika harga diri hanya semurah harga kondom.

Untuk apa merdeka.
Jika harga diri lebih rendah dari harga BBM bersubsidi.

Untuk apa merdeka.
Jika harga diri hanya dihargai sekilo daging sapi.

Elegi di Kala Fajar Menyingsing

Pagi ini adalah saksi ketika tak ada alarm lagi berdering
mengucapkan selamat pagi.
Hanya saja detik jam terdengar lebih kencang,
yang biasanya jengah untuk menyuarakan suara sumbangnya.
Dan hati ini selalu luluh dalam peluh keangkuhan,

Rentan

Menapak kaki kaku dalam keakuan
Yang terasa aku dan semakin aku,
Menanti kaki-kaki lain mengikuti kakiku,
Menuju ruang kehampaanku.

Karena kau adalah kakiku