Showing posts with label Nasionalisme. Show all posts
Showing posts with label Nasionalisme. Show all posts

MERDEKA DALAM UTANG

Monday, August 14, 2017
Merdeka!
Pekikan yang menggema
di langit nusantara
di masa itu
di kala kita masih muda
waktu masih punya daya untuk bicara lantang
tentang benar
tentang keberanian
tentang kemandirian yang gagah

Kantong Mata

Wednesday, February 1, 2017
Selamat pagi kamu
wahai kantong mata yang makin menebal
kian hari kian mengekar
dan dengan egois menggusur tempat pipi tua itu
menambah sempit mata sayu itu
hingga memandang pun tak lagi terang
tertutup risau dan takut
pada kebenaran
pada keadilan
yang seharusnya waktu itu
kau tegakkan, kau jadikan Tuhan, bukan?

Wahai Bangsaku

Friday, November 4, 2016
Wahai bangsaku yang terkenal ramah
Jangan ikuti amarahmu
Jangan ikuti nafsumu
Jangan perlihatkan bahwa atas nama iman
Atas nama Tuhan
Engkau berlaku anarki

Oh Negeriku

Saturday, May 21, 2016
Oh negeriku,
Negeri yang kata orang sana
adalah negeri yang ramah,
tetapi kenapa?
kau menjadi garang dengan saudaramu sendiri
menjadi bengis pada tumpah darahmu sendiri
menjadi begal terhadap bangsamu sendiri
sikut-menyikut untuk kepentinganmu sendiri

Oh negeriku,
Kekonyolan apa yang sedang kau cari?
Tidakkah kau malu?
Bertingkah seperti sekumpulan anak kecil
Berebut mainan
Berebut perhatian

Oh negeriku,
kenapa mudah sekali kau dihasut dan diadu?
kenapa kau senang sekali tercerai berai?
Kenapa kau lebih senang berperang hanya karena perbedaan?
Kenapa?
......
Kenapa?
......

Yang Mulia

Monday, January 4, 2016
Yang Mulia
Kemuliaan yang seperti apa yang kalian lakukan
Kemuliaan apa yang membuat kalian disapa demikian
Lelucon macam apa sebenarnya ini
Bagimana bisa seorang pembantu tetapi menduduki kursi raja
Bagaimana bisa seorang pembantu lebih tinggi derajatnya
Otoriter dan absolut yang lebih halus, alih-alih demokrasi
Demokrasi yang tolol

Belum Ada Judul

Wednesday, November 27, 2013
Air yang membasahi tanah ini.
Kini tumbuh sekolompok rumput ilalang.
Bergumul dengan beberapa pohon padi,
menjepit akarnya hingga buahnya tak menunduk lagi.

Merdeka atau Mati

Tuesday, August 20, 2013
MERDEKA...!!!
Sebuah teriakan yang menggema
Pekikan angin yang menjelma
Kata yang tak disertai makna
Karena rasa telah terhalau
Oleh angin-angin segar dari sebuah rekayasa

Arti Merdeka

Merdeka,
adalah kata,
yang lebih sering terdengar mendekati 17 Agustus.

Merdeka,
adalah kata ambigu,
ada yang bilang belum merdeka,
ada yang bilang sudah merdeka lalu mati.

Untuk Apa Merdeka

Friday, August 16, 2013
Untuk apa merdeka.
Jika harga diri hanya semurah harga kondom.

Untuk apa merdeka.
Jika harga diri lebih rendah dari harga BBM bersubsidi.

Untuk apa merdeka.
Jika harga diri hanya dihargai sekilo daging sapi.

Tanah Kami Digerogoti

Saturday, August 3, 2013
Tanah ini membentang,
di sejauh hamparan mata memandang.
Nan hijau tak bertepi,
di bawah lengkung langit yang eksotik.
Siapa yang tak senyum melihatnya?
Adalah orang yang dibalik senyumnya terpendam rasa ego.

Kopi Hitam yang Manis dan Tumpah

Wednesday, December 19, 2012
Membusuk juga bibirmu
Dalam keagungan kata-kata
Bersemayam jiwa-jiwa serakah
Menyuguhkan beberapa gelas kopi yg manis
Di atas meja emasmu
Berserakan pula di sana buah-buah yg ranum

Bermuka Dua

Sunday, December 16, 2012
Dalam kebinasaan rasa ini,
Masih terlalu indah harapan untuk diperjuangkan
Yang harus adalah yang tak harus,
Hanya bisa menyambut mentari pagi
Dengan penuh kenistaan

Tulang Punggung

Thursday, September 20, 2012
Aku ini
Begitu rendah
Begitu dihina
Begitu dilecehkan oleh tetangga

Tulang punggungku remuk
Terkontaminasi pikiran-pikiran tikus
Bertabiat layaknya kerbau berkubang
Dalam lumpur kebodohan
dan kesenangan sesaat

Hura-hura itulah aku
Hedonisme itu bajuku
Nepotisme itu nafasku
Kapitalisme itu dewasaku
Dan, Korupsi adalah darah dagingku

Kapan aku bisa menyusun kembali tulang-tulang punggungku
Kapan aku akan berjalan tegak lagi
Sungguh sedih aku, berdiri sebagai tubuh ini
Namun malu hanya dimiliki beberapa jari tanganku

Dan sering kali
Ketika aku jadi kepala, aku berkapala tikus
Ketika aku jadi dada, aku berdada kancil
Ketika aku jadi punggung, punggungku hilang
Punggungku hilang dalam dunia maya
Dalam dunia fatamorgana

Sungguh aku bersedih
Aku hanya seekor katak dalam tempurung
Aku dikendalikan
Aku dikendalikan
Aku dikendalikan
Tak bisa ku berdiri, di atas kakiku sendiri.

Cacing - Cacing

Friday, June 10, 2011
Adalah sebab
Tak tertebak
Mengghalau asa
Menulis prosa
Tentang apa yang tak terasa

Ada juga maya
Semu tak bernyawa
Membalikkan rasa
Membayang hitam menutup hati
Mungkin tak terbenahi
Sampai kau temukan diri

Ini megah, warna warni
Retorika hidup yang menggembirakan hati
Semua serba judi
Tak ada kata suci

Kita sama-sama mati
Tak acuh dengan cacing-cacing malang
Melindas dengan sepatu janji
Sampai cacing-cacing itu menggeliat sakit
Di bawah terik
Berselimut dingin malam

Bahkan, iba tak tumbuh-tumbuh
Keserakahan menghentikan nadi
Mengalirkan darah pencuri
Mendetakkan jantung kesombongan

Garuda

Tuesday, May 31, 2011
Kini kau meradang
Bulu-bulumu tercabut hilang
Tak bisa terbang
Membawa bangsa ini menuju bintang

Kau sudah loyo
Kaki-kakimu yang kuat
Kini mulai rapuh
Tak mampu lagi menggenggam erat kebhinekaan

Tubuhmu yang dulu kekar
Matamu yang dulu tajam
Bulu-bulumu yang bersinar
Semua lenyap
Musnah
Bahkan, perisai di dadamu yang kokoh
Kini roboh oleh zaman

Garuda,
Kini kau simbol belaka
Sebuah patung tak bermakna
Disia-siakan, perjuanganmu dicibirkan

Jiwamu Hilang

Dulu kau diagungkan
Nilaimu ditinggikan
Refleksi dari pribadi
Bangsaku, negaraku

Sekian lama kau bersemayam
Dalam tubuh bangsa ini
Berharap menjadi jati diri
Tapi,
Tak kunjung jadi

Kini kau semakin hilang
Hanya semboyan di kemajuan zaman
Nilaimu tak hidup lagi
Hanya,
Sekedar frasa-frasa mati

Kau tercipta dari pengorbanan
Tapi hilang
Dalam kelalaian

Bangsaku kini bimbang
Berjalan tanpa pegangan
Mengarungi hidup kekacauan
Intoleransi, Eksklusifisme,
Liberalisme, Kapitalisme,
Invidualisme, Hedonisme
Telah menghapus jiwamu