Showing posts with label Percintaan. Show all posts
Showing posts with label Percintaan. Show all posts

Merindumu Sudah Sakau

Wednesday, August 16, 2017
Rasa ini jahat
Sebab ia telah terpahat
Pada hati yang takkan kuat
Menahan rindu yang pekat
Menunggu waktu yang enggan melesat
Aku, seperti sudah sekarat

Kekasih Dalam Penantian

Tuesday, February 12, 2013
Aku melihat harapan di matamu,
Namun, akan segera sirna di ujung rasa rindumu yang tak bertahta

Aku berada di dalam reruntuhan istana cintamu,
yang kau bangun begitu megah di hatimu.

Di Antara Hujan dan Badai

Thursday, February 7, 2013
Aku di antara hujan dan badai
Keduanya mengikuti hingga malam, dalam mimpi dan terjaga
Membangunkan di kala mentari sedang malas untuk tersenyum
Membawa keriuhan dalam hati yang sedang mati

Biar Saja

Saturday, January 5, 2013

Mencair sudah kebekuan ini
Dalam keheningan malam yang menggigil
Tatkala datang beberapa tulisan mungil
Yang dengan sombongnya
Menampak pada layar

Satu Langit Satu Hujan


(Rasa Hatiku V)


Masih dalam penantianku
Aku tak lelah dalam hancurnya harapan
Berdiri dalam kemustahilan
Tapi aku bisa terbang
Melayang-layang dalam bayangan

Rasa Hatiku IV

Monday, December 17, 2012
Aku merindumu
Ketika kau di pelukkanku
Bercerita tentang masa depan
Masa lalu…
Tentang cita-cita kita
Dalam hati yang senada

Hanya Diam

Sunday, July 29, 2012
Aku hilang
Aku takut
Aku khawatir
Dalam cerita
Dalam canda
Dalam tidur yang lelap

Aku hanya diam
Membiarkan semua mengalir
Arus ini begitu deras
Namun aku tetap membendungnya
Aku adalah tembok raksasa
Yang menutup setiap pintu air suci
Dan kamu adalah muaranya

Di atas pohon
Burung pun tak berkicau lagi
Terlalu sibuk mencari melodi
Lagu indah mungkin terlalu membosankan
Hanya menyaksikan burung lain yang,
Menyanyikan lagu untukmu
Menarik senyum bibir indahmu

Bahkan nafas burung itu
Menghembus, terengah-engah
Tak memberi sisa nafas untuk pita ini
Membiarkan pita ini tetap kaku

Aku Masih Percaya Itu

Sunday, July 22, 2012
Mengira kau adalah dewiku
Membuat ku memikirkanmu
Seakan menangkapmu saat kau terjatuh
Menangkap setiap butiran air matamu

Pikirku melayang
Mungkin aku sudah jatuh
Dalam permainanmu

Setiap apa yang kau bisik
Aku percaya itu
Setiap apa yang kau lihat
Aku percaya itu
Setiap apa yang kau dengar
Aku percaya itu
Dan aku masih percaya itu

Besok mungkin bulan tak seindah malam ini
Saat kau coba mengotak-atik
Apa yang di pikirku
Dan membalikkan pandanganku
Ke bintang itu
Yang jauh dan menghilang

Hatiku, Pikirku, Padamu

Tuesday, July 10, 2012
Bukan perasaan yang sering ku korbankan
Namun kemunafikan itu selalu menipuku
Kekecewaan bukan berarti musuh yang aku hindari
Kejujuran bukan selalu aku dekati
Munafik itu mungkin tuhan kalian
Tapi aku hanya orang yang benar
Benar-benar dalam kemunafikan

Sekarang, aku takkan malu
Karena malu adalah penyesalan
Hanya sekedar berbuat seperti apa yang dikata
Hatiku
Pikirku
Padamu

Tak bisa kupungkiri
Terus terang mungkin melegakan
Munafik itu menyakitkan
Menahan apa yang dikata
Hatiku
Pikirku
Padamu
Adalah menyakitkan
Adalah penyesalan

Munafik itu bukan strategi
Mencari cinta sejati
Berburu cinta sejati adalah
Mengungkapkan, apa yang dikata
Hatiku
Pikirku
Padamu
Bukan mendustainya

Aku adalah seburuk-buruknya manusia
Yang mencoba untuk selalu mengungkapkan
Apa yang dikata
Hatiku
Pikirku
Padamu
Meski tak seutuhnya
Semua akan jadi milikku
Karena mungkin Tuhan menciptakanmu bukan untukku
Dirinya bukan untukku
Apapun bukan untukku
Tapi Tuhan menciptakan
Apa yang dikata
Hatiku
Pikirku
Padamu
Adalah benar

RaSa Hati-ku

Saturday, June 2, 2012
Ku tengok setiap lorong keindahan dalam hatiku
Terlihat terang dan indah dalam memoriku
Masa lalu
Yang selama ini ingin dilupakan

Namun, apakah kau tahu RaSa Hati-ku
Bahwa selama ini aku rindu
Setiap hidup yang aku tuju
Selalu berakhir di ujung RaSa Hati-ku
Setiap cinta yang menghampiriku
Tak seindah bersama RaSa Hati-ku

Jika kau tahu RaSa Hati-ku
Penyesalan membuka mataku
Bahwa aku butuh kamu
Untuk hidupkan RaSa Hati-ku

Ku tahu, hatimu tak lagi satu
Aku pun juga tak satu
Namun, jika kau tahu RaSa Hati-ku
Ku rela menghapusnya
Dan kembali menulis cerita bersamamu

Ku sadar
Kau adalah melati pertama yang aku petik
Yang aku impikan
Dan selalu ku perjuangkan
Dan RaSa Hati-ku
Masih sama kuatnya seperti dulu
Meski, beribu gelombang menerjangku
Tak sekuat getaran cintaku padamu
Duhai RaSa Hati-ku

Pengkhianat Cinta

Monday, May 30, 2011
Tak sedikitpun tersisa
Melati yang indah
Kini jadi serigala pembual cerita
Seperti lonte penjual raga

Kini ku ambil lagi batu itu
Batu yang hampir terukir indah
Tapi kau remukkan dengan palu kepalsuan
Tak sudi ku labuhkan lagi
Dalam asamu
Dalam bualanmu, yang
Hanya ingin menggores luka
Bukan ukiran cinta

Dasar idiot
Bego
Ku beri cinta, kau balas nista

Kuakui
Narasimu sungguh indah
Seakan besar harapan cinta
Cinta yang kau buat opera
Sandiwara di atas panggung nyata
Menangis untuk dusta
Tertawa dalam kelicikan

Kau
Wanita jalang
Pencari cinta lelaki
Sekedar,
Penikmat nafsu birahi

Melatiku Cahayaku

Sunday, May 29, 2011
(Untuk yang Jauh di Mata)

Saat hati meradang perih
Kau datang membawa air
Air yang jernih, mengalir, mengusir kegundahan ini
Membunuh ragu ini
Membawaku ke lereng terjal
Untuk kembali ke jalan Illahi
Dan berharap jatuh di lembah surgawi

Saat lidah membeku kaku
Kau datang ucapkan salam
Kau tarik aku ke dalam track yang benar
Kembali menyebut nama_Nya

Saat mata tertutup debu hitam
Kau datang membawa lilin iman
Menerangiku ketika hilang
Menyadarkanku di persimpangan jalan,
Jalan menuju sebuah titik
Titik kesuksesan

Kau Cahayaku
Datang membawa nafas segar
Keharuman melati cinta
Yang menyejukkan dadaku
Menetralkan listrik cintaku

Melatiku,
Kau suntikkan darah segar di nadiku
Menguatkan detak jantungku
Menyeimbangkan Ph cintaku

Ya tuhan,
Jangan biarkan cahaya itu pergi
Biarkan aku slalu melihatnya
Biarkan aku slalu mendengarnya
Biarkan aku menjaganya
Biarkan cahaya itu ada,
dalam setiap sel tubuh ini

Dan bisa ku genggam
Sampai nanti
Sampai ku kembali
Menghadap_Mu,
Ke Surga_Mu
Bersama melatiku

Kado Untukmu

Waktu itu t'lah lewat
Berdentang , melangkah, dan pergi
Tapi aku datang
Membawa energi baru
Energi untuk melatiku

Memberi spirit baru
Melepas lelah itu
Letih hati itu
Kini t'lah berlalu

Ini untukmu
Kau beri ruang di hati
Ku letakkan sebuah batu
Yang di situ, kita kan ukir sebuah kisah
Bukan imajinasi, atau ilusi
Tapi ini intuisi
Bagaikan institusi yang menggores citra indah
Membangun cinta, membuang  sedih

Kini batu itu t'lah terukir kecil
Berharap jadi prasasti
Yang tertulis indah tentang kita

Dan aku, takkan membelah batu itu
Karena itu nyawaku
Yang takkan ku pindah
Ke halaman yang lebih indah
Karena ku tak mau,
Dan kau pun tak mau

Ku Petik Melati itu

Di antara semak-semak
Kaulah terindah
Tak bisa mengelak
Ku telah melihatmu

Membayang indah di otakku
Mengawal mimpi-mimpi baruku
Yang sekian ini t'lah lenyap dari tidurku

Mata hati memandangmu
Wahai melatiku
Mengapa engkau belum mekar juga
Mencemaskan imajinasiku

Tapi ku t'lah melangkah
Beberapa jengkal mendekatimu
Dan ku t'lah memetikmu
Ku bawa kau pulang bersama senyumku

Ku sirami dengan cintaku
Ku sinari dengan sayangku
Ku harap kau segera mekar
Menampakkan wajah indahmu

Melati

Coba untuk memahami
Bunga yang indah namun tersembunyi
Begitu wangi walau itu tak pasti

Bunga yang selalu memberi harapan
Akan indah esok hari
Membawa pesan penuh ekspresi
Membawa kesan penuh puisi

Kau datang bagai pelangi
Menghias indah setiap sudut
Sudut kehidupan
Tertampak di monitor ini

Hati yang bening
Selalu terpancar dalam gaya pesanmu
Membuat sejuk rasa sadarku
Memaksa bibir tersenyum senang

Kau adalah bunga yang belum mekar
Tertutup kelopak nan membuai hati
Sembunyikan mata indahmu
Sembunyikan senyum manismu

Ku harap kau mekar esok hari
Menampakkan warnamu yang indah
Menebar baumu yang wangi
Menarik senyum itu
Yang kau sembunyikan di balik monitor ini
Dan mengatakan
Akulah bunga melati itu

Di Pojokan Kelas itu

Hujan deras sekali
Melegakan dahaga bumi
Menutup rongga-rongga kematian
Menyeret tanah-tanah kering
Memaksa burung kecil mencari tempat sembunyi

Hujan deras sekali
Kenangan itu teringat lagi
Saat di pojok kelas yang menggigil
Melihat elok setiap gerak bibirmu

Hujan deras sekali
Ku ingin di pojokan kelas itu lagi
Rasakan hangat tubuhmu
Rasakan indah bersamamu

Hujan deras sekali
Memori ini sulit ku hapus
Saat ku peluk mesra tubuhmu
Di pojokan kelas itu

Hujan deras sekali
Meneteskan air kenangan
Yang menyaksikan cerita kita
Di pojokan kelas itu

Hujan deras sekali
Mengalirkan sebuah intuisi
Akan masa-masa indah itu
Di pojokan kelas
Kita bersembunyi

Tersenyum Manis

Awal yang mengakhiri kebahagiaan
Akhir yang mengawali penderitaan
Kau tuntun aku dengan hasrat
Menaiki tebing curam
Menuruni jurang terjal

Hanya ingin mendengar
Nyanyian dalam hatimu
Hanya ingin bicara
Memecah kebisuan

Biarkan
Perih dalam hati yang senang
Perang dalam ego yang pasti
Terbangun dalam keresahan

Kau...
Hanguskan aku dalam es
Bekukan aku dalam bara api
Tenggelamkan aku tinggi-tinggi
Lemparkan aku dalam-dalam
Hidup terasa mati

Biarkan
Senyumu menyayat hati
Senangmu menyeret luka

Namun,
Setidaknya kau masih tersenyum manis

Metagenesis Cinta

(sebuah puisi cinta)


Terlintas di ranah pikiranku
Tentang emosi hasrat bertalu-talu
Akan indah cinta bilang begitu

Menggeliat dan menusuk-tusuk
Mengiringi detak jantungku
Perlahan menutup mata hati
Bagaikan peristaltik di kerongkongan
yang kehausan menahan kering dan layu

Hingga akhirnya meraba-raba di otak
Terlihat indah kian membuai hati
Hingga akhirnya jatuh dan basah
Basah, basah, dan basah
Dalam tangis penyesalan

Hidup Penuh Cinta

Saat satu cinta bersemi
Begitu cepat tumbuh lagi

Tak tahu datangnya angin
Berhembus begitu mesra
Indah... dan begitu rasanya
Berbunga-bunga di dalam jiwa

Biarlah ku jalani saja semua ini
Dua bahkan tiga cinta bersemi
Meski bisa menyakiti
Namun, ini soal hati
Tak bisa dicegah
Tak bisa dipaksa

Inikah rasanya cinta
Cinta kawula muda
Di sana-sini cinta bersemi

Bukan berarti playboy
Bukan berarti playgirl
Ini hidup remaja
Hidup penuh cinta

AngAn

Dinginnya malam
Membuat hati kecilku berangan
Dalam sedih
Dalam perih
Merintih...
Sakit yang tak terobati

Hatiku ingin bernyanyi
Apa daya dirinya telah meracuni
Menusuk hingga dalam jiwa
Yang tak pernah mati
Bersama mimpi

Anganku kembali
Berharap ingin memilikinya
Namun waktu tak mengizinkan
Waktu t'lah menjauhkan kita
Hingga aku kembali
Kembali...
Dalam ANGAN dan mimpi

(^terinspirasi oleh sakit hati & harapan cinta^)