Showing posts with label Suara Hati. Show all posts
Showing posts with label Suara Hati. Show all posts

Seperti Puisi

Aku ingin mencintaimu seperti puisi
Yang bersembunyi dibalik kata
Yang indahnya tak terdefinisi
Yang tulusnya tanpa makna
Yang merdunya tanpa nyanyi
Cukup senda guraunya saja

Aku Ingin Seperti Robot

Aku ingin seperti robot
Yang bicara tak perlu ngotot
Yang melihat tanpa melotot
Yang berjalan tanpa otot
Sebab otot suka membelot

Kepulan Asap

Di hari-hari lelah kemarin
Aku ingin teriak nyaring
Mengumpat segala hal yang tidak penting
Seperti lompat ke sungai kering

Aku benci hari kemarin
Dan juga hari ini
Sebab selalu ada hal yang membatasi

Selamat Pagi

Aku adalah pagi
Yang menjelma dalam dingin
Memeluk erat kemalasanmu
Bersama kantuk yang menjalu semangatmu
Kian waktu kian menggancu mimpi
Sampai habis waktu karyamu.

Jika Waktu Telah Usang

Jika waktu telah usang
Masihkah ada tersisa di hatimu?
Sebuah rasa kasih sayang
Atau hanya dendam yang membiru
Tersulut hati bila dikenang
Menyayat diri dengan sembilu

Terjebak Luka

Hujan kini mereda
Diiringi luka yang kian merana
Menahan sakit yang tak terkira
Sebab hati tak pernah terima

Hujan di Akhir Februari

Entah kenapa
Sebuah rasa bercokol terlalu dalam
Menghunjam dan tersangkut
Menggelayut pada ranting rapuh
Lalu, terperosok dalam jurang bayang-bayang
Menjerembabkan suasana riang
Dalam sedih kerinduan

Tuhan, Tolong Jangan Beri Aku Itu

Sebuah tanda
Yang merisaukan jiwa
Menganggu rasa

Sebab kegelisahan membuka mata
Mencegah ia terlelap

Aku Ingin Pulang

Bukannya aku menyerah
Atau lari dari semua masalah
Tetapi aku hanya ingin pulang
Mengubur semua harapan
Agar aku tak terlalu bermimpi indah di kala tidur malam
Agar aku menyadari
Bahwa aku ingin pulang
Kembali ke suasana sejuk yang telah hilang
Kembali ke jalan terjal namun tentram

Ketidakpastian yang Aku Tunggu

Terdengar degup jantung ketidakpastian,
menunggu sebuah suara yang enggan merintih.

Namun tetap saja terselip tanya
"Baikkah kau di sana?”
“Masihkah kakimu berdiri tegak?”
“Atau telah roboh diterjang badai?"

Tebal

Segala yang tertulis
Tak pernah tampak oleh kasat mata
Hanya sebuah cerita yang tersirat
Di sela-sela kisah hidup yang lain
Di sela-sela canda tawa yang lain
Adalah sedih yang menghunjam
Menulisnya setiap hari

Gumpalan Kata


Ada yang tercekat di leherku
Seperti kata, frasa, yang tak tahu dosa
Mungkin takkan terucap melalui nada
Selamanya

Sebab, itulah aku
Bergumul dalam sebuah harapan hampa
Menerpa badai yang kian agam
Menahan mata mengerjap sendu

Sedang jiwaku terkelapai
Mencegah asa...
Merajut lupa...

Terkekang

Apa jadinya bila aku bicara
Tentang sebuah senyuman menarik mata
Tentang hati yang terlanjur merasa
Kekalutan namun bahagia

Untuk Apa

Untuk apa aku berdiri
Jika hanya menunggumu pergi

Untuk apa aku berhenti
Jika hanya menunggumu lari

Untuk apa aku meneduh lagi
Jika hujan telah membasahi

Deretan Kata Tak Terbaca

Ada deretan kata
Yang penuh makna
Namun tak terbaca
Terselip di antara ribuan kalimat
Yang menyimpul di sudut bibir

Kebodohanku

Aku terlalu naif
Sebab aku beringsut
Mendekati kebodohan
Yang membahagiakanku
Yang menelanjangi senyumku

Tak Pernah Berhenti (RaSa Hatiku VII)

Aku tersenyum sepi bersama lantunan musik yang menerpa dinding-dinding kamar.
Adalah rekaan tentang wajahmu
yang membuat decit kipas angin bercerita sunyi.
Sementara detik jam dinding menungguku,
menghitung mundur layaknya bom akan meledak.
Aku yang enggan beranjak,
masih dalam spektrum yang sama dengan ronamu.
Walau aku terasing.

Masih dalam Mimpi

Apakah aku terlalu ingin melampaui mimpiku? Menerawang sampai terkelupas ujung-ujung sarafku? Ini adalah sebuah mimpi yang terperangkap dalam tidur. Membuat aku semakin nyenyak memikirkannya. Dan bangun dalam kemalasan. Bantal dan guling masih enggan untuk ditinggalkan.

Bias

Biasa saja
Membias kata-kata
Menghempasnya
Menghelanya
Menerpa jiwa-jiwa teguh
Yang biasanya
Membias dari rencana

Kamu Kira

Sejak kamu menolak
Mengabaikan rasa sakitmu
Meninggalkan jiwamu
Tanpa dendam yang pantas aku dapatkan
Cukup membiarkan saja
Tetesan air hujan yang membasahi rambutmu
Tanpa merasa kedinginan
Dan tanpa perlu payung yang meneduhkan