Showing posts with label Lika-liku kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Lika-liku kehidupan. Show all posts

Di Dalam Kereta Jakarta-Purwakarta

Ke Purwakarta aku kembali
Kota yang teramat asing bagiku
Entah, mungkin karena baru sekali
Atau memang Tuhan menghendaki tujuan keretaku ke sana
Hingga dua kali kubaca tulisan di tiket kereta
Benar: Stasiun Purwakarta

Wahai Bangsaku

Wahai bangsaku yang terkenal ramah
Jangan ikuti amarahmu
Jangan ikuti nafsumu
Jangan perlihatkan bahwa atas nama iman
Atas nama Tuhan
Engkau berlaku anarki

Tuhan, Tolong Jangan Beri Aku Itu

Sebuah tanda
Yang merisaukan jiwa
Menganggu rasa

Sebab kegelisahan membuka mata
Mencegah ia terlelap

Aku Ingin Pulang

Bukannya aku menyerah
Atau lari dari semua masalah
Tetapi aku hanya ingin pulang
Mengubur semua harapan
Agar aku tak terlalu bermimpi indah di kala tidur malam
Agar aku menyadari
Bahwa aku ingin pulang
Kembali ke suasana sejuk yang telah hilang
Kembali ke jalan terjal namun tentram

Tebal

Segala yang tertulis
Tak pernah tampak oleh kasat mata
Hanya sebuah cerita yang tersirat
Di sela-sela kisah hidup yang lain
Di sela-sela canda tawa yang lain
Adalah sedih yang menghunjam
Menulisnya setiap hari

Gumpalan Kata


Ada yang tercekat di leherku
Seperti kata, frasa, yang tak tahu dosa
Mungkin takkan terucap melalui nada
Selamanya

Sebab, itulah aku
Bergumul dalam sebuah harapan hampa
Menerpa badai yang kian agam
Menahan mata mengerjap sendu

Sedang jiwaku terkelapai
Mencegah asa...
Merajut lupa...

Terkekang

Apa jadinya bila aku bicara
Tentang sebuah senyuman menarik mata
Tentang hati yang terlanjur merasa
Kekalutan namun bahagia

Masih dalam Mimpi

Apakah aku terlalu ingin melampaui mimpiku? Menerawang sampai terkelupas ujung-ujung sarafku? Ini adalah sebuah mimpi yang terperangkap dalam tidur. Membuat aku semakin nyenyak memikirkannya. Dan bangun dalam kemalasan. Bantal dan guling masih enggan untuk ditinggalkan.

Dosa dari Sebuah Kejujuran

Masih
Sering terdengar
Lantunan getaran merdu
Dari rongga jiwamu yang ingin pergi
Ternyata masih di sini
Sebuah ikatan membelit tanya
Akan dosa dari sebuah kejujuran

Belum Ada Judul

Air yang membasahi tanah ini.
Kini tumbuh sekolompok rumput ilalang.
Bergumul dengan beberapa pohon padi,
menjepit akarnya hingga buahnya tak menunduk lagi.

PR ku 3 Buah Soal

Aku punya PR, ada 3 buah soal,
lumayan susah, sesusah menangkap tikus di dalam sangkar.
Dan parahnya lagi,
setiap hendak menyentuhnya malas pun menjangkiti seluruh tubuh,
aku lebih suka menghitung uang.
Waktuku hanya untuk menghitung uang,

Derai Gerimis

Aku bukanlah malam yang berkabut itu,
yang kelamnya membawamu
dalam keangkuhan senyum rembulan.

Aku juga bukan langit yang bertabur bintang,
yang indahnya menertawakanmu,
padahal aku sendiri berlumuran papa.

Elegi di Kala Fajar Menyingsing

Pagi ini adalah saksi ketika tak ada alarm lagi berdering
mengucapkan selamat pagi.
Hanya saja detik jam terdengar lebih kencang,
yang biasanya jengah untuk menyuarakan suara sumbangnya.
Dan hati ini selalu luluh dalam peluh keangkuhan,

Kisah Menyambut Senja

Sore yang begitu terik
Segera menidurkan mentari
Dalam sayup-sayup cahayanya
Mengintip di antara kawanan mega

Lubang Hitam

Terjerambab dalam angan dan bayangan
Aku yang tak tentu arah
Mencoba melihat
Kegelapan selalu mengikuti
Bahkan menghadang

Malam ini
Aku serasa dalam fatamorgana
Desiran sejuk angin yang menerpa
Perlahan-lahan membawaku ke neraka kehidupan
Sungguh aku tak tentu arah
Aku jatuh
Aku bangun
Dan aku kuat berdiri lagi
Namun aku selalu terjerembab
Dan selalu bangkit

Aku adalah partikel-partikel
Yang terhambur dan berantakan
Aku di sini, di sana, dimana-mana
Terserah kamu yang menemukan
Aku tak peduli itu

Aku mencoba layaknya cahaya,
Menembus kegelapan.
Mengarungi luasnya semesta
Hingga tertumbuk lubang hitam
Dan aku jatuh di sana.
Dalam perjuangan yang tak ada habisnya
Aku berlari bagai gelombang
Melepas jeratan gravitas lubang hitam
Terus dan terus, walau aku bukan cahaya
Tapi keyakinan membawaku pergi menjauh
Lubang hitam kutinggalkan

Kabut Tebal

Kabut tebal selalu dalam pandanganku
Dalam jalan menuju rumah
Mungkin dibalik kabut ada mayat-mayat hidup
Yang siap menerkamku
Menginfeksi setiap sel ini
Hingga aku lupa akan rumahku

Mungkin juga dibalik kabut itu
Ada bidadari yang elok
Yang siap memelukku
Memberi indah dalam hidupku
Hingga aku lupa akan rumahku

Bahkan aku tak sampai-sampai
Hingga dingin melahap tubuh ini
Kaki ku pun selalu menginjak duri
Mataku pun mulai pedih
Ingin ku meniup kabut tebal ini
Namun nafas ini sudah tersengal-sengal

Oh tidak,
Ruas-ruas tanganku mulai putus
Satu persatu ku sambung lagi
Dan selalu berjatuhan, dan
Berantakan

Namun hatiku masih utuh
Denyut jantungku masih terdengar merdu
Masih ada sisa energi untuk menembus kabut
Hingga aku menemukanmu

Saat Lelahku

Aku lelah
Aku ingin bebas
Lepas dari semua tali perasaan ini
Yang kian hari makin menyayat hati

Aku lelah
Seperti pion-pion catur
Menunggu otak picik menggesernya
Lama, dan menyiksa batin
Dalam kurungan panci bertekanan

Aku lelah
Ingin berlari dari kebodohan ini
Dari tirani ini
Manipulasi hidup dari perasaan
Yang sebenarnya hampa
Tapi menutup semua lubang kesempatan

Aku lelah
Aku ingin ibuku ada
Mencium keningku ketika gundah
Mengokohkan lagi hati ini
Mengusap kering air mata ini
Ibu,
aku rindu

Relikui Kehidupanku

Alangkah baik jika aku berdiri
Mematahkan keraguan hati
Merangkai langkah yang pasti
Biarpun kaki ini tak berdiri tegak
Badan pun sempoyongan
Namun fikirku sudah terpatri
Dan bersiap untuk berlari

Ku berlari
Mengejar cinta sejati
Membuang ketakutan hati
Samurai di kanan, pistol di kiri
Menerjang semua penghalang

Semangatku tak padam-padam
Seperti api yang menyala-nyala
Meski diterjang air dingin
Aku tak kan beku
Diterjang badai api
Aku tak kan meleleh
Aku adalah energi
Yang tak pernah mati

Sampai aku hilang sinar
Dalam gelap aku memandang
Ragaku tak terasa lagi
Seakan ruh sudah pergi
Dan aku tak mau mati
Hatiku pun kembali
Menunutun dalam sejuknya iman
Sebuah lilin dalam gelap, gersang

Aku kembali
Menata lagi puing-puing harapan
Dan aku tak kan takut
Aku siap jatuh lagi

Potret Jakarta

Langkahmu gontai
Menyeret kaki derita
Mata yang kosong
Menatap kehampaan

Langkahmu lesu
Menggendong sarat beban
Tangan yang kotor
Menengadah dalam harapan

Suram,
Kabut hitam tak kunjung terang
Jalan batu tak kunjung aspal
Tebing curam tak kunjung landai
Awan pun tak segera menetes
Tak ada gerimis kehidupan

Malam ini tak bisa tidur
Hujan menderu deras
Kolong jembatan tak kasih kehangatan lagi
Merangkak-rangkak ku dalam kegelapan
Mencari kardus kusam
Berharap akan ada kehangatan

Sepintas terlihat gedung di seberang
Apartemen terlihat terang
Berhias lampu keemasan
Mungkin, disana Pak Bejo sedang tidur
Dibalik selimut tebal
Terlentang tanpa beban
Dikerumuni kupu malam
Lupa, yang dibawah kolong jembatan