Saat Lelahku

Aku lelah
Aku ingin bebas
Lepas dari semua tali perasaan ini
Yang kian hari makin menyayat hati

Aku lelah
Seperti pion-pion catur
Menunggu otak picik menggesernya
Lama, dan menyiksa batin
Dalam kurungan panci bertekanan

Aku lelah
Ingin berlari dari kebodohan ini
Dari tirani ini
Manipulasi hidup dari perasaan
Yang sebenarnya hampa
Tapi menutup semua lubang kesempatan

Aku lelah
Aku ingin ibuku ada
Mencium keningku ketika gundah
Mengokohkan lagi hati ini
Mengusap kering air mata ini
Ibu,
aku rindu

Relikui Kehidupanku

Alangkah baik jika aku berdiri
Mematahkan keraguan hati
Merangkai langkah yang pasti
Biarpun kaki ini tak berdiri tegak
Badan pun sempoyongan
Namun fikirku sudah terpatri
Dan bersiap untuk berlari

Ku berlari
Mengejar cinta sejati
Membuang ketakutan hati
Samurai di kanan, pistol di kiri
Menerjang semua penghalang

Semangatku tak padam-padam
Seperti api yang menyala-nyala
Meski diterjang air dingin
Aku tak kan beku
Diterjang badai api
Aku tak kan meleleh
Aku adalah energi
Yang tak pernah mati

Sampai aku hilang sinar
Dalam gelap aku memandang
Ragaku tak terasa lagi
Seakan ruh sudah pergi
Dan aku tak mau mati
Hatiku pun kembali
Menunutun dalam sejuknya iman
Sebuah lilin dalam gelap, gersang

Aku kembali
Menata lagi puing-puing harapan
Dan aku tak kan takut
Aku siap jatuh lagi

Jalan-Mu

Alunan nada yang melambai
Melantunkan syair indah

Ketika jiwa ini kering
Meradang panas tanpa iman
Kesejukan lantunan qur'an yang merindukan
Hati ingin meraihnya

Hari yang begitu lekas pergi
Tak sedikitpun tinta kebaikan
Tergores dalam kertas amal
Lalu,
Masihkah Tuhan memberi tangan-tangan dingin-Nya
Memberi salju penyejuk dan pengampunan

Betapa sombong diri ini
Melangkah di bumi ini dengan mendangak
Memamerkan bunga-bunga kekayaan
Gengsi yang begitu mencuat
Mengalahkan hasrat untuk mengingat-Nya

Dan ketika hati ini tersentuh
Kenapa tak ada daya untuk mengubahnya
Mengukir kembali mutiara iman
Tuhan,
Beri aku kekuatan untuk membunuh nafsuku
Menegakkan megahnya nama-Mu
Mengagungkan kebesaran-Mu
Kembali ke jalan-Mu

Lelap

Lelap
Adalah lalai
Maka sebut cintamu
Yang mengasihimu
Ketika kamu putih
Ketika kamu hitam
Bahkan abu-abu

Lelap
Adalah sesal
Maka bukalah urat sarafmu
Untuk menerima kenyataan
Menghela nafas yang besar
Dan melangkah tegap

Namun, Terbuai dalam lelap
Tidur yang sepi
Otakmu kosong
Jiwamu kering
Telingamu tuli
Tengok sekelilingmu, ketika
Semut-semut sudah memanggul gula dari gelasmu
Lalu apakah kau tetap menatap mukamu begitu saja

Cacing - Cacing

Adalah sebab
Tak tertebak
Mengghalau asa
Menulis prosa
Tentang apa yang tak terasa

Ada juga maya
Semu tak bernyawa
Membalikkan rasa
Membayang hitam menutup hati
Mungkin tak terbenahi
Sampai kau temukan diri

Ini megah, warna warni
Retorika hidup yang menggembirakan hati
Semua serba judi
Tak ada kata suci

Kita sama-sama mati
Tak acuh dengan cacing-cacing malang
Melindas dengan sepatu janji
Sampai cacing-cacing itu menggeliat sakit
Di bawah terik
Berselimut dingin malam

Bahkan, iba tak tumbuh-tumbuh
Keserakahan menghentikan nadi
Mengalirkan darah pencuri
Mendetakkan jantung kesombongan

Potret Jakarta

Langkahmu gontai
Menyeret kaki derita
Mata yang kosong
Menatap kehampaan

Langkahmu lesu
Menggendong sarat beban
Tangan yang kotor
Menengadah dalam harapan

Suram,
Kabut hitam tak kunjung terang
Jalan batu tak kunjung aspal
Tebing curam tak kunjung landai
Awan pun tak segera menetes
Tak ada gerimis kehidupan

Malam ini tak bisa tidur
Hujan menderu deras
Kolong jembatan tak kasih kehangatan lagi
Merangkak-rangkak ku dalam kegelapan
Mencari kardus kusam
Berharap akan ada kehangatan

Sepintas terlihat gedung di seberang
Apartemen terlihat terang
Berhias lampu keemasan
Mungkin, disana Pak Bejo sedang tidur
Dibalik selimut tebal
Terlentang tanpa beban
Dikerumuni kupu malam
Lupa, yang dibawah kolong jembatan

Garuda

Kini kau meradang
Bulu-bulumu tercabut hilang
Tak bisa terbang
Membawa bangsa ini menuju bintang

Kau sudah loyo
Kaki-kakimu yang kuat
Kini mulai rapuh
Tak mampu lagi menggenggam erat kebhinekaan

Tubuhmu yang dulu kekar
Matamu yang dulu tajam
Bulu-bulumu yang bersinar
Semua lenyap
Musnah
Bahkan, perisai di dadamu yang kokoh
Kini roboh oleh zaman

Garuda,
Kini kau simbol belaka
Sebuah patung tak bermakna
Disia-siakan, perjuanganmu dicibirkan