Kekasih yang Tak Terjangkau

Diksi-diksi indah pun tak dapat menjelaskan indahnya dirimu.
Sungguh, 
Aku terjebak dalam kata-kata dalam mengungkapkan indahnya dirimu.
Yang tak tersentuh.
Mungkin hanya melalui kematianlah aku mampu mewujudkanmu dalam benak ini.

Air dan Palu


Aku datang membawa tanah,
Kau bawakan aku air
Aku datang membawa batu,
Kau bawakan aku palu

Terkikislah sudah.
Hancurlah sudah.

Berdiri Di Atas Angin

Berdiri di atas angin
Menangkap air hujan
Berikan aku sebuah cangkir
Kutuang air selautan

Berdiri di atas angin
Melukis kata di muka awan
Hingga penaku usang
Beberapa huruf berjatuhan

Doa Para Pencopet


Dihajar aku dalam keganasan tangan-tangan besi
Yang membabi buta
Dalam ketidakadilan,
Dalam kemurkaan,
Kebencian yang begitu dalam
Tergores di setiap lekuk otakmu
Tentang kaumku,
Yang kecil dianggap besar

Biar Saja


Mencair sudah kebekuan ini
Dalam keheningan malam yang menggigil
Tatkala datang beberapa tulisan mungil
Yang dengan sombongnya
Menampak pada layar

Satu Langit Satu Hujan


(Rasa Hatiku V)


Masih dalam penantianku
Aku tak lelah dalam hancurnya harapan
Berdiri dalam kemustahilan
Tapi aku bisa terbang
Melayang-layang dalam bayangan

Pesan Ibu

Tak henti bibirmu berucap
Memberi batas-batas kasih sayang
ratusan kali,
ribuan kali,
tak terhitung lagi,
tak ada kebosanan.
Meluruskan kaki-kaki anakmu