Menjemput Kekasih

Aku bertemu denganmu kekasih,
di dalam garis yang tak pernah putus
dan selalu berkelok-kelok di tepian jurang keindahan
yang memisahkan jiwa & ragaku.

Suaramu yang mendesah-desah
memanggil
melalui kicauan burung
yang terbang mendekatiku,

Di Saat

Di saat hujan merindukan kemarau
Di saat air merindukan api
Di saat datang merindukan pergi
Di saat dekat merindukan jauh
Di saat-saat menanti saat

Kekasih Dalam Penantian

Aku melihat harapan di matamu,
Namun, akan segera sirna di ujung rasa rindumu yang tak bertahta

Aku berada di dalam reruntuhan istana cintamu,
yang kau bangun begitu megah di hatimu.

Di Antara Hujan dan Badai

Aku di antara hujan dan badai
Keduanya mengikuti hingga malam, dalam mimpi dan terjaga
Membangunkan di kala mentari sedang malas untuk tersenyum
Membawa keriuhan dalam hati yang sedang mati

Kau Pilih Dia

Pelangi yang indah itu kini tertiup angin kencang,
Riuh,
Kabut hitam menampak di segala pandang
Dan sepi menusuk-nusuk tulang
Mengiris-iris daging ini
Menghentikan setiap aliran darah di penghujung sel-sel kaku
Hanyalah, air mata yang masih mengalir deras

Karya Abadi

Di saat embun tak menetes
Dan angin tak mau terbang lagi
Gundah mengganggu hati.
Berceceran pula
Potongan-potongan kertas
Di sana tertulis tentang rasa haus

In The Dark And You’re The Light


I want, always find you in the dark and the light.
But I always in the dark and you're the light,
your eye burn me and blow the black dust.
And i'm running to confess, in a piece of peace.