Derai Gerimis

Aku bukanlah malam yang berkabut itu,
yang kelamnya membawamu
dalam keangkuhan senyum rembulan.

Aku juga bukan langit yang bertabur bintang,
yang indahnya menertawakanmu,
padahal aku sendiri berlumuran papa.

Elegi di Kala Fajar Menyingsing

Pagi ini adalah saksi ketika tak ada alarm lagi berdering
mengucapkan selamat pagi.
Hanya saja detik jam terdengar lebih kencang,
yang biasanya jengah untuk menyuarakan suara sumbangnya.
Dan hati ini selalu luluh dalam peluh keangkuhan,

Lentera Sunyi

Wahai malam yang merajai kegelapan,
izinkan aku mendekati lampion-lampionmu yang temaram.
Hanya ingin melihat bayanganku sendiri,
masih adakah ia? atau juga pergi bersama dia.
Hanya ingin mendekap bayanganku sendiri,
agar ia tak kedinginan, dan tak kesepian.

Tanya Bisu

Tidakkah kau lihat begitu banyak kiasan indah untukmu dalam puisi ku?
Namun kau selalu bertanya pada pagi tentang hari-hari lalu,
Sesejuk inikah pagi kemarin?
Matahari mana yang tak bangun bersama kepulan asap rokok?

Dialog Hujan Turun Lagi

A:
Hujan pun turun lagi

B:
Berteduh saja di hatiku agar tak kena hujan

A:
Bagaimana bisa aku berteduh?

Sang Kala

Dan demi senja yang merindukan pagi
Aku melangkah ke gelapan malam
Yang entah masih adakah harapan akan esok pagi
Masihkah akan melihat senyummu ?
Yang merekah di antara dua bukit kemenangan pagi

Senyum Senja

Ada kegelisahan
Yang menyelimuti hati
Menerka-nerka, cintamu hilang kekasih