Tak Ada Jera (RaSa Hatiku VI)

Apakah karena bisikkan anjing?
Yang mengendus-endus logikamu,
Membasahi hatimu dengan air liurnya,
Hingga kau skeptis
Menyulut kembali api yang telah lama padam
Mengingat lagi yang entah dari dasar pikirmu

Terbeku

Masihkah ada cahaya dalam gulita jiwaku?
Sementara tak ada lagi kelogisan dalam pikirmu.
Mendera aku dengan pisau-pisau
yang kau sendiri tak tahu dimana sisi tajamnya.
Aku hanya khawatir,

Bila Kosong Itu Isi

Kosong bilang isi, isi bilang kosong.
Bila kosong itu isi, bukankah isi itu hanyalah kosong.
Mungkin lebih baik mengisi kekosongan atau mengosongkan yang isi.
Lalu kosong-kosong isi, dan isi-isi kosong.
Sebuah kosong memang memenuhi sebuahnya lagi yang isi.

Sanggama

Ketika pagi menjelang,
beranjak meninggalkan tempat tidurmu,
dan bersetubuh dalam genggaman cemas akan takdir hari ini.
Semangat yang nyaris tiada henti
mencumbui raga yang mengenyangkan perutmu.
Sedang jiwamu meronta,

Tamak

Di dunia mana lagi akan berpijak, jika tamak memenuhi hati.
Helaan nafas yang mengangkat kepala adalah kaki yang melumpuh.
Genggaman tangan yang merengkuh dunia tanpa ruh kesejukkan.
Segala mata enggan untuk bertatap, menoleh dengan liarnya.
Mati pun tak pantas sebagai pelarian.
Sebab air mata hanyalah bumbu-bumbu kemunafikan.

Si Pena Sesat

Sepotong kertas, dan sebuah pena
Memberi ruh bejana kosong
Meniup api lilin temaram
Melukis langit yang semakin muram

Satu hal dari yang pasti,
adalah kepastian dari yang tidak pasti

Tuhan Di Tanah Kami

Tuhan di tanah kami,
menjelma dalam setiap dimensi,
menggema di ruang-ruang hati.
Sebuah teriakan sunyi,
dalam, jauh, tak terbatas,
lalu kami berusaha membatasi.