Masih dalam Mimpi

Apakah aku terlalu ingin melampaui mimpiku? Menerawang sampai terkelupas ujung-ujung sarafku? Ini adalah sebuah mimpi yang terperangkap dalam tidur. Membuat aku semakin nyenyak memikirkannya. Dan bangun dalam kemalasan. Bantal dan guling masih enggan untuk ditinggalkan.

Bias

Biasa saja
Membias kata-kata
Menghempasnya
Menghelanya
Menerpa jiwa-jiwa teguh
Yang biasanya
Membias dari rencana

Dosa dari Sebuah Kejujuran

Masih
Sering terdengar
Lantunan getaran merdu
Dari rongga jiwamu yang ingin pergi
Ternyata masih di sini
Sebuah ikatan membelit tanya
Akan dosa dari sebuah kejujuran

Kamu Kira

Sejak kamu menolak
Mengabaikan rasa sakitmu
Meninggalkan jiwamu
Tanpa dendam yang pantas aku dapatkan
Cukup membiarkan saja
Tetesan air hujan yang membasahi rambutmu
Tanpa merasa kedinginan
Dan tanpa perlu payung yang meneduhkan

Belum Ada Judul

Air yang membasahi tanah ini.
Kini tumbuh sekolompok rumput ilalang.
Bergumul dengan beberapa pohon padi,
menjepit akarnya hingga buahnya tak menunduk lagi.

Tak Ada Jera (RaSa Hatiku VI)

Apakah karena bisikkan anjing?
Yang mengendus-endus logikamu,
Membasahi hatimu dengan air liurnya,
Hingga kau skeptis
Menyulut kembali api yang telah lama padam
Mengingat lagi yang entah dari dasar pikirmu

Terbeku

Masihkah ada cahaya dalam gulita jiwaku?
Sementara tak ada lagi kelogisan dalam pikirmu.
Mendera aku dengan pisau-pisau
yang kau sendiri tak tahu dimana sisi tajamnya.
Aku hanya khawatir,