Langit Kelabu

Kutitipkan rinduku padamu
Pada langit kelabu
Sore itu
Saat hendak hujan menderu deras
Meniup angin menyibak hempas
Mengguncang pepohonan yang meranggas

Puisi dari Nenek Penjual Kerajinan Bambu

Di sinilah aku
Duduk bersama setumpuk harapan
Dan berselimut dalam kecemasan
Akan takdir yang hendak kuhadapi hari ini
Takdir yang tak mungkin mengubah status sosialku
Takdir yang selalu mengasingkanku

Selamat Pagi

Aku adalah pagi
Yang menjelma dalam dingin
Memeluk erat kemalasanmu
Bersama kantuk yang menjalu semangatmu
Kian waktu kian menggancu mimpi
Sampai habis waktu karyamu.

Topeng

Di belahan bumi mana kau berpijak
Di belahan bumi mana kau menapak
Di setiap senyum-senyum yang berpendar
Seolah membiaskan kebencian yang mengakar
Menjadikan sebuah topeng untukmu
Yang merampas rasa nyamanmu

Pada Suatu Ketika

Pada suatu ketika,
saat bosan bergelayut dalam hati dan pikirmu,
Di saat itulah waktu menghampakan ruang-ruang rindu,
menyisakan luka pilu.
Datang saja padanya
pada apa yang membuat kau gembira
pada apa yang membuat kau bahagia
atau hanya akan terjerembab di lubang sama.

Jika Waktu Telah Usang

Jika waktu telah usang
Masihkah ada tersisa di hatimu?
Sebuah rasa kasih sayang
Atau hanya dendam yang membiru
Tersulut hati bila dikenang
Menyayat diri dengan sembilu

Oh Negeriku

Oh negeriku,
Negeri yang kata orang sana
adalah negeri yang ramah,
tetapi kenapa?
kau menjadi garang dengan saudaramu sendiri
menjadi bengis pada tumpah darahmu sendiri
menjadi begal terhadap bangsamu sendiri
sikut-menyikut untuk kepentinganmu sendiri

Oh negeriku,
Kekonyolan apa yang sedang kau cari?
Tidakkah kau malu?
Bertingkah seperti sekumpulan anak kecil
Berebut mainan
Berebut perhatian

Oh negeriku,
kenapa mudah sekali kau dihasut dan diadu?
kenapa kau senang sekali tercerai berai?
Kenapa kau lebih senang berperang hanya karena perbedaan?
Kenapa?
......
Kenapa?
......