Sebatang Kaktus

Bilamana waktu terhenti lama
Terkenang rindu mendekap jiwa
Menjerit pula di dalam kalbu
Menahan rasa ingin bertemu
Entah, Desember ini seperti menunggu

Senja dan Rasa

Mengapa suka menatap senja
Apakah sebab indah tampaknya
Ataukah bisa melihat penciptanya
Adalah warna
Manifestasi dari rasa cinta
Yang menggores cakrawala

Wahai Ketua Umum Partai Golkar

Rasanya aku ingin berkata kasar
Sebab aku sudah gusar
Menyaksikan dramamu yang tak kunjung kelar
Kau anggap korupsimu hanya kelakar

Sebuah Argumen

Tak terasa kita pun hanyut,
tenggelam dalam rasa ego,
memenangkan kepuasan,
yang terkadang buas,
mencabik dan merobek sebuah ikatan.

Drama

Siang ini,
Mentari tak terasa teriknya,
Sebab terhalang oleh kokohnya genteng rumahmu.
Namun, ada rasa terik yang menggenting,
Meliputi seisi rumahmu,
Teriakkan yang meronta,
Sebenarnya mendefinisikan sedih.

Merindumu Sudah Sakau

Rasa ini jahat
Sebab ia telah terpahat
Pada hati yang takkan kuat
Menahan rindu yang pekat
Menunggu waktu yang enggan melesat
Aku, seperti sudah sekarat

MERDEKA DALAM UTANG

Merdeka!
Pekikan yang menggema
di langit nusantara
di masa itu
di kala kita masih muda
waktu masih punya daya untuk bicara lantang
tentang benar
tentang keberanian
tentang kemandirian yang gagah