Lelap

Lelap
Adalah lalai
Maka sebut cintamu
Yang mengasihimu
Ketika kamu putih
Ketika kamu hitam
Bahkan abu-abu

Lelap
Adalah sesal
Maka bukalah urat sarafmu
Untuk menerima kenyataan
Menghela nafas yang besar
Dan melangkah tegap

Namun, Terbuai dalam lelap
Tidur yang sepi
Otakmu kosong
Jiwamu kering
Telingamu tuli
Tengok sekelilingmu, ketika
Semut-semut sudah memanggul gula dari gelasmu
Lalu apakah kau tetap menatap mukamu begitu saja

Cacing - Cacing

Adalah sebab
Tak tertebak
Mengghalau asa
Menulis prosa
Tentang apa yang tak terasa

Ada juga maya
Semu tak bernyawa
Membalikkan rasa
Membayang hitam menutup hati
Mungkin tak terbenahi
Sampai kau temukan diri

Ini megah, warna warni
Retorika hidup yang menggembirakan hati
Semua serba judi
Tak ada kata suci

Kita sama-sama mati
Tak acuh dengan cacing-cacing malang
Melindas dengan sepatu janji
Sampai cacing-cacing itu menggeliat sakit
Di bawah terik
Berselimut dingin malam

Bahkan, iba tak tumbuh-tumbuh
Keserakahan menghentikan nadi
Mengalirkan darah pencuri
Mendetakkan jantung kesombongan

Potret Jakarta

Langkahmu gontai
Menyeret kaki derita
Mata yang kosong
Menatap kehampaan

Langkahmu lesu
Menggendong sarat beban
Tangan yang kotor
Menengadah dalam harapan

Suram,
Kabut hitam tak kunjung terang
Jalan batu tak kunjung aspal
Tebing curam tak kunjung landai
Awan pun tak segera menetes
Tak ada gerimis kehidupan

Malam ini tak bisa tidur
Hujan menderu deras
Kolong jembatan tak kasih kehangatan lagi
Merangkak-rangkak ku dalam kegelapan
Mencari kardus kusam
Berharap akan ada kehangatan

Sepintas terlihat gedung di seberang
Apartemen terlihat terang
Berhias lampu keemasan
Mungkin, disana Pak Bejo sedang tidur
Dibalik selimut tebal
Terlentang tanpa beban
Dikerumuni kupu malam
Lupa, yang dibawah kolong jembatan