Showing posts with label Alam. Show all posts
Showing posts with label Alam. Show all posts

18 August 2020

Sawah yang Hilang


Wahai negeriku yang agraris.

Seharusnya kau mulai menangis.

Sebab takut, lapar akan melanda tragis.


Negeri yang subur.

Tanahnya mudah ditandur.

Kini lambat laun meradang gersang.

Sawahmu hilang,

ditelan oleh zaman.

Digantikan tembok-tembok properti,

membatukan sawah, menyuburkan perumahan.


Kini,

di negeri tercinta ini.

Bisnis rumah telah menggantikan produksi beras.

Kisah petani sudah lama tergilas.

Sapi dan kerbau pun tak lagi membajak sawah,

sebab besi dan beton telah membajaknya.


Lucunya,

Pemerintah seperti linglung.

Membiarkan bisnis properti mendulang untung.

Merampas lahan petani dengan iming-iming uang.

Lalu, mencetak sawah baru katanya peluang.

Hanya saja,

Bukan untuk petani,

melainkan ladang uang bagi pemilik modal.


Negeriku, memang suka dagelan.



Jakarta, 18 Agustus 2020



Baca >>

31 May 2020

Waktu



Waktu

Adalah penjara abadi

Yang tak pernah kita sadari

Menahan wujud kita dalam dimensi searah

Memaksa kita menuju ke titik berikutnya

Dimana mustahil untuk kembali ke titik sebelumnya


Waktu

Mencegah kita mengintip hari esok

Mencegah kita mengacaukan masa lalu

Mengurung kita sekarang

Entah dalam penyesalan

Atau rencana-rencana khayalan


Wahai Tuan Waktu

Kami berserah padamu



Jakarta, 31 Mei 2020

Baca >>

09 March 2019

Senja di atas Langit Jakarta


Senja di Atas Langit Jakarta (Jakarta, 7 Januari 2017, Waktu Senja)

Jadilah indah seperti langit,
yang dalam sunyinya,
tak pernah berhenti menampakkan keindahannya di kala senja.
Baca >>

03 August 2013

Tanah Kami Digerogoti

Tanah ini membentang,
di sejauh hamparan mata memandang.
Nan hijau tak bertepi,
di bawah lengkung langit yang eksotik.
Siapa yang tak senyum melihatnya?
Adalah orang yang dibalik senyumnya terpendam rasa ego.
Baca >>

25 November 2012

Filosofi Hujan

Dan hujan pun menghentikan
Dalam kerumunan cara berfikir
Dalam setiap mulut yang berkata
Di saat semua rasa dalam kebimbimbangan
Sungguh sebuah kesedihan yang mendalam
Ketika mulut teralalu cepat membuka
Lidah yang begitu cepat menukik-nukik dalam
Derasnya air ludah
Dan tanpa memaknai dengan jiwa

Hujan pun semakin deras
Kebimbangan semakin menderu jiwa
Namun, dalam hati yang menyendiri,
Tentu merasa
Ke-akuan ini telah membawa kabut,
Menutup mata,
Hingga tak terlihat senyum indah,
Orang-orang yang menengadah
Hujan datang.
Yang terlihat hanya,
Seonggokan orang-orang yang mencela
Hujan datang.

Mungkin, hujan akan berhenti
Secepat Tuhan menghentikan nafas dalam tenggorokkan
Sesakit radang, dalam kerongkongan
Tapi lambungmu masih terus berdoa
Berharap hujan masih sampai di dasarnya
Dan usus-ususmu pun masih menangis
Karena hujan tak kunjung turun
Air-air kental tak kunjung datang

Dan apakah engkau ingin hujan segera reda?
Dengarkan bisikan lambungmu.
Dengarkan tangisan ususmu.
Baca >>

29 May 2011

Mentari Pagi

Di ufuk timur desaku
Ketika surya perlahan menggiring malam
Membawa cahaya menggantikan selimut hitam

Melukis di antara awan
Menggores langit hingga menguning
Menembus celah dedaunan

Kedatanganmu ditunggu-tunggu
Untuk membuka jendela kehidupan
Meniupkan semangat segar setiap insan

Kau tegakkan dedaunan layu
Kau bangunkan mata terpejam
Menggiring burung-burung kecil untuk bernyanyi
Menggiring kelelawar untuk sembunyi

Kristal-kristal embun pun menyambut
Meneteskan kesejukan
Membawa senyum keindahan
Menorehkan tinta pada kertas putih
Baca >>

© 2009 - Galeri Puisi, All Rights Reserved.

Designed by Galeri Puisi