Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Wahai Ketua Umum Partai Golkar

Rasanya aku ingin berkata kasar
Sebab aku sudah gusar
Menyaksikan dramamu yang tak kunjung kelar
Kau anggap korupsimu hanya kelakar

MERDEKA DALAM UTANG

Merdeka!
Pekikan yang menggema
di langit nusantara
di masa itu
di kala kita masih muda
waktu masih punya daya untuk bicara lantang
tentang benar
tentang keberanian
tentang kemandirian yang gagah

Jagoanku

Jagoanku,
Meskipun kalah
Jangan pernah patah,
Jangan pernah menyerah.

Apalah Jadinya

Apalah jadinya
jika kau sudah terapung
di bantaran sungai itu hidupmu menggantung
berkecimpung dalam sampah dan air kotor sungai ciliwung,
lalu,
ada yang ingin membuatkan rumah apung
padahal undang-undang tidak mendukung
hanya ingin cari suara banyak dengan menikung

Tuhanku telah Mati

Tuhanku telah mati
sejak aku membelanya
sejak aku tak terima ketika Ia dihina
sejak Ia tak punya daya
menghukum mereka yang menghina.

Kantong Mata

Selamat pagi kamu
wahai kantong mata yang makin menebal
kian hari kian mengekar
dan dengan egois menggusur tempat pipi tua itu
menambah sempit mata sayu itu
hingga memandang pun tak lagi terang
tertutup risau dan takut
pada kebenaran
pada keadilan
yang seharusnya waktu itu
kau tegakkan, kau jadikan Tuhan, bukan?

Adalah Singa

Adalah singa
Yang terpisah dari kawanannya
Atau singgasananya?
Menyendiri dalam durja
Terasing dalam ketidakberdayaannya

Adalah singa
Mencoba merengkuh lagi
Menampakkan kuku tajamnya lagi
Menampakkan taring besi
Agar para rusa tahu keberadaanya kini
Agar kawanan zebra segara berlari

Dan,

Wahai Bangsaku

Wahai bangsaku yang terkenal ramah
Jangan ikuti amarahmu
Jangan ikuti nafsumu
Jangan perlihatkan bahwa atas nama iman
Atas nama Tuhan
Engkau berlaku anarki

Puisi dari Nenek Penjual Kerajinan Bambu

Di sinilah aku
Duduk bersama setumpuk harapan
Dan berselimut dalam kecemasan
Akan takdir yang hendak kuhadapi hari ini
Takdir yang tak mungkin mengubah status sosialku
Takdir yang selalu mengasingkanku

Pion-Pion Yang Terbuang

Kita adalah pion-pion yang terbuang
Dikorbankan oleh sang tuan
Demi mendapat kemenangan
Dan menutupi kecurangan
Dalam senyum kepicikan

Nyanyian Belalang

Surabaya memanas
Pergi saja ke Malang
Agar hatimu tenang
Dari risau kenangan
Sebuah kegagalan

Gema dari Bukit Hambalang

Dibalik rumput ilalang
Kemegahan akan kegagalan menjulang
Sisa-sisa proyek tuan
Yang biasa baper main twitter-an

Yang Mulia

Yang Mulia
Kemuliaan yang seperti apa yang kalian lakukan
Kemuliaan apa yang membuat kalian disapa demikian
Lelucon macam apa sebenarnya ini
Bagimana bisa seorang pembantu tetapi menduduki kursi raja
Bagaimana bisa seorang pembantu lebih tinggi derajatnya
Otoriter dan absolut yang lebih halus, alih-alih demokrasi
Demokrasi yang tolol

Si Anjing Pintar

Ada anjing pintar
Tetapi tak sepintar tuannya
Taringnya tajam
Bagai bilah pisau yang mecerucup dari rahangnya
Tetapi taring tuannya lebih tajam
Dalam senyum yang menyeringai
Menebar roda-roda opini
Menggilas beberapa semut hitam

Sebaiknya Kau Turun

Wahai elang yang terkekang
Adakah kebodohan menyelimutimu
Hingga kau terus terbang
Mengepakkan sayap dengan bangganya
Dan terus memekikkan suara-suara lantang
Tentang dunia yang kau perbaiki

Pagi Ini Alarm Terlalu Cepat Berbunyi

Pagi ini alarm terlalu cepat berbunyi
Menggantikan suara-suara dengkuran

Apa gerangan yang terjadi?
Di saat shubuh masih dalam antrean
Mimpi