Di Dalam Kereta Jakarta-Purwakarta

Ke Purwakarta aku kembali
Kota yang teramat asing bagiku
Entah, mungkin karena baru sekali
Atau memang Tuhan menghendaki tujuan keretaku ke sana
Hingga dua kali kubaca tulisan di tiket kereta
Benar: Stasiun Purwakarta

Sebatang Kaktus

Bilamana waktu terhenti lama
Terkenang rindu mendekap jiwa
Menjerit pula di dalam kalbu
Menahan rasa ingin bertemu
Entah, Desember ini seperti menunggu

Senja dan Rasa

Mengapa suka menatap senja
Apakah sebab indah tampaknya
Ataukah bisa melihat penciptanya
Adalah warna
Manifestasi dari rasa cinta
Yang menggores cakrawala

Wahai Ketua Umum Partai Golkar

Rasanya aku ingin berkata kasar
Sebab aku sudah gusar
Menyaksikan dramamu yang tak kunjung kelar
Kau anggap korupsimu hanya kelakar

Sebuah Argumen

Tak terasa kita pun hanyut,
tenggelam dalam rasa ego,
memenangkan kepuasan,
yang terkadang buas,
mencabik dan merobek sebuah ikatan.

Drama

Siang ini,
Mentari tak terasa teriknya,
Sebab terhalang oleh kokohnya genteng rumahmu.
Namun, ada rasa terik yang menggenting,
Meliputi seisi rumahmu,
Teriakkan yang meronta,
Sebenarnya mendefinisikan sedih.

Merindumu Sudah Sakau

Rasa ini jahat
Sebab ia telah terpahat
Pada hati yang takkan kuat
Menahan rindu yang pekat
Menunggu waktu yang enggan melesat
Aku, seperti sudah sekarat