Galeri Puisi

Sunday, May 31, 2020

Waktu


Waktu
Adalah penjara abadi
Yang tak pernah kita sadari
Menahan wujud kita dalam dimensi searah
Memaksa kita menuju ke titik berikutnya
Dimana mustahil untuk kembali ke titik sebelumnya

Waktu
Mencegah kita mengintip hari esok
Mencegah kita mengacaukan masa lalu
Mengurung kita sekarang
Entah dalam penyesalan
Atau rencana-rencana khayalan

Wahai Tuan Waktu
Kami menyerah padamu


Jakarta, 31 Mei 2020
Baca >>

Saturday, February 1, 2020

Terpenjara

Rindu ini menyiksaku
Menahanku pada rasa
Bersalah atau bahagia
Tak dapat dibedakan lagi
Walau pasti akan bertemu

Rindu ini menyiksaku
Menahanku pada kamu
Yang sekarang masih dalam angan-angan
Masih dalam harapan
Yang sebentar lagi mungkin terucap
Atau hilang begitu saja
Tak layak untuk dibalas ataupun dibahas



Jakarta, 1 Februari 2020
Baca >>

Tuesday, January 21, 2020

Memelihara Lupa

Sejak waktu membuat kita lupa
Banyak cerita yang tak memiliki suasana
Atau hanya bagian semu
Sebatas khayalan di dalam halusinasi kita

Kita,
Mencoba membuat segala hal tampak sederhana
Kenyataannya, aku masih terluka
Tak terkecuali kamu jua

Kita,
Lebih suka memelihara lupa
Sampai api menjadikanmu abu
Sampai tanah melahap ragaku
Sampai waktu meninggalkan kita



Jakarta, 21 Januari 2020
Baca >>

Thursday, November 14, 2019

Manusia Setengah Jiwa


Setengah jiwaku telah lama pergi
Mengejar mimpi, katanya pasti
Mengejar surga dengan emosi
Kecantikan bidadari telah menggoyahkan hati

Aku, mengatur takdir setelah mati


Jakarta, 14 November 2019
Baca >>

Tuesday, November 12, 2019

Buih yang Menguap


Waktu itu kita tak sedang saling membenci
Bertukar asa dan intuisi
Melepas rindu tanpa basa-basi
Kita, berada dalam harapan yang berefleksi

Lalu, waktu hanyalah buih yang menguap
Menghalau pelangi meninggalkan lembab
Tak terasa, kita sekarang terjerembab
Dalam benci yang mendekap

Mungkin, esok kita kembali bercakap


Jakarta, 12 November 2019
Baca >>

Tuesday, July 9, 2019

Di Seberang Jembatan


Dan malam tetap dalam sunyinya,
Riuh gaduh hanya milik manusia,
Sementara,
Kita berada di seberang jalan,
Di antara kita terdapat jembatan panjang,
Yang diliputi lubang-lubang aspal,
Menganga, seperti rindu makan,
Kita tak mungkin mendekat,
Sebab di bawah jembatan terlalu banyak ketidakpastian,
Dan apabila kita memaksa mendekat,
Butuh pengorbanan dan keikhlasan melampauinya.


(Jakarta, 09 Juli 2019)
Baca >>

Sunday, July 7, 2019

Pekikan Beroga


Bangunlah...
Seperti pagi yang tak pernah menunda
Menyingkap gelap, tirai malamnya
Membangunkan beroga tanpa alarm
Dalam pagi senyap, mereka memekik
Sahut menyahut hati gembira
Meski, sarapan tak tentu dapat
Tetapi,
Tak menahan langkah untuk mencari
Hai aku,
Hidup harus terus berjalan
Segeralah bangun dari peraduan


(Jakarta, 07 Juli 2019)
Baca >>

Contact Form

Name

Email *

Message *

© 2009 - Galeri Puisi, All Rights Reserved.

Designed by Galeri Puisi