Showing posts with label Nasionalisme. Show all posts
Showing posts with label Nasionalisme. Show all posts

21 December 2025

Perpisahan

Kita tidak berpisah,

Kita hanya akan mendayung di kapal yang berbeda.

Mungkin suatu saat

kita akan tiba di pelabuhan yang sama,

kita akan berlayar kembali di kapal yang sama,

kita akan menarik kuat dayung-dayung kapal kita,

yang disatukan oleh cita-cita,

menerjang gelora menjemput asa.


Jakarta, 21 Desember 2025

Prabangkara

Baca >>

01 October 2021

Puisi: Cicak Telah Mati



Dulu engkau kukagumi

Wahai cicak yang berada di sangkar buaya

Ekormu selalu tumbuh lagi

Meski sering putus digigit buaya

Terus menerus terulangi

Semangatmu adalah harapan negara

Di tengah badai dan budaya korupsi

Engkau tangguh berdiri bak punya banyak nyawa


Dulu, kau adalah obat

Penyakit birokrasi yang telah sekarat

Sebab kanker "nguntit duit rakyat"

Sudah susah kembali sehat


Kini, kau telah mati

Setelah diracun berkali-kali

Meski kami bantu dengan petisi

Nyatanya nyawamu tetap dihabisi

Oleh skenario yang begitu rapi dan penuh ambisi

Kematianmu, duka mendalam bagi kami


Oh cicak yang berteguh hati

Selamat tinggal dan sampai berjumpa lagi



Jakarta, 01 Oktober 2021

Baca >>

18 August 2020

Sawah yang Hilang


Wahai negeriku yang agraris.

Seharusnya kau mulai menangis.

Sebab takut, lapar akan melanda tragis.


Negeri yang subur.

Tanahnya mudah ditandur.

Kini lambat laun meradang gersang.

Sawahmu hilang,

ditelan oleh zaman.

Digantikan tembok-tembok properti,

membatukan sawah, menyuburkan perumahan.


Kini,

di negeri tercinta ini.

Bisnis rumah telah menggantikan produksi beras.

Kisah petani sudah lama tergilas.

Sapi dan kerbau pun tak lagi membajak sawah,

sebab besi dan beton telah membajaknya.


Lucunya,

Pemerintah seperti linglung.

Membiarkan bisnis properti mendulang untung.

Merampas lahan petani dengan iming-iming uang.

Lalu, mencetak sawah baru katanya peluang.

Hanya saja,

Bukan untuk petani,

melainkan ladang uang bagi pemilik modal.


Negeriku, memang suka dagelan.



Jakarta, 18 Agustus 2020



Baca >>

14 August 2017

Merdeka dalam Utang



Merdeka!
Pekikan yang menggema
di langit nusantara
di masa itu
di kala kita masih muda
waktu masih punya daya untuk bicara lantang
tentang benar
tentang keberanian
tentang kemandirian yang gagah
Baca >>

01 February 2017

Kantong Mata

Selamat pagi kamu
wahai kantong mata yang makin menebal
kian hari kian mengekar
dan dengan egois menggusur tempat pipi tua itu
menambah sempit mata sayu itu
hingga memandang pun tak lagi terang
tertutup risau dan takut
pada kebenaran
pada keadilan
yang seharusnya waktu itu
kau tegakkan, kau jadikan Tuhan, bukan?
Baca >>

04 November 2016

Wahai Bangsaku

Wahai bangsaku yang terkenal ramah
Jangan ikuti amarahmu
Jangan ikuti nafsumu
Jangan perlihatkan bahwa atas nama iman
Atas nama Tuhan
Engkau berlaku anarki
Baca >>

21 May 2016

Oh Negeriku

Oh negeriku,
Negeri yang kata orang sana
adalah negeri yang ramah,
tetapi kenapa?
kau menjadi garang dengan saudaramu sendiri
menjadi bengis pada tumpah darahmu sendiri
menjadi begal terhadap bangsamu sendiri
sikut-menyikut untuk kepentinganmu sendiri

Oh negeriku,
Kekonyolan apa yang sedang kau cari?
Tidakkah kau malu?
Bertingkah seperti sekumpulan anak kecil
Berebut mainan
Berebut perhatian

Oh negeriku,
kenapa mudah sekali kau dihasut dan diadu?
kenapa kau senang sekali tercerai berai?
Kenapa kau lebih senang berperang hanya karena perbedaan?
Kenapa?
......
Kenapa?
......
Baca >>

04 January 2016

Yang Mulia

Yang Mulia
Kemuliaan yang seperti apa yang kalian lakukan
Kemuliaan apa yang membuat kalian disapa demikian
Lelucon macam apa sebenarnya ini
Bagimana bisa seorang pembantu tetapi menduduki kursi raja
Bagaimana bisa seorang pembantu lebih tinggi derajatnya
Otoriter dan absolut yang lebih halus, alih-alih demokrasi
Demokrasi yang tolol
Baca >>

27 November 2013

Belum Ada Judul

Air yang membasahi tanah ini.
Kini tumbuh sekolompok rumput ilalang.
Bergumul dengan beberapa pohon padi,
menjepit akarnya hingga buahnya tak menunduk lagi.

Baca >>

20 August 2013

Merdeka atau Mati

MERDEKA...!!!
Sebuah teriakan yang menggema
Pekikan angin yang menjelma
Kata yang tak disertai makna
Karena rasa telah terhalau
Oleh angin-angin segar dari sebuah rekayasa
Baca >>

Arti Merdeka

Merdeka,
adalah kata,
yang lebih sering terdengar mendekati 17 Agustus.

Merdeka,
adalah kata ambigu,
ada yang bilang belum merdeka,
ada yang bilang sudah merdeka lalu mati.

Merdeka,
adalah harapan kosong,
akan arti merdeka,
akan arti sejahtera.

Merdeka,
adalah auman sang singa,
yang telah renta, lalu esok mati.

Merdeka,
adalah kata untuk segelintir orang,
yang sudah merasa,
dan menjajah bangsanya sendiri.

Merdeka,
adalah kata penyejuk jiwa,
untuk orang-orang yang tertindas,
tergilas,
agar sesaat merasa bahagia.

Merdeka,
adalah janji,
dan tetap janji,
dan masih janji,
dan selalu janji.

Merdeka,
adalah senyum penguasa,
durjana bagi rakyatnya.

Merdeka,
adalah pekikan suara burung gagak,
bahwa esok tak ada cahaya,
dan awan gelap menyelimuti.

Merdeka,
adalah jerat,
mengurung logika,
"BEBASKANLAH AKU, BEBASKANLAH AKU"


Jakarta, 20 Agustus 2013
Baca >>

16 August 2013

Untuk Apa Merdeka

Untuk apa merdeka.
Jika harga diri hanya semurah harga kondom.

Untuk apa merdeka.
Jika harga diri lebih rendah dari harga BBM bersubsidi.

Untuk apa merdeka.
Jika harga diri hanya dihargai sekilo daging sapi.
Baca >>

03 August 2013

Tanah Kami Digerogoti

Tanah ini membentang,
di sejauh hamparan mata memandang.
Nan hijau tak bertepi,
di bawah lengkung langit yang eksotik.
Siapa yang tak senyum melihatnya?
Adalah orang yang dibalik senyumnya terpendam rasa ego.
Baca >>

19 December 2012

Kopi Hitam yang Manis dan Tumpah

Membusuk juga bibirmu
Dalam keagungan kata-kata
Bersemayam jiwa-jiwa serakah
Menyuguhkan beberapa gelas kopi yg manis
Di atas meja emasmu
Berserakan pula di sana buah-buah yg ranum
Baca >>

16 December 2012

Bermuka Dua

Dalam kebinasaan rasa ini,
Masih terlalu indah harapan untuk diperjuangkan
Yang harus adalah yang tak harus,
Hanya bisa menyambut mentari pagi
Dengan penuh kenistaan
Tidakkah ada,
Petuah-petuah yang membangun hati
Titah-titah yang lurus
Bukan untuk mencuri,
Bukan untuk bermuka dua

Dan hatimu masih saja risau
Dalam ketakutannya berbohong,
Juga seraut wajah yang cemas
Demi tuhan yang kau puja

Selalu,
Perut setanmu meronta
Birahi serakahmu membuncah
Mengeruh dan meminta
Kecukupan tak lagi cukup
Menjadi darah yang mengalir
Dalam urat-urat nadi

Maka kepicikan menguasai
Bergelayut di relung hati
Mencengkeram jantungmu
Menjadi tulang kakimu,
Tanganmu
Hingga kau bermuka dua

Entalah,
Semakin sulit membunuhmu
Karena sama saja membunuhku
Keteraturan itu hanya ada dalam fatamorgana
Dalam benak orang-orang bodoh belaka
Dan kau masih bermuka dua
Baca >>

20 September 2012

Tulang Punggung

Aku ini
Begitu rendah
Begitu dihina
Begitu dilecehkan oleh tetangga

Tulang punggungku remuk
Terkontaminasi pikiran-pikiran tikus
Bertabiat layaknya kerbau berkubang
Dalam lumpur kebodohan
dan kesenangan sesaat

Hura-hura itulah aku
Hedonisme itu bajuku
Nepotisme itu nafasku
Kapitalisme itu dewasaku
Dan, Korupsi adalah darah dagingku

Kapan aku bisa menyusun kembali tulang-tulang punggungku
Kapan aku akan berjalan tegak lagi
Sungguh sedih aku, berdiri sebagai tubuh ini
Namun malu hanya dimiliki beberapa jari tanganku

Dan sering kali
Ketika aku jadi kepala, aku berkapala tikus
Ketika aku jadi dada, aku berdada kancil
Ketika aku jadi punggung, punggungku hilang
Punggungku hilang dalam dunia maya
Dalam dunia fatamorgana

Sungguh aku bersedih
Aku hanya seekor katak dalam tempurung
Aku dikendalikan
Aku dikendalikan
Aku dikendalikan
Tak bisa ku berdiri, di atas kakiku sendiri.
Baca >>

10 June 2011

Cacing - Cacing

Adalah sebab
Tak tertebak
Mengghalau asa
Menulis prosa
Tentang apa yang tak terasa

Ada juga maya
Semu tak bernyawa
Membalikkan rasa
Membayang hitam menutup hati
Mungkin tak terbenahi
Sampai kau temukan diri

Ini megah, warna warni
Retorika hidup yang menggembirakan hati
Semua serba judi
Tak ada kata suci

Kita sama-sama mati
Tak acuh dengan cacing-cacing malang
Melindas dengan sepatu janji
Sampai cacing-cacing itu menggeliat sakit
Di bawah terik
Berselimut dingin malam

Bahkan, iba tak tumbuh-tumbuh
Keserakahan menghentikan nadi
Mengalirkan darah pencuri
Mendetakkan jantung kesombongan
Baca >>

31 May 2011

Garuda

Kini kau meradang
Bulu-bulumu tercabut hilang
Tak bisa terbang
Membawa bangsa ini menuju bintang

Kau sudah loyo
Kaki-kakimu yang kuat
Kini mulai rapuh
Tak mampu lagi menggenggam erat kebhinekaan

Tubuhmu yang dulu kekar
Matamu yang dulu tajam
Bulu-bulumu yang bersinar
Semua lenyap
Musnah
Bahkan, perisai di dadamu yang kokoh
Kini roboh oleh zaman

Garuda,
Kini kau simbol belaka
Sebuah patung tak bermakna
Disia-siakan, perjuanganmu dicibirkan
Baca >>

Jiwamu Hilang

Dulu kau diagungkan
Nilaimu ditinggikan
Refleksi dari pribadi
Bangsaku, negaraku

Sekian lama kau bersemayam
Dalam tubuh bangsa ini
Berharap menjadi jati diri
Tapi,
Tak kunjung jadi

Kini kau semakin hilang
Hanya semboyan di kemajuan zaman
Nilaimu tak hidup lagi
Hanya,
Sekedar frasa-frasa mati

Kau tercipta dari pengorbanan
Tapi hilang
Dalam kelalaian

Bangsaku kini bimbang
Berjalan tanpa pegangan
Mengarungi hidup kekacauan
Intoleransi, Eksklusifisme,
Liberalisme, Kapitalisme,
Invidualisme, Hedonisme
Telah menghapus jiwamu
Baca >>

© 2009 - Galeri Puisi, All Rights Reserved.

Designed by Galeri Puisi