Monday, December 17, 2012

Kisah Menyambut Senja

Sore yang begitu terik
Segera menidurkan mentari
Dalam sayup-sayup cahayanya
Mengintip di antara kawanan mega

Bunga-bunga pun nampak layu
Bersembunyi di balik dedaunan
Menjaga keindahannya
Untuk esok hari
Air kehidupan masih mengalir deras

Tetapi…..

Air kehidupan rasanya tak adil
Beberapa hari tak turun hujan

Ada bunga yang bersedih
Hingga dalam keberaniannya
Memaksa memyingkapkan dedaunan
Pergi mencari air kehidupan

Di malam yang tak turun hujan

Tetapi….
Ada hujan yang lain

Datanglah ia begitu molek
Di tengah-tengah para jutawan
Tapi ada saja yang pas-pasan
Seadanya…
Ala kadarnya
Seperti barang obralan

Satu per satu kelopakmu berjatuhan
Menikmati malam dalam endusan harimau buas
Yang menggertarkan tubuh di setiap jilatannya

Bagimu
Kehangatan bukanlah dari pelukan
Bukan juga kasih sayang
Kehangatan adalah uang
Untuk membeli air kehidupan
Setelah kering keringatmu yang bercucuran

Harimau pun jinak lagi
Dan selalu, ada saja harimau lain yang lebih buas
Hingga  sebelum mentari melihatmu mekar
Kau pun pulang,
Membawa sepercik air kehidupan
Dalam genggamanmu
Bersama rokok di sela-sela jari tangan

0 comments:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

© 2009 - Galeri Puisi, All Rights Reserved.

Designed by Galeri Puisi