Tuesday, July 30, 2013

Jendela Kenangan

Penantian ini
adalah seperti sore yang kehilangan senja.
Garis yang memisahkan siang dan malam itu
kini telah melebur bersama derai kristal kenangan.
Tentang buku kecil dan si mungil yang menatap ke arah jendela.
Menjahit benang-benang kusut dan titik-titik bosan yang ditemui.
Sementara senyum tergurat di setiap kata yang tertata rapi di muka jendela.
Ah, itu dulu,
ketika waktu masih bilang "Aku Bosan",
dan mendefinisikan beberapa arti kata jenuh.

Memang,
waktu itu ada tulisan debu di jendela ini,
tentang senja, tentang keabadian, tentang bersama.

Lalu tersapu oleh beberapa nyamuk yang terperangkap.
Dan si mungil masih saja menulis,
tentang sungai yang mempertemukan kita,
tentang air yang menghujani kita,
tentang api yang menghangatkan kita,
dan malam yang menyelimutimu hingga pagi.
Lalu tentang kebencian ini kepada pagi,
karena tak terdengar lagi ucapanmu.

"Selamat pagi wahai delima pagi, mimpi dilema mimpi, mimpi dilema hari."
"Selamat pagi delima sepi, ku tutup saja jendela ini,
agar tak kau ratapi,
ketika....... aku mati."

0 comments:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

© 2009 - Galeri Puisi, All Rights Reserved.

Designed by Galeri Puisi