Saturday, August 3, 2013

Tanah Kami Digerogoti

Tanah ini membentang,
di sejauh hamparan mata memandang.
Nan hijau tak bertepi,
di bawah lengkung langit yang eksotik.
Siapa yang tak senyum melihatnya?
Adalah orang yang dibalik senyumnya terpendam rasa ego.
Eksploitasi untuk kemakmuran,
atau hanyalah senang bagi burung yang bertengger
di pucuk kemewahan.

Hingga kami merelakan tanah kami,
untuk dibuatkan jalan,
hingga kami tahu apa itu KOTA.
Sibuklah kami mencari dunia fatamorgana,
sementara tanah kami digerogoti emasnya.
Sampai bukit di sebelah selatan tanah kami
tak nampak puncaknya lagi.
Hanyalah sebuah kubangan raksasa yang terabaikan,
tersisa di sana.

Kami lupa tanah kami,
kami lupa akan petani,
kami lupa...

Kini hanya imajinasi,
yang mengkristal di buku-buku teks,
Tentang cacing yang menyuburkan tanah kami dahulu
Tentang kokok ayam di kala mentari hendak bangun
dan membakar kulit kami,
Tentang semangat dan harapan akan hidup bahagia,
meski hidup dalam kesederhanaan

Lalu mereka menjadi tuan tanah sekarang,
walau statusnya masih menyewa,
tapi mereka punya kuku-kuku yang lebih tajam daripada kami.
Yang siap mencengkeram di atas dunia mereka,
sementara kami hanya bisa mendendam.
Dan dalam kubangan pilu hati,
kami menangisi akan tanah kami,
Digerogoti... Digerogoti...

Berdiri di atas tanah sendiri, mati di atas tanah orang lain.

0 comments:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

© 2009 - Galeri Puisi, All Rights Reserved.

Designed by Galeri Puisi