Saturday, March 3, 2012

Gara-gara

“Tet-tet-tet………..” bel istirahat pun berbunyi. Semua siswa keluar dari dalam kelas bak lebah keluar dari sarangnya. Ketika siswa yang lain sibuk dengan aktivitas mereka di luar kelas, aku dan ketiga temenku hanya di kelas. Tak satu pun siswa yang berani menentang kami, mereka membiarkan kami melakukan apa aja di kelas termasuk merokok, namun kami tetap menjaga keamanan kelas. Dan siang itu kami berempat merokok di kelas.
“Hemm……..kelas yang nyaman…!!!” begitu pikir kami berempat. Namun, tiba-tiba guru PKn Bu Excy namanya, masuk kelas mengambil bolpoinnya yang ketinggalan ketika ia mengajar di kelasku tadi. Dia itu seorang guru yang paling disiplin, namun judes. Kami pun segera memasukkan puntung rokok yang kami pegang ke dalam laci sambil mematikannya, kami pura-pura ngobrol biasa seperti tidak terjadi apa-apa pada kami. Saat itu hatiku berdebar-debar takut dimarahin Bu Excy begitu pula dengan ketiga temenku, wajah mereka kelihatan tegang.
“Ada apa anak-anak, kok kalian hanya di kelas biasanya kalian main di luar atau ke kantin ?” Tanya Bu Excy dengan senyum-senyum, sepertinya dia tahu sesuatu.
“Tit,tit,tit…tidak ada apa-apa kok bu, kek…kek…kami hanya ngobrol-ngobrol aja bu !!” jawabku dengan penuh ketakutan sehingga suaraku tersendat-sendat.
“Tapi kenapa wajah kalian kelihatan tegang, seperti ada harimau di dalam kelas aja ??” Tanya Bu Excy.
“Nggak kok bu, kami tidak tegang kok, tidak ada yang kami takutkan kok bu !” jawab salah seorang temanku Angga, sambil tersenyum.
Kami bertiga pun segera menyesuaikan kondisi dengan tersenyum.
“Eh, ibu kok sepertinya bau asap ketika masuk kelas ini tadi. Hemm.., kalian merokok di kelas ya???” Bu Excy mulai menampakkan wajah seramnya.
“Eng….gak kok bu, dari tadi enggak ada asap !” jawabku.
“Ya udah, mungkin hidung ibu aja yang enggak bener atau mungkin kalian memang bener-bener merokok di kelas. Awwasss nanti !!!” kata Bu Excy sambil melangkah keluar kelas.
Temenku si Yusuf langsung berakting dengan gaya mengusir Bu Excy. “Pergi sana…!!”.
Tapi hati kami semakin menjadi-jadi, penuhdengan rasa cemas.
“Eh,, Ngga untung Bu Excy tadi enggak marah sama kita… bisa ancur ni kelas. Tapi Bu Excy sepertinya udah tahu perbuatan kita, pake ngancem segala lagi !” kataku pada Angga.
“Bener Ar, sepertinya Bu Excy tadi udah tahu kalo kita merokok di kelas” tambah Yusuf.
“Wah,,, habis ini kita pasti masuk kantor nih. Kita harus siap-siap sedan MPR man !” cetus Johan.
“Man-men Man-men, sidang MPR itu apaan?, kaya orang gede-an aja Lu!” aku mulai lupa dengan ketakutanku.
“Hemm… kalian katrok banget sih… sidang MPR itu sidang Masalah Perjudian dan Rokok getou…!” jawab Johan.
”Bahasa negeri mana tuh?, pakai sidang MPR segala masalah kaya gini aja?” tanya Yusuf.
”Yang jelas, bahasa Indonesia,” jawab Johan.
Lalu bel masuk pun berbunyi, teman-teman sekelas yang lain masuk kelas.
Tiba-tiba, setelah beberapa menit kemudian bu BP masuk kelasku dengan wajahnya yang tampak marah. Dia bernama Salma, dia sangat disiplin, keras dan tegas dalam mendidik siswa-siswinya.
Saat itu hatiku berdebar-debar dan perasaanku gelisah, apalagi siang itu cuacanya panas banget, jadi keringat pun bercucuran. Aku bertanya-tanya dalam hati, mengapa bu BP masuk kelasku? Padahal sekarang kelasku jadwal pelajarannya Biologi, tapi kenapa bu Salma nampang di depan kelas?
”Aku tahu, pasti bu Salma akan memanggilku dan ketiga temanku yang merokok tadi, aduuh,, perasaanku semakin tidak enak..!!” cemas dalam hatiku.
Bu Salma pun berkata memecah keheningan dalam kelasku siang itu, ”Selamat siang anak-anak!”
”Siang bu!” jawab beberapa orang anak saja.
”Selamat siang anak-anaaaaaak!!!” bu Salma semakin berteriak karena merasa tidak ada yang menjawab salamnya.
”Siang bu!” jawab kami serentak.
”Mohon perhatiannya, yang saya sebutkan namanya saya mohon menghadap saya dan kepala sekolah di kantor sekarang juga. Angga Wiratama, Yusuf Silotung dan Johanes!”
”Aman, namaku tak disebutkan berarti aku nggak ikut di sidang,” kataku dalam hati lega.
”Eith, tunggu dulu. Arjuna juga iya!” tegas bu Salma dan langsung pergi meninggalkan kelasku.
”What? Kena juga deh.” bisikku.
Kemudian kami berempat pergi menuju ke kantor untuk menghadap BP dan Kepala Sekolah. Teman-teman sekelas menyoraki kami berempat, ”Huuuuuuh, dasar anak blandit!” Sorak mereka membuat aku malu.
**************************
”Jawab yang jujur, apa yang kalian perbuat di dalam kelas tadi waktu istirahat?” Kepsek marah-marah.
Aku pun menundukkan kepala, begitu juga ketiga temanku. Sekilas aku menatap wajahnya, ”Wow, wajah kepsek kaya raksasa yang sedang ingin menyantap mangsanya. Dengan matanya yang melotot, bibir agak domble, ditambah lagi bibirnya selalu memercikkan air ludah sambil nrocos.” Aku malah geli sendiri membayangkannya. Sementara itu temanku malah sibuk mengusap air ludah kepsek yang nyomprot ke wajah mereka.
”Jawab? Kalian benar-benar anak bandel, tidak menghormati guru!!”
”Ik..ik iya pak!”
”Jawab yang tegas, jangan kaya orang ayan!”
Semakin basah saja kami di depan beliau, temanku mulai sadar kalau tidak segera di jawab bisa mampus tenggelam dalam air ludah.
”Iya pak, kami merokok.” Johan mencoba menjawab.
”Kalian memang keterlaluan. Kalian itu di sekolah bukan di rumah, jadi jangan seenaknya saja merokok di kelas. Sekolah ini punya aturan!” dengan mata melotot pak Kepsek ingin memukul kami.
”Iya kami tau pak.” sela Angga.
”Lalu kenapa kalian masih melanggarnya?”
”Kami juga tidak tahu pak, kalau kami tidak melanggarnya pasti kami tidak di sini sekarang.” Yusuf seenaknya menjawab.
”Kalian memang anak-anak tak tahu sopan santun!”
”Iya pak.” jawabku.
”Iya-iye,, sekarang kalian buat surat pernyataan kalau kalian tidak akan mengulangi kesalahan ini. Kemudian bersihkan semua toilet yang ada di sekolah ini!”
”Baik pak.”
Begitulah suasana penyidangan kami di ruang BP.
Siang itu sungguh malang nasibku, gara-gara asap rokok aku membersihkan seluruh toilet sekolah. Malu sungguh malu bersarang di hatiku. Tapi aku masih bersyukur karena orang tuaku tidak di panggil ke sekolah. Betapa malunya orang tuaku jika sampai tahu anaknya merokok di sekolah. Apalagi ayahku Suratmaja namanya, seorang menteri pasti malu dan akan menghukum yang seberat-beratnya kalau tahu aku berbuat seperti ini.
Tetapi mungkin lucu jika seorang menteri di panggil ke sekolah hanya karena anaknya merokok di sekolah, ”hah ha ha”.
*****************************
Hari berganti hari, tak terasa aku sudah duduk di bangku SMA. Masa-masa SMP telah ku lalui, kini aku harus berjuang melewati masa-masa SMA.
”Huh, capek banget hari ini!” di kamar setelah pulang sekolah.
Langsung nyalain laptop dan buka facebook, begitulah aktifitasku. Sebenarnya aku mau makan keluar bareng ayah dan ibuku, namun sayang mereka tak pernah di rumah. Mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Aku seperti anak terlantar, waktuku hanya ku habiskan untuk chating dan melakukan hal-hal yang tak jelas.
Ingin rasanya aku makan malam atau hanya sekedar ngobrol bareng ayah dan ibu. Namun , tak ada waktu. Sibuk dan selalu sibuk, begitulah setiap hari tanpa memperhatikanku.
Hingga suatu malam aku mendengar percakapan ayah dan ibu di ruang keluarga, mereka tidak tahu kalau aku diam-diam menguping. Sebenarnya aku ingin ngobrol dengan mereka tapi mereka kayaknya sedang mebincangkan sesuatu yang serius sehingga aku tidak berani mendekat.
”Yah jangan,, bukankah itu dilarang?” kata ibu pada ayah.
Aku pun semakin penasaran dan ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
”Udahlah bu, ibu tenang aja. Nanti uang itu juga untuk keperluan kita atau kita tabung,” jawab ayah.
”Keperluan apalagi sih yah, aku rasa ini sudah lebih dari cukup,” sela ibu.
”Ya nanti bisa kita gunakan untuk tabungan hari tua kita!” jawab ayah yang semakin meninggi nada bicaranya.
”Ayah, menurutku tidak perlu, apalagi ibu kan sudah bantu ayah untuk kerja,” kata ibu sembari memegang lengan ayah.
”Sudahlah bu, nanti uang itu juga untuk ibu,” ayah mengebaskan lengan yang dipegang ibu.
”Aku enggak mau yah makan duit korupsi!” ibu teriak sambil nangis dan lalu pergi menuju kamar.
Aku tersentak, mendadak kaget. ”Hah, ayah korupsi?” kata hatiku. 
Aku sangat kecewa pada ayah sejak malam itu, aku pun meninggalkan percakapan mereka. Dalam hatiku marah dan sangat kecewa, tetapi hal itu aku tutup-tutupi, aku pura-pura tidak tahu hal itu di depan ayah.
Aku benci ayah, apalagi aku tahu kalau ayah berhasil mengeruk uang negara bermilyar-milyar.
************************************
”Hei, Arjuna..? Anak culun??”
”Apa kamu bilang?”
”Kamu anak culun!”
”Jangan asal ngomong kamu!” aku mulai naik darah, ku pukul muka Gentar.
”Udah-udah Jun, jangan diladenin!” Beni melerai perkelahianku dengan Gentar dan menyeretku untuk segera pergi.
”Ah, dasar culun!!” Gentar tetap mengejekku, walaupun sedang kesakitan birbirnya.
Aku dan Beni pun meninggalkan gerombolan Gentar.
”Dia pikir siapa dia?”
”Udahlah Jun, di sini kita kan murid baru. Dia memang anak usil sering cari gara-gara, dia itu pimpinan dari anak-anak nakal di sekolah ini.”
”Sebenarnya apa maunya?”
”Please, calm down bro!”
”Habis aku tersinggung banget dibilang gitu,”
”Enggak usah didenger omongan anak itu, nanti kalo kamu enggak bisa nahan emosi malah panjang urusannya.”
”Tet....tet.......tet...,” bel masuk berbunyi.
”What? Udah masuk bro, let’s go!”
Kami pun berlari menuju kelas.
Aku duduk sebangku dengan Beni. Guru Kimia pun masuk kelas.
”Page??”
”Page juga pak!”
”Sebelum memulai pelajaran, ada baiknya jika kita berkenalan dulu. Nanti setelah aku memeperkenalkan diri aku, langsung dari siswa yang ada di pojok paling kanan depan meperkenalkan diri urut ke belakangnya. Oke?”
”Oke pak!”
”Nama aku Petrus John Dalton, di sekolah ini aku sebagai guru kimia kalian.”
”Nama panggilannya siapa pak?” tanya salah seorang temanku.
”Kalian bisa panggil aku Pak.”
”Yaiyalah pak masa ya bu.” cetus teman yang lain.
”Bentar to anak-anak.”
”Iya bapak-bapak,” jawab kami serentak.
”Wong belum selesai kok sudah dipotong, kalian bisa panggil aku Pak P atau Pak J atau Pak D atau Pak PJD. Kalian mengerti.”
”Kok penuh inisial gitu to pak?” cetus Beni.
“Aku tu suka sesuatu yang beda," kata guru itu.
“Wah, wah, Pak P itu Pak PEROT!” aku mulai tertarik untuk nyeletuk juga.
“Hahaha, perot gundulmu itu gus!”
”Hahaha,” gelak tawa menghangatkan kelas kami pagi itu.
”Sudah, sudah. Biar waktu bisa efisien mulai dari pojok kanan depan sebutkan namanya sambil berdiri!”
”Nama saya Potro pak!”
”Bentar, sebelum di lanjutkan. Potro, nama yang bagus namun sejelek wajahnya.”
”Hahahaha,” kami pun tertawa mendengar celotehan guru kami.
”Lanjut!” sekejap suara Pak P membuat kami berhenti tertawa.
”Nama saya Dino Aurila Aurita.”
”Hahaha,” tawa Pak P membuat kami melongo, karena kami semua diam sementara Pak P tertawa girang.
Bahkan diantara kami ada yang berbisik-bisik.
”Guru aneh.”
”Stress.”
”Guru Edan.”
”Kalian tahu tidak namanya Dino itu lucu.” sela Pak P.
”Kok bisa lucu pak?”
”Masa namanya Dino Ubur-ubur!!”
”Hahaha,” kami paham apa yang disampaikan Pak P.
”Lanjut!”
”Nama saya Rina Helium.”
”Wah,wah, ibumu nyidam helium ya?” Pak P kembali mengomentari setiap nama siswanya.
”Nama saya Cristian Oksigen.”
Perkenalan pun semakin mengasyikkan, karena Pak P selalu mengomentari nama-nama kami semua.
********************************
Pulang sekolah, gerombolannya Gentar merencanakan sesuatu untuk membalas tindakanku tadi pagi.
”Bos, kita mampusin aja si Arjuna itu!”
”Bener bos.”
”Iya bos, anak ini berbahaya. Karena dia akan mengancam eksistensi bos di sekolah ini. Dia juga ganteng, apalagi kaya, wah, bisa-bisa cewek-cewek bos tergoda olehnya.”
”Iya aku tahu, tapi bagaimana caranya?”
”Ha, aku punya cara bos.”
”Gimana?”
”Dia kan anak orang kaya, jadi kita manfaatin aja.”
”Iya, terus caranya gimana blek!”
”Wow, sabar bos. Begini aku bisikin.”
”Ya,ya,ya, kamu memang smart!” Gentar memuji.
”Ayo segera beraksi bos!”
”Hahaha, mampus kau Arjuna!” Gentar yakin caranya akan berhasil.
Sampai di perjalanan pulang, aku yang sedang mengendarai sepeda motor dengan santai, tiba – tiba gerombolan Gentar yang mengendarai sepeda motor menghadangku untuk menghentikanku.
”Hei, anak culun berhenti kau!” Gentar membentak.
”Maksud kamu apa? Aku tak pernah buat urusan dengan kamu.”
”Ha, kau bilang kau tak punya urusan dengan aku!” Gentar memegang keras kerah bajuku.
”Lepasin, emangnya aku takut dengan kamu! Enggak sama sekali.”
”Ow, jadi begitu.”
”Udah bos, habisin aja.”
”Kalau berani satu lawan satu, enggak usah bawa – bawa yang lain. Kalau kamu emang jantan Gentar!” aku mulai naik darah.
”Oke, aku tunggu kamu nanti malam di gang belakang sekolah.”
Mereka pun pergi meninggalkan aku. Dan aku segera pulang.
***********************************
Suasana di gang belakang sekolah begitu sepi, cahaya lampu yang remang – remang dari pagar sekolah ditambah suara jangkrik yang sayup-sayup kedengarannya membuat suasana terasa menakutkan. Namun, aku tetap menunggu kedatangan mereka, aku tak pernah lari karena itu bukan sifatku.
Terlihat dari arah kanan cahaya lampu sepeda motor mereka perlahan mendekat.
”Wah, jantan juga anak ini bos!”
”Diam kamu!” Gentar membentak anak buahnya.
”Sesuai perjanjian kita, kenapa kamu masih bawa anak buahmu? Penakut!”
”Jujur, baru kali ini aku kenal dengan orang yang berani menantangku. Tapi tak pernah ada sampai saat ini yang bisa mengalahkanku untuk nge-drinks.”
”Maksud kamu apa? Kamu menantangku untuk nge-drinks,” ku dorong dada Gentar.
”Iya, kalo emang kamu jantan!!”
”Oke..!”
”Plok, plok, plok, plok, plok,” mereka bertepuk tangan.
”Selamat datang di Brand All, itulah nama geng kami. Geng ini akan semakin lengkap jika kau bergabung,” Gentar memujiku.
”Jadi apa maksud semua ini?”
”Ya, begitulah kami dalam merekrut anggota. Siapa yang lulus dari tantangan kami maka dia bisa menjadi anggota kami,” Gentar menjelaskan.
”Ow, jadi semua ini hanya sandiwara.”
”Ya sebagai ujian, are you ready to join us?” Gentar merangkul pundakku.
“Akan kupikirkan dulu,”
“Tak perlu berpikir, sekarang mari kita berpesta…!”
”Iya Jun, tadi kamu berani menantang bos kami untuk nge-drinks . sekarang ayo buktikan!”
”Never mind, let’s go..”
”Hahaha, kamu memang seorang yang seperti aku harapkan untuk gabung di geng ini!!” kata Gentar sambil menepuk-nepuk pundakku.
Mereka mengeluarkan berbagai macam merek minuman keras dari dalam tas mereka. Kami pun pesta bersama malam itu, dalam batinku berkata, ”Daripada aku bosan di rumah, benar juga aku bergabung dengan mereka. Aku bosan dengan ayah dan ibu yang tak pernah memperhatikanku.”
”Ayo Juna, bos udah abis dua gelas tu!”
”Oke, tapi aku enggak akan panggil Gentar dengan sebutan bos.”
”Hahaha, tak masalah Juna. Kamu mau bergabung dengan kami malam ini saja kami udah seneng.”
Aku pun segera meneguk minuman-minuman yang rasanya aneh itu. Aku semakin tertantang untuk minum lebih banyak karena mereka menghinaku. Sampai aku tak sadar dengan apa yang telah terjadi pada diriku.
******************************
”Kriing, kriiing, kriiiiiiiing,” alarmku berbunyi.
”What’s? Jam enam?”
Aku terlambat bangun, dan kepalaku pusing sekali pagi itu.
”Ah, apa ini? Kenapa aku bisa pusing banget?”
Aku memaksa untuk berdiri dan menuju kamar mandi walaupun badan terasa agak berat.
Sampai di sekolah ternyata belum terlambat. Pak Satpam masih berdiri di depan gerbang tempat parkir.
”Pagi pak!”
”Pagi..!” jawab Pak Satpam.
*****************************
”Wow, what’s up bro?. Kenapa dirimu tampak aneh hari ini?” Beni terkejut ketika aku tiba di kelas.
”Nothing, aku rasa biasa saja.”
”Kenapa kamu tampak lelah dan tak bersemangat gitu?”
”Ah, kurang tidur aja,” jawabku dengan sikap acuh.
Waktu pelajaran aku hanya tidur, bahkan aku sampai kena skors karena tindakanku ini. Akhirnya aku seharian tidur di UKS.
Sepulang sekolah, Gentar dan kawan-kawannya menghampiriku lagi.
”Mau apa lagi kalian?” tanyaku.
”Waduh bos, anak ini loyo sekali. Haha baru minum beberapa teguk aja udah KO!”
”Hei, jangan asal ngomong kamu ya! Jaga mulut kamu itu!” aku marah dan menekik leher Rino.
”Eith, tenang Man. Kita kan udah sepakat kalau kita enggak ada permusuhan lagi,” Gentar menenangkanku.
”Kalau kamu memang berani nanti malam kita dugem ke diskotik!” kembali Rino menantangku dengan nada mengejek.
”Baik!” kutampar muka Rino.
”Hei, sudah-sudah...” mereka melerai perkelahianku dengan Rino.
Malamnya, aku berangkat bersama mereka ke diskotik. Di sana kami seakan-akan sudah lupa dengan status kami sebagai pelajar. Kami semakin menjadi-jadi, tak hanya menuman keras tetapi mereka juga memberiku pil ekstasi. Hingga aku tak sadarkan diri, aku tak sadar jika mereka semua sudah pulang, diskotik pun sudah sepi dan akan segera ditutup. Aku mencoba berdiri dan pulang walaupun dalam keadaan senggloyoran.
***********************************
Malam semakin larut, aku pun semakin hanyut. Setiap malam aku dugem dengan mereka. Bahkan kami sudah mengonsumsi narkoba. Aku tidak tahu kalau ternyata mereka hanya memanfaatkan kekayaan orang tuaku. Aku dicekoki berbagai merek obat terlarang dan aku tak pernah bisa menolak. Malahan jika persediaanku habis aku marah-marah pada mereka karena tidak segera dibelikan. Aku berikan semua uang seberapapun yang mereka minta untuk membelikan obat-obat itu.
Tugas sekolah dan belajarku pun terbengkalai. Aku lebih mementingkan dugem bersama mereka. Hingga berbagai merek obat terlarang dan berbahaya telah kucoba. Bahkan aku telah berani menggunakan narkoba berdosis tinggi.
Hingga suatu malam, ketika aku pulang dari diskotik dalam keadaan mabuk, sampai di rumah ayah dan ibuku belum tidur. Sepertinya mereka sengaja ingin tahu kenapa aku setiap hari pulang larut malam terus.
”Apa yang kau kerjakan, hingga kau pulang malam begini Arjuna?” bentak ayah sambil berjalan mendekatiku.
”Iya Arjuna, akhir-akhir ini ibu lihat kamu pulang larut malam terus dan tak pernah belajar, sebenarnya apa yang kau kerjakan di luar hingga kau seperti ini?” tambah ibu pelan.
”Bukan hanya akhir-akhir ini bu, tetapi ini sudah lama. Hanya saja ayah dan ibu sibuk sendiri!” jawabku dengan suara yang tak lancar karena kondisi mabuk.
”Bau sekali kau, kau mabuk Arjuna?” bentak ayah yang semakin marah dan akan menamparku.
”Tampar, ayo tampar aku ayah!”
Tetapi ayah tak jadi menamparku.
”Arjuna kenapa lakukan ini semua? Membuat malu keluarga saja kau Ar... Apa kau tak malu?” bentak ayah.
”Kenapa aku harus malu, seharusnya ayah sendiri yang harus malu, ayah curi uang negara kan? Apakah ayah tidak malu? Ayah taruh mana muka ayah? Sudah punya jabatan, hidup cukup mewah tetapi ayah masih ko-rup-si. Bukankah itu lebih membuat malu?”
”Apa kau bilang?” ayah pun menampar pipiku.
”Ceplaass,” begitu keras ayah menamparku, hingga aku mengelus kesakitan. Dan emosiku sudah tak terkendali lagi.
”Dasar tukang korupsi, muka ayah seperti muka tembok tak tahu malu!!!” bentakku pada ayah dan langsung lari ke kamar.
”Kau anak durhaka, pergi saja kau dari rumah ini!”
”Sudah ayah sudah,” ibu mencoba menenangkan ayah.
Pintu kamarku ku tutup. Di kamar aku menangis, aku sedih, aku merasa tak ada yang mau pedulikan aku, memperhatikanku dan menyayangiku. Bahkan orang tuaku sendiri telah mengusirku.
Gejolak dalam hatiku semakin menjadi, aku semakin frustasi dengan hidupku ini. Dan aku pun mencoba mengakhiri hidupku dengan narkoba suntik, pil extasi, sabu-sabu, dan semua narkoba yang aku punya. Kusuntikkan dan kutelan semua obat, aku berharap semoga ini akan segera mengakhiri hidupku.
Penglihatanku jadi remang-remang, kulihat dunia ini tampak indah dengan bayang-bayang seperti di alam mimpi. Penglihatanku semakin menjadi-jadi dan tak menentu, dunia terlihat terang namun dalam sekejap menjadi gelap. Badanku semakin ringan dan sepertinya aku terbang, terbang dalam halusinasiku. Namun tiba-tiba badanku terjatuh, jatuh ke lantai tetapi serasa jatuh ke dalam jurang yang dalam, jatuh dan terus jatuh sampai aku tak merasakan sesuatu. Sepertinya aku sudah mati.
SELESAI
(Wonogiri, 2006)

0 comments:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

© 2009 - Galeri Puisi, All Rights Reserved.

Designed by Galeri Puisi