Tuhanmu Ingkar

Jalanmu yang begitu lurus
Dalam pandangan tak terbuai
Keheningan hatimu
Kerendahanmu, tak kan disombongkan
Dengan keduniaan
Hanya, satu jalan yang penuh kenikmatan
Berjalan seiring penderitaan dan cobaan
Hatimu dalam ikhlas.

Kepelikan apa yang mengurungmu
Pada nyatanya
Hingga kau tak melihat
Kekacauan pada jalanmu
Yang sebenarnya telah bercabang-cabang
Menderitakanmu

Lihatlah pada jalanmu
Endapkan segala kemunafikan
Rasakan,
Ada cahaya yang merisaukan hati
Dalam ketidak teraturannya
Yang indah dari mulut ke mulut

Ketuklah setiap pintu yang kau temui
Tanyakan pada mereka,
Dimana surga itu
Maka, dikata oleh mereka
Surga berada dalam hatimu
Ketika segalanya kau endapkan
Dan segalanya kau biarkan
Pada rasamu yang paling kosong
Kehampaanmu dari ingatanmu
Dan lihat,
Tuhanmu ingkar.

RaSa Hatiku III

Tak sampai aku berada
Dalam lesatan-lesatan petir ini
Begitu kuat menuju sang penakluknya
Aku tersentak
Aku terbakar
Wujudku tak tentu lagi
Hanyalah  abu yang mengendap
Di kaki-kaki pintu rumahmu
Atau kerikil-kerikil kecil
Berserakan di depan rumahmu
Yang menjatuhkanmu setiap pagi

Begitu kuat kau menggenggam
Petir-petir itu
Sungguh, aku hancur dalam injakanmu

Tidak,
Aku masih bertahan dalam diamku
Melihat cahaya indah
Yang datang dari pintu rumahmu
Meyakinkan aku menangkapnya
Membawanya pulang
Bersama RaSa Hatiku.

Penyapu Jalan

Jikalau ada dalam benakmu
Bahwa jalan mereka terlalu kotor
Dalam kebersihannya
Tapi jalanmu begitu bersih
Dalam kekotoranmu

Kecampingan bajumu
Terlalu mewah di hadapan Tuhanmu,
Yakinlah,
Kebesaran baju mereka,
Hanya menjadi doa buruk
Para pejuang bangsa yang sesungguhnya.
Sungguh, begitu besar hatimu
Menerima ketidak adilan ini

Kau buatkan jalan yang bersih
Bagi mereka yang teramat bersih
Menjalani kekotorannya

Mereka yang teramat bersih
Begitu jijik memandangmu
Begitu rendah kau di matanya,
Yakinlah,
Tuhanmu tahu siapa yang kotor
Keikhlasanmu,
Malapetaka buat mereka.

Hari-hari yang kau lalui
Berteman dengan sapu
Menahan terik panas mentari
Meski kegelisahan menyelimuti hatimu
Tapi kau tetap pada jalanmu
Yang bersih
Yang suci untuk anak-anakmu
Bukan daging-daging haram yang kau pelihara

RaSa Hatiku II

Termenung ku di setiap sudut waktu
Yang menghantuiku
Akan angan-anganku
Cita dan cintaku
Merasa hati telah kering
Menjauh dari apa yang ada dalam benakku

Aku ini bukan sebuah berlian
Yang jauh dari kecacatan
Memang aku adalah pecundang
Yang merindukan hembusan nafas itu
Nafas hangat itu
Yang terengah-engah di saat
Kau memberi aku
Mimpi-mimpi yang paling nyata aku rasakan
Akan indah kala itu

Begitu singkatnya pergi
Kini aku terlahir dalam duniaku
Dan duniamu menjauh dariku
Aku pun tahu
Bahwa goresan di kain putih itu
Sulit dihapus
Terlalu hina aku untuk dimaafkan

Mungkin jika aku lihat mata itu lagi
Takkan ku biarkan dia perih
Takkan ku biarkan dia meneteskan air mata
Melindungimu menghidupkanku
Memberi detak jantungku

Biarkan saja
Aku berada dalam keyakinanku
Akan RaSa Hatiku
Dalam perjuangan ini.

Filosofi Hujan

Dan hujan pun menghentikan
Dalam kerumunan cara berfikir
Dalam setiap mulut yang berkata
Di saat semua rasa dalam kebimbimbangan
Sungguh sebuah kesedihan yang mendalam
Ketika mulut teralalu cepat membuka
Lidah yang begitu cepat menukik-nukik dalam
Derasnya air ludah
Dan tanpa memaknai dengan jiwa

Hujan pun semakin deras
Kebimbangan semakin menderu jiwa
Namun, dalam hati yang menyendiri,
Tentu merasa
Ke-akuan ini telah membawa kabut,
Menutup mata,
Hingga tak terlihat senyum indah,
Orang-orang yang menengadah
Hujan datang.
Yang terlihat hanya,
Seonggokan orang-orang yang mencela
Hujan datang.

Mungkin, hujan akan berhenti
Secepat Tuhan menghentikan nafas dalam tenggorokkan
Sesakit radang, dalam kerongkongan
Tapi lambungmu masih terus berdoa
Berharap hujan masih sampai di dasarnya
Dan usus-ususmu pun masih menangis
Karena hujan tak kunjung turun
Air-air kental tak kunjung datang

Dan apakah engkau ingin hujan segera reda?
Dengarkan bisikan lambungmu.
Dengarkan tangisan ususmu.

Ketiadaanmu

Entah, apa yang terjadi
Kekalutan dalam rasaku
Di saat hilang pandanganmu
Mata ini tak terang lagi
Mungkin butuh,
Kacamata yang bisa membiaskan segala sinar
Mengaburkan bayanganmu

Senyum yang sejuk itu
Tidak ku lihat lagi
Mata yang jernih itu
Tak terlihat ada bayanganku lagi

Keceriaan yang menghias di setiap malamku
Kini menjadi hening
Ada yang hilang dari sinar-sinar yang masuk ke mata ini
Aku merasa bagaimana
Yang seperti aku menelantarkanmu
Aku merasa bagaimana
Ketiadaanmu,
Membuatku kehilangan

Hanya bisik-bisik kecil
Bertanya padaku
Sudahkah aku dalam jalanku
Sudahkan aku dalam kebenaranku
Atau hanya benar di mataku
Tapi tidak yang lainnya

Bahtera ini kubiarkan bebas,
Menerjang badai dan ombak yang silih berganti.
Meski orang-orang di dalamnya
Dalam ketiadaan
Akan rasa ketiadaanmu
Tapi aku, aku yang merasa kehilangan.