Saturday, September 22, 2012

Di Dasar Samudranya

Masih saja
Dalam kekakuanku
Aku tak mau menumpahkan air ludah ini
Tak sanggup aku
Menghentikan senyum-senyum manismu

Pernah aku bertanya
Pada kabut-kabut yang kelam
Tentang anggapanku
Anggapanmu
Bahkan anggapan yang lainnya
Tetap saja aku yang hitam
Lebih hitam dari kabut-kabut malam

Sekian kali aku membuka mata
Selalu terlihat rabun akan bunga mana yang paling indah
Kabut-kabut ini selalu menyelimuti mata batinku
Tangan-tangan pun tak sanggup memetik satu saja
Karena selalu kabur
Dan menghilang dari mataku

Aku tahu
Ini adalah tentang aku,
yang mangharapkanku
dan menunggunya.

Aku tahu
Aku yang mungkin menyiakanmu,
pikirmu.
Tapi aku juga tak mungkin menunggunya,
pikirku.
Sebongkah batu besar ini telah menutup jalanku
Hingga air-air ludah pun terbendung olehnya

Sungguh aku harus menyesal dengan ini
Sudah terlalu dalam kita menyelam di sungai ini
Bahkan dia melihatnya
Dan aku melihat dia dari dia
Yang semakin dalam pula menyelam di lautan

Tapi nafasku sudah habis olehmu
Dan aku butuh nafasnya olehnya
Dia dari dia mungkin sudah menghabiskan nafasnya
Aku tak peduli itu
Karena itu adalah nafas-nafas sesaat
Dan nafasku itu sudah lama
Dan akan terus lama
Hingga aku di dasar samudranya

0 comments:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

© 2009 - Galeri Puisi, All Rights Reserved.

Designed by Galeri Puisi