Karya Abadi

Di saat embun tak menetes
Dan angin tak mau terbang lagi
Gundah mengganggu hati.
Berceceran pula
Potongan-potongan kertas
Di sana tertulis tentang rasa haus
Rasa lapar
Yang begitu bergelayut risau.
Menapaki jalan duri, bukan pilihan
Terperanjat ketika sampai
Kebesaran karya abadi
Yang gemanya
Memeriakkan bulu-bulu telinga
Jatuh juga embun hati ini
Mengecil
Dan terus mengecil
Karam dalam dosa
Karam dalam penyesalan
Yang terucap adalah yang tak terucap
Mewujudkan karya abadi, menjadi jalan begitu terjal
Begitu licin, menikung tajam
Dan bersinggah di setiap tikungannya,
Selalu ada warna lilin yang berbeda menyapa
Sekarang hati pada kesesatannya
Menghirup nafas api
Menghembuskan nafas api
Membakar setiap kata
Sungai-sungai filosofi tak terdengar gemuruhnya
Kobaran api berada di setiap pinggirannya
Dan hati berkata “hendaknya kita di sini.”

No comments:

Post a Comment

Give your comment friends!