Thursday, January 24, 2013

Keabadian


Aku senang karena aku berpikir
Aku sedih karena aku berpikir

Dan apakah aku sesat jika aku bepikir?
Bukankah kebenaran itu ada di akalmu?
Yang diwariskan oleh keabadian

Kenapa aku harus menerima dogma yang penuh kepalsuan itu
Doktrin-doktrin yang aku tak mampu memikirkannya
Bahkan selalu ganjil
Dan menutup semua akal
Padahal, akal adalah warisan dari keabadian
Menjelma dalam kelahiran kita untuk mencari
Dimana keabadian itu, yang meski pelik
Namun harusnya akal sampai padanya
Bukan berarti kita mengakali akal kita, dan akal mereka.

Aku akan terus berpikir
Karena keabadian telah menyusup dalam realitas
Tangannya telah berbuat atas kodratnya
Meski sungguh hina jika mewujudkan keabadian itu dalam realitas
Karena sungguh kita hanya akan menua
Dan melepas akal kita menuju ke keabadian
Yang jauh dari akal kita.
Sia-sialah jika kita telah terkurung
Terjerat kata-kata
Yang dalam kekosongan rasa, akal menolaknya.
Biarkan hatimu bertanya
Dan terus bertanya
Dimana keabadian itu
Maka karyanya akan memanggilmu.

0 comments:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

© 2009 - Galeri Puisi, All Rights Reserved.

Designed by Galeri Puisi