Masih dalam Mimpi

Apakah aku terlalu ingin melampaui mimpiku? Menerawang sampai terkelupas ujung-ujung sarafku? Ini adalah sebuah mimpi yang terperangkap dalam tidur. Membuat aku semakin nyenyak memikirkannya. Dan bangun dalam kemalasan. Bantal dan guling masih enggan untuk ditinggalkan.

Ingatlah, ketika aku berkata bahwa aku ingin selesai. Lalu doamu menyertaiku. Dan tangan ini menjadi kaku, meski semangat menggebu-gebu. Seperti hendak memukul tembok, lalu merubuhkannya dalam dua atau tiga pukulan. Tapi sayang serpihan-serpihan batu pasir itu telah membatu, tak mudah aku menghancurkannya, tak mudah aku menggenggamnya lagi. Sebongkah batu yang menutupi segala pandangku, hingga hanya ada satu arah, yaitu keihklasan yang terlalu berlebihan. Dan membiarkan beberapa semut menghabiskan gula di sebuah cangkir kopi. Padahal air panas hampir-hampir membasahinya. Si semut hanya menyisakan kopi hitam, dan beberapa bekas kakinya. Oh... aku melihat pola yang indah dari bekas-bekas kaki itu.

Tiba-tiba aku tersentak, ketika pagi menertawakanku lewat kicauan burung pipit. Malam pun berlalu, kini pagi dan setumpuk kertas memanggilku. Sementara dalam hangatnya mentari terbit, aku masih mengaduk-aduk secangkir kopi hangat, berharap ada sisa gula untuk diseruput. Atau hanya air yang terlalu cepat menguap dan meninggalkan pandanganku yang masih dengan serius aku memandangnya.

No comments:

Post a Comment

Give your comment friends!