Bila Malam Menjelang, 2

Dalam kegelapan malam
Sebuah pekikan tangis yang mencekam
Menggema di seluruh penjuru

Cahaya api masih menyala-nyala
Berusaha menampakkan kebengisannya
Membakar tirai gelap yang menutupi langit malam

Entah siapa yang menangis menderu
terengah-engah karena hidup seperti dicekak
dijegal dengan sangat normalnya

Mungkin, tangisan orang itu sia-sia
Sebab air yang keluar dari matanya
Tak cukup untuk memdamkan api yang menelan gubuknya

Gubuk yang mungil itu
Kini telah mengangkasa
Mendebu hitam,
menutup dua mata merah yang meninggalkannya
Menyenyakkan tidur dua mata merah itu
Di pinggiran lembah sungai yang membelah hutan belantara,
yang penuh buah dan mentega

Siapa sangka,
Saat dua mata merah sedang mendengkur dalam tidurnya
Dari dalam hutan terdengar suara geraman
Siapakah itu?



Ini adalah sebuah puisi bersambung...

Baca puisi sebelumnya, klik --> Bila Malam Menjelang

No comments:

Post a Comment

Give your comment friends!