Monday, October 12, 2015

Ketidakpastian yang Aku Tunggu

Terdengar degup jantung ketidakpastian,
menunggu sebuah suara yang enggan merintih.

Namun tetap saja terselip tanya
"Baikkah kau di sana?”
“Masihkah kakimu berdiri tegak?”
“Atau telah roboh diterjang badai?"

Aku benci menghitung detik yang berlalu dengan sangat malasnya ini,
Aku benci mendengar derap jantungku yang risau ini.

Aku benci jika malam terlalu sadis mendiamkan tanyaku,
Aku tidak rela jika dirinya dihempas pisau-pisau tajam,
dan berulang-ulang.

Wahai bintang yang enggan menampakkan diri di langit Jakarta,
Kabarkan padanya bahwa aku mendoakannya,
Agar Tuhan menguatkan kakinya
Semoga masih terbesit dalam benaknya untuk mengeluarkan bekal yang telah kami persiapkan sejak dulu.
Dan semua akan baik-baik saja,
Atau sebuah goncangan juga akan datang esok hari,
Memporak-porandakan tanahku, tanahnya, tanah Sang Pencipta.

Minggu, 11 Oktober 2015

0 comments:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

© 2009 - Galeri Puisi, All Rights Reserved.

Designed by Galeri Puisi