Kopi Hitam yang Manis dan Tumpah

Membusuk juga bibirmu
Dalam keagungan kata-kata
Bersemayam jiwa-jiwa serakah
Menyuguhkan beberapa gelas kopi yg manis
Di atas meja emasmu
Berserakan pula di sana buah-buah yg ranum

Sajak Tak Berarah

Jika sajak melampaui mataku
Takkan aku melihat lagi
Buta akan penindasan
Buta akan kerusuhan
Aku sembunyi dalam karya

Rasa Hatiku IV

Aku merindumu
Ketika kau di pelukkanku
Bercerita tentang masa depan
Masa lalu…
Tentang cita-cita kita
Dalam hati yang senada

Kisah Menyambut Senja

Sore yang begitu terik
Segera menidurkan mentari
Dalam sayup-sayup cahayanya
Mengintip di antara kawanan mega

Yang Biasanya

Tuhan...
Aku ingin menjadi aku yang biasanya
Merasakan apa yang biasanya
Berpikir seperti apa yang biasanya
Berada di jalan yang biasanya

Bermuka Dua

Dalam kebinasaan rasa ini,
Masih terlalu indah harapan untuk diperjuangkan
Yang harus adalah yang tak harus,
Hanya bisa menyambut mentari pagi
Dengan penuh kenistaan

Tuhan


Apa yang menjadi titahnya
Adalah hidup dalam sederhana
Dalam bait-bait derita
Namun bermakna

Apakah kau temukan tuhan dalam hatimu?,
Ataukah kau menuhankanmu sendiri?.

Tuhan Telah Mati


Nafas-nafas yang berhembus
Berpikir Tuhan akan menolong
Mencabut kerisauan
Menyapu debu hati
Sayang Tuhan telah mati

Yang paling sempurna
Adalah wujud yang paling bodoh
Dari yang sempurna
Menemui-Nya dalam ketololan
Menengadah dengan kelupaan

Tuhan telah mati
Sejak Dia takdirkan kebodohan
Memuja-Nya dalam penuh rasa
Yang membiru,
Meng-aku-kan menjadi benar

Tuhan telah mati
Bersama lantunan lagu-lagu indah
Dan terus bercerita
Tentang kebodohan
Tentang pengorbanan
Berakar pada hati yang paling kosong
Memenuhi ubun-ubun
Menyumbat saraf-saraf yang jujur