Rentan

Menapak kaki kaku dalam keakuan
Yang terasa aku dan semakin aku,
Menanti kaki-kaki lain mengikuti kakiku,
Menuju ruang kehampaanku.

Karena kau adalah kakiku

Yang tak dapat aku dengannya
Berjalan menuju keindahanmu, kekasih.

Kau juga tanganku
Yang tak dapat aku dengannya memeluk keindahan,
Hanya sebuah rasa yang tertinggi hingga aku dapat memeluknya.

Atau rasa yang paling bodoh hingga,
Memelukmu dalam bayang-bayang keindahan
Yang tiada taranya, yang terucap melalui bahasa

Dan mata yang menatap dengan tajam ini adalah matamu, kekasih,
Namun selalu buta akan keindahanmu.
Masih,
Selalu mencari-cari keindahan yang berada di balik mangkuk
Di atas rak-rak yang rapuh,
Yang ada hanyalah,
Sekepal nasi busuk beserta lalat yang tak mau menyentuhnya.

No comments:

Post a Comment

Give your comment friends!