Wednesday, November 27, 2013

Belum Ada Judul

Air yang membasahi tanah ini.
Kini tumbuh sekolompok rumput ilalang.
Bergumul dengan beberapa pohon padi,
menjepit akarnya hingga buahnya tak menunduk lagi.

Kini ia, tak dapat memenuhi lumbung-lumbung desa.
Hanya melongok pada kekosongan,
yang semakin kosong karena hatinya sudah pergi.
Bersama guratan sendu senja hari.
Mengejar mentari.
Dan terus mengejarnya.
Hingga, lupa akan tangis para petani.

Sebab ilalang tak dapat mati,
terus menjerat pembuluh-pembuluh air,
dan memperanakkan belalang-belalang rakus.
Dimana kami akan berlari?

Sebab kaki telah terlalu rapuh untuk berdiri,
beberapa hari tidak makan ikan,
sebab ikan menjadi ular
yang bersarang di bawah tempat tidur,
membuat kami tak dapat tertidur di waktu malam,
mencemaskan anak-anak kami,
sebab masa depannya,
harus kami tukar dengan beberapa liter premium.

0 comments:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

© 2009 - Galeri Puisi, All Rights Reserved.

Designed by Galeri Puisi