Jendela Kenangan

Penantian ini
adalah seperti sore yang kehilangan senja.
Garis yang memisahkan siang dan malam itu
kini telah melebur bersama derai kristal kenangan.
Tentang buku kecil dan si mungil yang menatap ke arah jendela.
Menjahit benang-benang kusut dan titik-titik bosan yang ditemui.
Sementara senyum tergurat di setiap kata yang tertata rapi di muka jendela.

Kontras

Kekasih,
Akan ada saat
dimana kita bersama menghitung
detik-detik waktu meninggalkan kita.
Atau hanya aku saja yang menghitung setiap langkahmu
yang menjauhiku.
Sejengkal demi sejengkal semakin kabur di mataku,
kaki-kakimu tak goyah lagi,
sementara aku masih bertekuk lutut dalam rasa.

Bila Malam Menjelang

Demi malam yang tirainya menutupi siang,
terdengarlah nyanyian-nyanyian sunyi kematian.
Merenggut nyawa-nyawa abadi
dalam gelap,
berdecak-decak langkah kaki
bersama sebuah obor yang menyala-nyala
tanpa tangkai dan tanpa tangan.

PR ku 3 Buah Soal

Aku punya PR, ada 3 buah soal,
lumayan susah, sesusah menangkap tikus di dalam sangkar.
Dan parahnya lagi,
setiap hendak menyentuhnya malas pun menjangkiti seluruh tubuh,
aku lebih suka menghitung uang.
Waktuku hanya untuk menghitung uang,

Lapuk

Matahari sepertinya lupa
membunyikan loncengnya di tengah hari,
dan dirimu pun tak nampak lagi.
Di reruntuhan, di reruntuhan,
adalah puing-puing yang berserakan di antara harap dan sesal.
Wajahmu yang temaram,

Wahai Pagi

Wahai pagi,
sampaikan salamku untuknya bersama sejuknya embunmu.
Bangunkan ia dari mimpinya,
agar ia melihat bahwa aku datang membawa sekuntum bunga,
dan senyum bahagia.
Wahai pagi,
semoga ia mengerti, betapa ku berharap padanya.

Derai Gerimis

Aku bukanlah malam yang berkabut itu,
yang kelamnya membawamu
dalam keangkuhan senyum rembulan.

Aku juga bukan langit yang bertabur bintang,
yang indahnya menertawakanmu,
padahal aku sendiri berlumuran papa.

Elegi di Kala Fajar Menyingsing

Pagi ini adalah saksi ketika tak ada alarm lagi berdering
mengucapkan selamat pagi.
Hanya saja detik jam terdengar lebih kencang,
yang biasanya jengah untuk menyuarakan suara sumbangnya.
Dan hati ini selalu luluh dalam peluh keangkuhan,

Lentera Sunyi

Wahai malam yang merajai kegelapan,
izinkan aku mendekati lampion-lampionmu yang temaram.
Hanya ingin melihat bayanganku sendiri,
masih adakah ia? atau juga pergi bersama dia.
Hanya ingin mendekap bayanganku sendiri,
agar ia tak kedinginan, dan tak kesepian.

Tanya Bisu

Tidakkah kau lihat begitu banyak kiasan indah untukmu dalam puisi ku?
Namun kau selalu bertanya pada pagi tentang hari-hari lalu,
Sesejuk inikah pagi kemarin?
Matahari mana yang tak bangun bersama kepulan asap rokok?

Dialog Hujan Turun Lagi

A:
Hujan pun turun lagi

B:
Berteduh saja di hatiku agar tak kena hujan

A:
Bagaimana bisa aku berteduh?

Sang Kala

Dan demi senja yang merindukan pagi
Aku melangkah ke gelapan malam
Yang entah masih adakah harapan akan esok pagi
Masihkah akan melihat senyummu ?
Yang merekah di antara dua bukit kemenangan pagi

Senyum Senja

Ada kegelisahan
Yang menyelimuti hati
Menerka-nerka, cintamu hilang kekasih