Seperti Puisi

Aku ingin mencintaimu seperti puisi
Yang bersembunyi dibalik kata
Yang indahnya tak terdefinisi
Yang tulusnya tanpa makna
Yang merdunya tanpa nyanyi
Cukup senda guraunya saja

Tentang Rindu

Di remang-remang cahaya senja
Di bawah langit kelabu
Lupakan saja rindu
Sebab rindu hanya membuat jiwamu rapuh
Sebab rindu membuat air matamu jatuh

Adalah Singa

Adalah singa
Yang terpisah dari kawanannya
Atau singgasananya?
Menyendiri dalam durja
Terasing dalam ketidakberdayaannya

Adalah singa
Mencoba merengkuh lagi
Menampakkan kuku tajamnya lagi
Menampakkan taring besi
Agar para rusa tahu keberadaanya kini
Agar kawanan zebra segara berlari

Dan,

Wahai Bangsaku

Wahai bangsaku yang terkenal ramah
Jangan ikuti amarahmu
Jangan ikuti nafsumu
Jangan perlihatkan bahwa atas nama iman
Atas nama Tuhan
Engkau berlaku anarki

Sajak untuk Kekasih, 1

Kekasih,
aku tidak mengerti kenapa aku jatuh cinta padamu
tapi, aku hanya mengerti
betapa aku benci pada diriku sendiri
sejak aku memilikimu
jika aku harus meninggalkanmu nanti.

Hujan di Akhir September

aku ingin menjadi hujan
yang menghapus mendung pekatmu
mencerahkan langit soremu
menghangatkan kulitmu dengan mentariku
memekarkan bunga di bibir sayu itu

Dunia adalah Penjara

Dunia adalah penjara
Memenjarakan pikiran sempit semata
Mengklasifikasikan manusia
Warna kulit, ras, suku, dan agama
Seperti telah,
Memisahkan jiwa dari rasa manusia
Mengotori jiwa dengan rasa benci ketika beda

Aku Ingin Seperti Robot

Aku ingin seperti robot
Yang bicara tak perlu ngotot
Yang melihat tanpa melotot
Yang berjalan tanpa otot
Sebab otot suka membelot

Kepulan Asap

Di hari-hari lelah kemarin
Aku ingin teriak nyaring
Mengumpat segala hal yang tidak penting
Seperti lompat ke sungai kering

Aku benci hari kemarin
Dan juga hari ini
Sebab selalu ada hal yang membatasi

Keterbatasan

Telah banyak waktu
Telah bangun dari jengahku
Menuai indah senyummu
Mewarnaiku
Mewarnaiku

Telah banyak waktu
Yang kau sebut itu aku
Di dalam hatimu
Jatuhlah aku
Jatuhlah aku

Langit Kelabu

Kutitipkan rinduku padamu
Pada langit kelabu
Sore itu
Saat hendak hujan menderu deras
Meniup angin menyibak hempas
Mengguncang pepohonan yang meranggas

Puisi dari Nenek Penjual Kerajinan Bambu

Di sinilah aku
Duduk bersama setumpuk harapan
Dan berselimut dalam kecemasan
Akan takdir yang hendak kuhadapi hari ini
Takdir yang tak mungkin mengubah status sosialku
Takdir yang selalu mengasingkanku

Selamat Pagi

Aku adalah pagi
Yang menjelma dalam dingin
Memeluk erat kemalasanmu
Bersama kantuk yang menjalu semangatmu
Kian waktu kian menggancu mimpi
Sampai habis waktu karyamu.

Topeng

Di belahan bumi mana kau berpijak
Di belahan bumi mana kau menapak
Di setiap senyum-senyum yang berpendar
Seolah membiaskan kebencian yang mengakar
Menjadikan sebuah topeng untukmu
Yang merampas rasa nyamanmu

Pada Suatu Ketika

Pada suatu ketika,
saat bosan bergelayut dalam hati dan pikirmu,
Di saat itulah waktu menghampakan ruang-ruang rindu,
menyisakan luka pilu.
Datang saja padanya
pada apa yang membuat kau gembira
pada apa yang membuat kau bahagia
atau hanya akan terjerembab di lubang sama.

Jika Waktu Telah Usang

Jika waktu telah usang
Masihkah ada tersisa di hatimu?
Sebuah rasa kasih sayang
Atau hanya dendam yang membiru
Tersulut hati bila dikenang
Menyayat diri dengan sembilu

Oh Negeriku

Oh negeriku,
Negeri yang kata orang sana
adalah negeri yang ramah,
tetapi kenapa?
kau menjadi garang dengan saudaramu sendiri
menjadi bengis pada tumpah darahmu sendiri
menjadi begal terhadap bangsamu sendiri
sikut-menyikut untuk kepentinganmu sendiri

Oh negeriku,
Kekonyolan apa yang sedang kau cari?
Tidakkah kau malu?
Bertingkah seperti sekumpulan anak kecil
Berebut mainan
Berebut perhatian

Oh negeriku,
kenapa mudah sekali kau dihasut dan diadu?
kenapa kau senang sekali tercerai berai?
Kenapa kau lebih senang berperang hanya karena perbedaan?
Kenapa?
......
Kenapa?
......

Pion-Pion Yang Terbuang

Kita adalah pion-pion yang terbuang
Dikorbankan oleh sang tuan
Demi mendapat kemenangan
Dan menutupi kecurangan
Dalam senyum kepicikan

Sebuah Rahasia

Semenjak kata "kita" menggantikan aku dan kamu
Semenjak itulah, hidupku jauh dari kelabu
Meski kita lebih sering menderita rindu
Namun, semua berlalu tanpa sendu

Sang Pelupa

Kita adalah sang pelupa
Yang sengaja dilupakan
Dari ingatan tentang surga
Dari ingatan tentang neraka
Dari ingatan tentang jiwa

Terjebak Luka

Hujan kini mereda
Diiringi luka yang kian merana
Menahan sakit yang tak terkira
Sebab hati tak pernah terima

Nyanyian Belalang

Surabaya memanas
Pergi saja ke Malang
Agar hatimu tenang
Dari risau kenangan
Sebuah kegagalan

Gema dari Bukit Hambalang

Dibalik rumput ilalang
Kemegahan akan kegagalan menjulang
Sisa-sisa proyek tuan
Yang biasa baper main twitter-an

Hujan di Akhir Februari

Entah kenapa
Sebuah rasa bercokol terlalu dalam
Menghunjam dan tersangkut
Menggelayut pada ranting rapuh
Lalu, terperosok dalam jurang bayang-bayang
Menjerembabkan suasana riang
Dalam sedih kerinduan

Kita Terlahir dari Desahan Kenikmatan

Ingatkah engkau saat kau masih enggan
menjaga santun dan kekakuan
mencegah kaki agar tak berdiri
terlalu munafik dalam opini.

Tuhan, Tolong Jangan Beri Aku Itu

Sebuah tanda
Yang merisaukan jiwa
Menganggu rasa

Sebab kegelisahan membuka mata
Mencegah ia terlelap

Yang Mulia

Yang Mulia
Kemuliaan yang seperti apa yang kalian lakukan
Kemuliaan apa yang membuat kalian disapa demikian
Lelucon macam apa sebenarnya ini
Bagimana bisa seorang pembantu tetapi menduduki kursi raja
Bagaimana bisa seorang pembantu lebih tinggi derajatnya
Otoriter dan absolut yang lebih halus, alih-alih demokrasi
Demokrasi yang tolol

Aku Ingin Pulang

Bukannya aku menyerah
Atau lari dari semua masalah
Tetapi aku hanya ingin pulang
Mengubur semua harapan
Agar aku tak terlalu bermimpi indah di kala tidur malam
Agar aku menyadari
Bahwa aku ingin pulang
Kembali ke suasana sejuk yang telah hilang
Kembali ke jalan terjal namun tentram