Wednesday, December 19, 2012

Kopi Hitam yang Manis dan Tumpah

Membusuk juga bibirmu
Dalam keagungan kata-kata
Bersemayam jiwa-jiwa serakah
Menyuguhkan beberapa gelas kopi yg manis
Di atas meja emasmu
Berserakan pula di sana buah-buah yg ranum
Baca >>

Tuesday, December 18, 2012

Sajak Tak Berarah

Jika sajak melampaui mataku
Takkan aku melihat lagi
Buta akan penindasan
Buta akan kerusuhan
Aku sembunyi dalam karya
Baca >>

Monday, December 17, 2012

Rasa Hatiku IV

Aku merindumu
Ketika kau di pelukkanku
Bercerita tentang masa depan
Masa lalu…
Tentang cita-cita kita
Dalam hati yang senada
Baca >>

Kisah Menyambut Senja

Sore yang begitu terik
Segera menidurkan mentari
Dalam sayup-sayup cahayanya
Mengintip di antara kawanan mega
Baca >>

Sunday, December 16, 2012

Yang Biasanya

Tuhan...
Aku ingin menjadi aku yang biasanya
Merasakan apa yang biasanya
Berpikir seperti apa yang biasanya
Berada di jalan yang biasanya
Baca >>

Bermuka Dua

Dalam kebinasaan rasa ini,
Masih terlalu indah harapan untuk diperjuangkan
Yang harus adalah yang tak harus,
Hanya bisa menyambut mentari pagi
Dengan penuh kenistaan
Tidakkah ada,
Petuah-petuah yang membangun hati
Titah-titah yang lurus
Bukan untuk mencuri,
Bukan untuk bermuka dua

Dan hatimu masih bermuka dua
Dalam ketakutannya berbohong,
Juga seraut wajah yang cemas
Demi tuhan yang kau puja

Selalu,
Perut setanmu meronta
Birahi serakahmu membuncah
Mengeruh dan meminta
Kecukupan tak lagi cukup
Menjadi darah yang mengalir
Dalam urat-urat nadi

Maka kepicikan menguasai
Bergelayut di relung hati
Mencengkeram jantungmu
Menjadi tulang kakimu,
Tanganmu
Hingga kau bermuka dua

Entalah,
Semakin sulit membunuhmu
Karena sama saja membunuhku
Keteraturan itu hanya ada dalam fatamorgana
Dalam benak orang-orang bodoh belaka
Baca >>

Friday, December 14, 2012

Tuhan


Apa yang menjadi titahnya
Adalah hidup dalam sederhana
Dalam bait-bait derita
Namun bermakna

Apakah kau temukan tuhan dalam hatimu?,
Ataukah kau menuhankanmu sendiri?.
Baca >>

Saturday, December 1, 2012

Tuhan Telah Mati


Nafas-nafas yang berhembus
Berpikir Tuhan akan menolong
Mencabut kerisauan
Menyapu debu hati
Sayang Tuhan telah mati

Yang paling sempurna
Adalah wujud yang paling bodoh
Dari yang sempurna
Menemui-Nya dalam ketololan
Menengadah dengan kelupaan

Tuhan telah mati
Sejak Dia takdirkan kebodohan
Memuja-Nya dalam penuh rasa
Yang membiru,
Meng-aku-kan menjadi benar

Tuhan telah mati
Bersama lantunan lagu-lagu indah
Dan terus bercerita
Tentang kebodohan
Tentang pengorbanan
Berakar pada hati yang paling kosong
Memenuhi ubun-ubun
Menyumbat saraf-saraf yang jujur
Baca >>

Wednesday, November 28, 2012

Tuhanmu Ingkar

Jalanmu yang begitu lurus
Dalam pandangan tak terbuai
Keheningan hatimu
Kerendahanmu, tak kan disombongkan
Dengan keduniaan
Hanya, satu jalan yang penuh kenikmatan
Berjalan seiring penderitaan dan cobaan
Hatimu dalam ikhlas.

Kepelikan apa yang mengurungmu
Pada nyatanya
Hingga kau tak melihat
Kekacauan pada jalanmu
Yang sebenarnya telah bercabang-cabang
Menderitakanmu

Lihatlah pada jalanmu
Endapkan segala kemunafikan
Rasakan,
Ada cahaya yang merisaukan hati
Dalam ketidak teraturannya
Yang indah dari mulut ke mulut

Ketuklah setiap pintu yang kau temui
Tanyakan pada mereka,
Dimana surga itu
Maka, dikata oleh mereka
Surga berada dalam hatimu
Ketika segalanya kau endapkan
Dan segalanya kau biarkan
Pada rasamu yang paling kosong
Kehampaanmu dari ingatanmu
Dan lihat,
Tuhanmu ingkar.
Baca >>

Tuesday, November 27, 2012

RaSa Hatiku III

Tak sampai aku berada
Dalam lesatan-lesatan petir ini
Begitu kuat menuju sang penakluknya
Aku tersentak
Aku terbakar
Wujudku tak tentu lagi
Hanyalah  abu yang mengendap
Di kaki-kaki pintu rumahmu
Atau kerikil-kerikil kecil
Berserakan di depan rumahmu
Yang menjatuhkanmu setiap pagi

Begitu kuat kau menggenggam
Petir-petir itu
Sungguh, aku hancur dalam injakanmu

Tidak,
Aku masih bertahan dalam diamku
Melihat cahaya indah
Yang datang dari pintu rumahmu
Meyakinkan aku menangkapnya
Membawanya pulang
Bersama RaSa Hatiku.
Baca >>

Penyapu Jalan

Jikalau ada dalam benakmu
Bahwa jalan mereka terlalu kotor
Dalam kebersihannya
Tapi jalanmu begitu bersih
Dalam kekotoranmu

Kecampingan bajumu
Terlalu mewah di hadapan Tuhanmu,
Yakinlah,
Kebesaran baju mereka,
Hanya menjadi doa buruk
Para pejuang bangsa yang sesungguhnya.
Sungguh, begitu besar hatimu
Menerima ketidak adilan ini

Kau buatkan jalan yang bersih
Bagi mereka yang teramat bersih
Menjalani kekotorannya

Mereka yang teramat bersih
Begitu jijik memandangmu
Begitu rendah kau di matanya,
Yakinlah,
Tuhanmu tahu siapa yang kotor
Keikhlasanmu,
Malapetaka buat mereka.

Hari-hari yang kau lalui
Berteman dengan sapu
Menahan terik panas mentari
Meski kegelisahan menyelimuti hatimu
Tapi kau tetap pada jalanmu
Yang bersih
Yang suci untuk anak-anakmu
Bukan daging-daging haram yang kau pelihara
Baca >>

Sunday, November 25, 2012

RaSa Hatiku II

Termenung ku di setiap sudut waktu
Yang menghantuiku
Akan angan-anganku
Cita dan cintaku
Merasa hati telah kering
Menjauh dari apa yang ada dalam benakku

Aku ini bukan sebuah berlian
Yang jauh dari kecacatan
Memang aku adalah pecundang
Yang merindukan hembusan nafas itu
Nafas hangat itu
Yang terengah-engah di saat
Kau memberi aku
Mimpi-mimpi yang paling nyata aku rasakan
Akan indah kala itu

Begitu singkatnya pergi
Kini aku terlahir dalam duniaku
Dan duniamu menjauh dariku
Aku pun tahu
Bahwa goresan di kain putih itu
Sulit dihapus
Terlalu hina aku untuk dimaafkan

Mungkin jika aku lihat mata itu lagi
Takkan ku biarkan dia perih
Takkan ku biarkan dia meneteskan air mata
Melindungimu menghidupkanku
Memberi detak jantungku

Biarkan saja
Aku berada dalam keyakinanku
Akan RaSa Hatiku
Dalam perjuangan ini.
Baca >>

Filosofi Hujan

Dan hujan pun menghentikan
Dalam kerumunan cara berfikir
Dalam setiap mulut yang berkata
Di saat semua rasa dalam kebimbimbangan
Sungguh sebuah kesedihan yang mendalam
Ketika mulut teralalu cepat membuka
Lidah yang begitu cepat menukik-nukik dalam
Derasnya air ludah
Dan tanpa memaknai dengan jiwa

Hujan pun semakin deras
Kebimbangan semakin menderu jiwa
Namun, dalam hati yang menyendiri,
Tentu merasa
Ke-akuan ini telah membawa kabut,
Menutup mata,
Hingga tak terlihat senyum indah,
Orang-orang yang menengadah
Hujan datang.
Yang terlihat hanya,
Seonggokan orang-orang yang mencela
Hujan datang.

Mungkin, hujan akan berhenti
Secepat Tuhan menghentikan nafas dalam tenggorokkan
Sesakit radang, dalam kerongkongan
Tapi lambungmu masih terus berdoa
Berharap hujan masih sampai di dasarnya
Dan usus-ususmu pun masih menangis
Karena hujan tak kunjung turun
Air-air kental tak kunjung datang

Dan apakah engkau ingin hujan segera reda?
Dengarkan bisikan lambungmu.
Dengarkan tangisan ususmu.
Baca >>

Wednesday, November 21, 2012

Ketiadaanmu

Entah, apa yang terjadi
Kekalutan dalam rasaku
Di saat hilang pandanganmu
Mata ini tak terang lagi
Mungkin butuh,
Kacamata yang bisa membiaskan segala sinar
Mengaburkan bayanganmu

Senyum yang sejuk itu
Tidak ku lihat lagi
Mata yang jernih itu
Tak terlihat ada bayanganku lagi

Keceriaan yang menghias di setiap malamku
Kini menjadi hening
Ada yang hilang dari sinar-sinar yang masuk ke mata ini
Aku merasa bagaimana
Yang seperti aku menelantarkanmu
Aku merasa bagaimana
Ketiadaanmu,
Membuatku kehilangan

Hanya bisik-bisik kecil
Bertanya padaku
Sudahkah aku dalam jalanku
Sudahkan aku dalam kebenaranku
Atau hanya benar di mataku
Tapi tidak yang lainnya

Bahtera ini kubiarkan bebas,
Menerjang badai dan ombak yang silih berganti.
Meski orang-orang di dalamnya
Dalam ketiadaan
Akan rasa ketiadaanmu
Tapi aku, aku yang merasa kehilangan.
Baca >>

Sunday, October 21, 2012

Gelapnya Jalanku




Pejamkan aku
Biar aku tak melihatmu
Biar aku menjadi aku
Biar aku menggapai aku
Biar aku mengenal aku
Baca >>

Saturday, October 13, 2012

Hilang Maknaku

Aku yang tercabik-cabik
Bajuku tak berbentuk lagi
Aku hilang dalam hukum yang utama
Dan selalu jadi utama
Hukum yang menggelapkan mereka
Mengecilkan hatimu
Menyempitkan pikirnya
Dan menghapus aku dalam etika

Aku, selalu diabaikan
Aku, pakaian yang tak pantas lagi
Yang lusuh
Yang memalukan
Dan yang mengenakanku, dikucilkan.
Sendiri, sendiri.
Dan lebih baik seperti daun yang jatuh di kali
Lebih aman ikuti aliran

Efikasi-efikasi politik hanyalah bayangan
Akan hidup dalam impian
Kapatutan sudah tak dihiraukan lagi

Maknaku hilang
Pemimpinku korupsi lagi
Baca >>

Saturday, September 22, 2012

Terhempaslah Aku

Saat kau memanggil
Aku sakit
Saat kau berbisik
Aku hancur
Saat kau bernafas
Aku terhempas
Aku yang hina

Aku adalah seonggok rongsokkan
Yang mencoba didaur ulang
Namun sayang wujud ini sudah terlalu hina
Sudah tak pantas di tata lagi
Hanya harapan-harapan kosong saja

Memang, intuisiku tak sekuat dulu
Saat-saat keyakinanku mendapatkanmu
Tapi,
Pikiran diskursif ini masih saja menujumu
Dan selalu menguatkan intuisiku

Kamuflase-kamuflase
Sering aku lakukan
Tapi, terhempaslah aku
Karena selalu berujung pada RaSa Hati-ku
Aku yang tak berwujud ini
Mencoba menjadi partikel-partikel kecil
Yang berusaha menyusun jantungmu
Menyusun bagian-bagian kecil hatimu

Namun sekarang
Detak jantungmu tak ku dengar lagi
Meski, aku terus memaksa untuk selalu mendengarnya
Hanya saja,
Tak cukup energiku untuk mewujudkan aku
Dan selalu, terhempaslah aku
Menjaga RaSa Hati-ku
Baca >>

Hapus Aku

Membaca pesanmu
Aku tak berbentuk lagi
Keindahan dunia tak dapat ku lihat lagi
Aku hilang dalam 
Aku terdampar
Ruas-ruas jari ini berjatuhan
Menulis hal indah pun tak sanggup lagi

Aku jatuh dalam

Awan yang kulihat selama ini
Kini gugur menjadi hujan

RaSa Hati-ku telah pergi

Aku yang tenggelam dan terus tenggelam
Dalam penyesalan
Memperbaiki pun tak sempat
RaSa Hati-ku telah hancur
Oleh tangan-tanganku sendiri
Pikirku sendiri

Hapus aku

Biar aku menjadi debu
Terombang-ambing dalam penantian
Yang mustahil aku berbentuk lagi

Hapus aku
Aku ingin menjadi gelombang
Yang berlari tiada henti
Meninggalkan kisah ini

Hapus aku
Biarkan RaSa Hati-ku tetap menjadi RaSa Hati-ku
Biarkan aku genggam debu-debu hatiku
Berlari dan terus berlari
Agar kau tak melihat bahwa air mata ini berjatuhan
Baca >>

Di Dasar Samudranya

Masih saja
Dalam kekakuanku
Aku tak mau menumpahkan air ludah ini
Tak sanggup aku
Menghentikan senyum-senyum manismu

Pernah aku bertanya
Pada kabut-kabut yang kelam
Tentang anggapanku
Anggapanmu
Bahkan anggapan yang lainnya
Tetap saja aku yang hitam
Lebih hitam dari kabut-kabut malam

Sekian kali aku membuka mata
Selalu terlihat rabun akan bunga mana yang paling indah
Kabut-kabut ini selalu menyelimuti mata batinku
Tangan-tangan pun tak sanggup memetik satu saja
Karena selalu kabur
Dan menghilang dari mataku

Aku tahu
Ini adalah tentang aku,
yang mangharapkanku
dan menunggunya.

Aku tahu
Aku yang mungkin menyiakanmu,
pikirmu.
Tapi aku juga tak mungkin menunggunya,
pikirku.
Sebongkah batu besar ini telah menutup jalanku
Hingga air-air ludah pun terbendung olehnya

Sungguh aku harus menyesal dengan ini
Sudah terlalu dalam kita menyelam di sungai ini
Bahkan dia melihatnya
Dan aku melihat dia dari dia
Yang semakin dalam pula menyelam di lautan

Tapi nafasku sudah habis olehmu
Dan aku butuh nafasnya olehnya
Dia dari dia mungkin sudah menghabiskan nafasnya
Aku tak peduli itu
Karena itu adalah nafas-nafas sesaat
Dan nafasku itu sudah lama
Dan akan terus lama
Hingga aku di dasar samudranya
Baca >>

Thursday, September 20, 2012

Tulang Punggung

Aku ini
Begitu rendah
Begitu dihina
Begitu dilecehkan oleh tetangga

Tulang punggungku remuk
Terkontaminasi pikiran-pikiran tikus
Bertabiat layaknya kerbau berkubang
Dalam lumpur kebodohan
dan kesenangan sesaat

Hura-hura itulah aku
Hedonisme itu bajuku
Nepotisme itu nafasku
Kapitalisme itu dewasaku
Dan, Korupsi adalah darah dagingku

Kapan aku bisa menyusun kembali tulang-tulang punggungku
Kapan aku akan berjalan tegak lagi
Sungguh sedih aku, berdiri sebagai tubuh ini
Namun malu hanya dimiliki beberapa jari tanganku

Dan sering kali
Ketika aku jadi kepala, aku berkapala tikus
Ketika aku jadi dada, aku berdada kancil
Ketika aku jadi punggung, punggungku hilang
Punggungku hilang dalam dunia maya
Dalam dunia fatamorgana

Sungguh aku bersedih
Aku hanya seekor katak dalam tempurung
Aku dikendalikan
Aku dikendalikan
Aku dikendalikan
Tak bisa ku berdiri, di atas kakiku sendiri.
Baca >>

Seraut Wajah

Seraut wajah
Menarik mata-mata sadar
Akan indah seraut wajah
Menarik senyum bibir-bibir manis

Seraut wajah
Memaksa kepala menoleh
Demi melihat seraut wajah
Yang sejuk dan menyegarkan
Terkagum-kagum indah seraut wajah

Seraut wajah
Menarik tangan-tangan ini
Jari-jari kecil ini
Menulis indah
Tentang seraut wajah

Seraut wajah
Kau sampaikan keanggunanmu
Keramahanmu, Kesopananmu,
Hanya dengan senyum,
dalam seraut wajah
Baca >>

Saturday, September 15, 2012

Lubang Hitam

Terjerambab dalam angan dan bayangan
Aku yang tak tentu arah
Mencoba melihat
Kegelapan selalu mengikuti
Bahkan menghadang

Malam ini
Aku serasa dalam fatamorgana
Desiran sejuk angin yang menerpa
Perlahan-lahan membawaku ke neraka kehidupan
Sungguh aku tak tentu arah
Aku jatuh
Aku bangun
Dan aku kuat berdiri lagi
Namun aku selalu terjerembab
Dan selalu bangkit

Aku adalah partikel-partikel
Yang terhambur dan berantakan
Aku di sini, di sana, dimana-mana
Terserah kamu yang menemukan
Aku tak peduli itu

Aku mencoba layaknya cahaya,
Menembus kegelapan.
Mengarungi luasnya semesta
Hingga tertumbuk lubang hitam
Dan aku jatuh di sana.
Dalam perjuangan yang tak ada habisnya
Aku berlari bagai gelombang
Melepas jeratan gravitas lubang hitam
Terus dan terus, walau aku bukan cahaya
Tapi keyakinan membawaku pergi menjauh
Lubang hitam kutinggalkan
Baca >>

Tuesday, September 4, 2012

Debu dan Api

Dikala aku menemuimu
Aku bagai debu dan bagai api
Aku debu yang siap menyelimuti hatimu dengan debu lembutku,
Perhatianku.
Aku juga api yang siap menghangatkan setiap lekuk tubuhmu,
Memelukmu.

Aku tahu aku api yang semakin panas
Aku tahu aku debu tanpa api, tertiuplah aku
Tapi kau sesekali jadi api
Dan aku hanya debu
Dan apakah karena aku debu dan kau api, hingga aku tak dapat menghidupkanmu?

Sampai suatu saat
Aku ingin aku debu yang menghidupkan api
Menjadi kewajiban atas perjuanganku
Berjalan di atas api memegang debu
Takkan terhambur debuku di atas api

Akulah api yang meninggalkan debu
Membiarkannya tertiup angin kecil
Yang membawanya tanpa alasan padamu
Sampai suatu saat
Akulah,
Bara-bara api takkan padam oleh debu, tapi bernafas dalam debu

Dalam kewajibanku padamu atas debuku
Baca >>

Friday, August 31, 2012

Air Surga-ku

Setiap pandangan matamu
Adalah warna yang berbeda
Begitu juga yang lainnya
Karena aku bukan emas yang disukai
Tapi aku batu hitam yang terbuang

Setiap sel sarafku memikirkanmu
Dan yang lainnya
Memikirkanku
Akan aku di matamu dan lainnya
Memberi cahaya yang mungkin menggelapkan
Bagimu, karena pikirmu tentang ku

Nantinya
Sedikit impuls pada sarafmu
Akan mengatakan padamu
Bahwa jalan pikiranku
Adalah air surgaku padamu
Dan pada yang lainnya

Aku hanya menunggu saat-saat itu
Saat pikirku habis,
Tapi takkan habis air surgaku mengaliri kerongkonganmu
Dan hatimu berkata,
"Aku butuh air surgamu"
Baca >>

Sunday, July 29, 2012

Hanya Diam

Aku hilang
Aku takut
Aku khawatir
Dalam cerita
Dalam canda
Dalam tidur yang lelap

Aku hanya diam
Membiarkan semua mengalir
Arus ini begitu deras
Namun aku tetap membendungnya
Aku adalah tembok raksasa
Yang menutup setiap pintu air suci
Dan kamu adalah muaranya

Di atas pohon
Burung pun tak berkicau lagi
Terlalu sibuk mencari melodi
Lagu indah mungkin terlalu membosankan
Hanya menyaksikan burung lain yang,
Menyanyikan lagu untukmu
Menarik senyum bibir indahmu

Bahkan nafas burung itu
Menghembus, terengah-engah
Tak memberi sisa nafas untuk pita ini
Membiarkan pita ini tetap kaku
Baca >>

Friday, July 27, 2012

Kabut Tebal

Kabut tebal selalu dalam pandanganku
Dalam jalan menuju rumah
Mungkin dibalik kabut ada mayat-mayat hidup
Yang siap menerkamku
Menginfeksi setiap sel ini
Hingga aku lupa akan rumahku

Mungkin juga dibalik kabut itu
Ada bidadari yang elok
Yang siap memelukku
Memberi indah dalam hidupku
Hingga aku lupa akan rumahku

Bahkan aku tak sampai-sampai
Hingga dingin melahap tubuh ini
Kaki ku pun selalu menginjak duri
Mataku pun mulai pedih
Ingin ku meniup kabut tebal ini
Namun nafas ini sudah tersengal-sengal

Oh tidak,
Ruas-ruas tanganku mulai putus
Satu persatu ku sambung lagi
Dan selalu berjatuhan, dan
Berantakan

Namun hatiku masih utuh
Denyut jantungku masih terdengar merdu
Masih ada sisa energi untuk menembus kabut
Hingga aku menemukanmu
Baca >>

Sunday, July 22, 2012

Aku Masih Percaya Itu

Mengira kau adalah dewiku
Membuat ku memikirkanmu
Seakan menangkapmu saat kau terjatuh
Menangkap setiap butiran air matamu

Pikirku melayang
Mungkin aku sudah jatuh
Dalam permainanmu

Setiap apa yang kau bisik
Aku percaya itu
Setiap apa yang kau lihat
Aku percaya itu
Setiap apa yang kau dengar
Aku percaya itu
Dan aku masih percaya itu

Besok mungkin bulan tak seindah malam ini
Saat kau coba mengotak-atik
Apa yang di pikirku
Dan membalikkan pandanganku
Ke bintang itu
Yang jauh dan menghilang
Baca >>

Tuesday, July 10, 2012

Hatiku, Pikirku, Padamu

Bukan perasaan yang sering ku korbankan
Namun kemunafikan itu selalu menipuku
Kekecewaan bukan berarti musuh yang aku hindari
Kejujuran bukan selalu aku dekati
Munafik itu mungkin tuhan kalian
Tapi aku hanya orang yang benar
Benar-benar dalam kemunafikan

Sekarang, aku takkan malu
Karena malu adalah penyesalan
Hanya sekedar berbuat seperti apa yang dikata
Hatiku
Pikirku
Padamu

Tak bisa kupungkiri
Terus terang mungkin melegakan
Munafik itu menyakitkan
Menahan apa yang dikata
Hatiku
Pikirku
Padamu
Adalah menyakitkan
Adalah penyesalan

Munafik itu bukan strategi
Mencari cinta sejati
Berburu cinta sejati adalah
Mengungkapkan, apa yang dikata
Hatiku
Pikirku
Padamu
Bukan mendustainya

Aku adalah seburuk-buruknya manusia
Yang mencoba untuk selalu mengungkapkan
Apa yang dikata
Hatiku
Pikirku
Padamu
Meski tak seutuhnya
Semua akan jadi milikku
Karena mungkin Tuhan menciptakanmu bukan untukku
Dirinya bukan untukku
Apapun bukan untukku
Tapi Tuhan menciptakan
Apa yang dikata
Hatiku
Pikirku
Padamu
Adalah benar
Baca >>

Saturday, June 2, 2012

RaSa Hati-ku

Ku tengok setiap lorong keindahan dalam hatiku
Terlihat terang dan indah dalam memoriku
Masa lalu
Yang selama ini ingin dilupakan

Namun, apakah kau tahu RaSa Hati-ku
Bahwa selama ini aku rindu
Setiap hidup yang aku tuju
Selalu berakhir di ujung RaSa Hati-ku
Setiap cinta yang menghampiriku
Tak seindah bersama RaSa Hati-ku

Jika kau tahu RaSa Hati-ku
Penyesalan membuka mataku
Bahwa aku butuh kamu
Untuk hidupkan RaSa Hati-ku

Ku tahu, hatimu tak lagi satu
Aku pun juga tak satu
Namun, jika kau tahu RaSa Hati-ku
Ku rela menghapusnya
Dan kembali menulis cerita bersamamu

Ku sadar
Kau adalah melati pertama yang aku petik
Yang aku impikan
Dan selalu ku perjuangkan
Dan RaSa Hati-ku
Masih sama kuatnya seperti dulu
Meski, beribu gelombang menerjangku
Tak sekuat getaran cintaku padamu
Duhai RaSa Hati-ku

Baca >>

Saturday, March 3, 2012

Gara-gara

“Tet-tet-tet………..” bel istirahat pun berbunyi. Semua siswa keluar dari dalam kelas bak lebah keluar dari sarangnya. Ketika siswa yang lain sibuk dengan aktivitas mereka di luar kelas, aku dan ketiga temenku hanya di kelas. Tak satu pun siswa yang berani menentang kami, mereka membiarkan kami melakukan apa aja di kelas termasuk merokok, namun kami tetap menjaga keamanan kelas. Dan siang itu kami berempat merokok di kelas.
“Hemm……..kelas yang nyaman…!!!” begitu pikir kami berempat. Namun, tiba-tiba guru PKn Bu Excy namanya, masuk kelas mengambil bolpoinnya yang ketinggalan ketika ia mengajar di kelasku tadi. Dia itu seorang guru yang paling disiplin, namun judes. Kami pun segera memasukkan puntung rokok yang kami pegang ke dalam laci sambil mematikannya, kami pura-pura ngobrol biasa seperti tidak terjadi apa-apa pada kami. Saat itu hatiku berdebar-debar takut dimarahin Bu Excy begitu pula dengan ketiga temenku, wajah mereka kelihatan tegang.
“Ada apa anak-anak, kok kalian hanya di kelas biasanya kalian main di luar atau ke kantin ?” Tanya Bu Excy dengan senyum-senyum, sepertinya dia tahu sesuatu.
“Tit,tit,tit…tidak ada apa-apa kok bu, kek…kek…kami hanya ngobrol-ngobrol aja bu !!” jawabku dengan penuh ketakutan sehingga suaraku tersendat-sendat.
“Tapi kenapa wajah kalian kelihatan tegang, seperti ada harimau di dalam kelas aja ??” Tanya Bu Excy.
“Nggak kok bu, kami tidak tegang kok, tidak ada yang kami takutkan kok bu !” jawab salah seorang temanku Angga, sambil tersenyum.
Kami bertiga pun segera menyesuaikan kondisi dengan tersenyum.
“Eh, ibu kok sepertinya bau asap ketika masuk kelas ini tadi. Hemm.., kalian merokok di kelas ya???” Bu Excy mulai menampakkan wajah seramnya.
“Eng….gak kok bu, dari tadi enggak ada asap !” jawabku.
“Ya udah, mungkin hidung ibu aja yang enggak bener atau mungkin kalian memang bener-bener merokok di kelas. Awwasss nanti !!!” kata Bu Excy sambil melangkah keluar kelas.
Temenku si Yusuf langsung berakting dengan gaya mengusir Bu Excy. “Pergi sana…!!”.
Tapi hati kami semakin menjadi-jadi, penuhdengan rasa cemas.
“Eh,, Ngga untung Bu Excy tadi enggak marah sama kita… bisa ancur ni kelas. Tapi Bu Excy sepertinya udah tahu perbuatan kita, pake ngancem segala lagi !” kataku pada Angga.
“Bener Ar, sepertinya Bu Excy tadi udah tahu kalo kita merokok di kelas” tambah Yusuf.
“Wah,,, habis ini kita pasti masuk kantor nih. Kita harus siap-siap sedan MPR man !” cetus Johan.
“Man-men Man-men, sidang MPR itu apaan?, kaya orang gede-an aja Lu!” aku mulai lupa dengan ketakutanku.
“Hemm… kalian katrok banget sih… sidang MPR itu sidang Masalah Perjudian dan Rokok getou…!” jawab Johan.
”Bahasa negeri mana tuh?, pakai sidang MPR segala masalah kaya gini aja?” tanya Yusuf.
”Yang jelas, bahasa Indonesia,” jawab Johan.
Lalu bel masuk pun berbunyi, teman-teman sekelas yang lain masuk kelas.
Tiba-tiba, setelah beberapa menit kemudian bu BP masuk kelasku dengan wajahnya yang tampak marah. Dia bernama Salma, dia sangat disiplin, keras dan tegas dalam mendidik siswa-siswinya.
Saat itu hatiku berdebar-debar dan perasaanku gelisah, apalagi siang itu cuacanya panas banget, jadi keringat pun bercucuran. Aku bertanya-tanya dalam hati, mengapa bu BP masuk kelasku? Padahal sekarang kelasku jadwal pelajarannya Biologi, tapi kenapa bu Salma nampang di depan kelas?
”Aku tahu, pasti bu Salma akan memanggilku dan ketiga temanku yang merokok tadi, aduuh,, perasaanku semakin tidak enak..!!” cemas dalam hatiku.
Bu Salma pun berkata memecah keheningan dalam kelasku siang itu, ”Selamat siang anak-anak!”
”Siang bu!” jawab beberapa orang anak saja.
”Selamat siang anak-anaaaaaak!!!” bu Salma semakin berteriak karena merasa tidak ada yang menjawab salamnya.
”Siang bu!” jawab kami serentak.
”Mohon perhatiannya, yang saya sebutkan namanya saya mohon menghadap saya dan kepala sekolah di kantor sekarang juga. Angga Wiratama, Yusuf Silotung dan Johanes!”
”Aman, namaku tak disebutkan berarti aku nggak ikut di sidang,” kataku dalam hati lega.
”Eith, tunggu dulu. Arjuna juga iya!” tegas bu Salma dan langsung pergi meninggalkan kelasku.
”What? Kena juga deh.” bisikku.
Kemudian kami berempat pergi menuju ke kantor untuk menghadap BP dan Kepala Sekolah. Teman-teman sekelas menyoraki kami berempat, ”Huuuuuuh, dasar anak blandit!” Sorak mereka membuat aku malu.
**************************
”Jawab yang jujur, apa yang kalian perbuat di dalam kelas tadi waktu istirahat?” Kepsek marah-marah.
Aku pun menundukkan kepala, begitu juga ketiga temanku. Sekilas aku menatap wajahnya, ”Wow, wajah kepsek kaya raksasa yang sedang ingin menyantap mangsanya. Dengan matanya yang melotot, bibir agak domble, ditambah lagi bibirnya selalu memercikkan air ludah sambil nrocos.” Aku malah geli sendiri membayangkannya. Sementara itu temanku malah sibuk mengusap air ludah kepsek yang nyomprot ke wajah mereka.
”Jawab? Kalian benar-benar anak bandel, tidak menghormati guru!!”
”Ik..ik iya pak!”
”Jawab yang tegas, jangan kaya orang ayan!”
Semakin basah saja kami di depan beliau, temanku mulai sadar kalau tidak segera di jawab bisa mampus tenggelam dalam air ludah.
”Iya pak, kami merokok.” Johan mencoba menjawab.
”Kalian memang keterlaluan. Kalian itu di sekolah bukan di rumah, jadi jangan seenaknya saja merokok di kelas. Sekolah ini punya aturan!” dengan mata melotot pak Kepsek ingin memukul kami.
”Iya kami tau pak.” sela Angga.
”Lalu kenapa kalian masih melanggarnya?”
”Kami juga tidak tahu pak, kalau kami tidak melanggarnya pasti kami tidak di sini sekarang.” Yusuf seenaknya menjawab.
”Kalian memang anak-anak tak tahu sopan santun!”
”Iya pak.” jawabku.
”Iya-iye,, sekarang kalian buat surat pernyataan kalau kalian tidak akan mengulangi kesalahan ini. Kemudian bersihkan semua toilet yang ada di sekolah ini!”
”Baik pak.”
Begitulah suasana penyidangan kami di ruang BP.
Siang itu sungguh malang nasibku, gara-gara asap rokok aku membersihkan seluruh toilet sekolah. Malu sungguh malu bersarang di hatiku. Tapi aku masih bersyukur karena orang tuaku tidak di panggil ke sekolah. Betapa malunya orang tuaku jika sampai tahu anaknya merokok di sekolah. Apalagi ayahku Suratmaja namanya, seorang menteri pasti malu dan akan menghukum yang seberat-beratnya kalau tahu aku berbuat seperti ini.
Tetapi mungkin lucu jika seorang menteri di panggil ke sekolah hanya karena anaknya merokok di sekolah, ”hah ha ha”.
*****************************
Hari berganti hari, tak terasa aku sudah duduk di bangku SMA. Masa-masa SMP telah ku lalui, kini aku harus berjuang melewati masa-masa SMA.
”Huh, capek banget hari ini!” di kamar setelah pulang sekolah.
Langsung nyalain laptop dan buka facebook, begitulah aktifitasku. Sebenarnya aku mau makan keluar bareng ayah dan ibuku, namun sayang mereka tak pernah di rumah. Mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Aku seperti anak terlantar, waktuku hanya ku habiskan untuk chating dan melakukan hal-hal yang tak jelas.
Ingin rasanya aku makan malam atau hanya sekedar ngobrol bareng ayah dan ibu. Namun , tak ada waktu. Sibuk dan selalu sibuk, begitulah setiap hari tanpa memperhatikanku.
Hingga suatu malam aku mendengar percakapan ayah dan ibu di ruang keluarga, mereka tidak tahu kalau aku diam-diam menguping. Sebenarnya aku ingin ngobrol dengan mereka tapi mereka kayaknya sedang mebincangkan sesuatu yang serius sehingga aku tidak berani mendekat.
”Yah jangan,, bukankah itu dilarang?” kata ibu pada ayah.
Aku pun semakin penasaran dan ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
”Udahlah bu, ibu tenang aja. Nanti uang itu juga untuk keperluan kita atau kita tabung,” jawab ayah.
”Keperluan apalagi sih yah, aku rasa ini sudah lebih dari cukup,” sela ibu.
”Ya nanti bisa kita gunakan untuk tabungan hari tua kita!” jawab ayah yang semakin meninggi nada bicaranya.
”Ayah, menurutku tidak perlu, apalagi ibu kan sudah bantu ayah untuk kerja,” kata ibu sembari memegang lengan ayah.
”Sudahlah bu, nanti uang itu juga untuk ibu,” ayah mengebaskan lengan yang dipegang ibu.
”Aku enggak mau yah makan duit korupsi!” ibu teriak sambil nangis dan lalu pergi menuju kamar.
Aku tersentak, mendadak kaget. ”Hah, ayah korupsi?” kata hatiku. 
Aku sangat kecewa pada ayah sejak malam itu, aku pun meninggalkan percakapan mereka. Dalam hatiku marah dan sangat kecewa, tetapi hal itu aku tutup-tutupi, aku pura-pura tidak tahu hal itu di depan ayah.
Aku benci ayah, apalagi aku tahu kalau ayah berhasil mengeruk uang negara bermilyar-milyar.
************************************
”Hei, Arjuna..? Anak culun??”
”Apa kamu bilang?”
”Kamu anak culun!”
”Jangan asal ngomong kamu!” aku mulai naik darah, ku pukul muka Gentar.
”Udah-udah Jun, jangan diladenin!” Beni melerai perkelahianku dengan Gentar dan menyeretku untuk segera pergi.
”Ah, dasar culun!!” Gentar tetap mengejekku, walaupun sedang kesakitan birbirnya.
Aku dan Beni pun meninggalkan gerombolan Gentar.
”Dia pikir siapa dia?”
”Udahlah Jun, di sini kita kan murid baru. Dia memang anak usil sering cari gara-gara, dia itu pimpinan dari anak-anak nakal di sekolah ini.”
”Sebenarnya apa maunya?”
”Please, calm down bro!”
”Habis aku tersinggung banget dibilang gitu,”
”Enggak usah didenger omongan anak itu, nanti kalo kamu enggak bisa nahan emosi malah panjang urusannya.”
”Tet....tet.......tet...,” bel masuk berbunyi.
”What? Udah masuk bro, let’s go!”
Kami pun berlari menuju kelas.
Aku duduk sebangku dengan Beni. Guru Kimia pun masuk kelas.
”Page??”
”Page juga pak!”
”Sebelum memulai pelajaran, ada baiknya jika kita berkenalan dulu. Nanti setelah aku memeperkenalkan diri aku, langsung dari siswa yang ada di pojok paling kanan depan meperkenalkan diri urut ke belakangnya. Oke?”
”Oke pak!”
”Nama aku Petrus John Dalton, di sekolah ini aku sebagai guru kimia kalian.”
”Nama panggilannya siapa pak?” tanya salah seorang temanku.
”Kalian bisa panggil aku Pak.”
”Yaiyalah pak masa ya bu.” cetus teman yang lain.
”Bentar to anak-anak.”
”Iya bapak-bapak,” jawab kami serentak.
”Wong belum selesai kok sudah dipotong, kalian bisa panggil aku Pak P atau Pak J atau Pak D atau Pak PJD. Kalian mengerti.”
”Kok penuh inisial gitu to pak?” cetus Beni.
“Aku tu suka sesuatu yang beda," kata guru itu.
“Wah, wah, Pak P itu Pak PEROT!” aku mulai tertarik untuk nyeletuk juga.
“Hahaha, perot gundulmu itu gus!”
”Hahaha,” gelak tawa menghangatkan kelas kami pagi itu.
”Sudah, sudah. Biar waktu bisa efisien mulai dari pojok kanan depan sebutkan namanya sambil berdiri!”
”Nama saya Potro pak!”
”Bentar, sebelum di lanjutkan. Potro, nama yang bagus namun sejelek wajahnya.”
”Hahahaha,” kami pun tertawa mendengar celotehan guru kami.
”Lanjut!” sekejap suara Pak P membuat kami berhenti tertawa.
”Nama saya Dino Aurila Aurita.”
”Hahaha,” tawa Pak P membuat kami melongo, karena kami semua diam sementara Pak P tertawa girang.
Bahkan diantara kami ada yang berbisik-bisik.
”Guru aneh.”
”Stress.”
”Guru Edan.”
”Kalian tahu tidak namanya Dino itu lucu.” sela Pak P.
”Kok bisa lucu pak?”
”Masa namanya Dino Ubur-ubur!!”
”Hahaha,” kami paham apa yang disampaikan Pak P.
”Lanjut!”
”Nama saya Rina Helium.”
”Wah,wah, ibumu nyidam helium ya?” Pak P kembali mengomentari setiap nama siswanya.
”Nama saya Cristian Oksigen.”
Perkenalan pun semakin mengasyikkan, karena Pak P selalu mengomentari nama-nama kami semua.
********************************
Pulang sekolah, gerombolannya Gentar merencanakan sesuatu untuk membalas tindakanku tadi pagi.
”Bos, kita mampusin aja si Arjuna itu!”
”Bener bos.”
”Iya bos, anak ini berbahaya. Karena dia akan mengancam eksistensi bos di sekolah ini. Dia juga ganteng, apalagi kaya, wah, bisa-bisa cewek-cewek bos tergoda olehnya.”
”Iya aku tahu, tapi bagaimana caranya?”
”Ha, aku punya cara bos.”
”Gimana?”
”Dia kan anak orang kaya, jadi kita manfaatin aja.”
”Iya, terus caranya gimana blek!”
”Wow, sabar bos. Begini aku bisikin.”
”Ya,ya,ya, kamu memang smart!” Gentar memuji.
”Ayo segera beraksi bos!”
”Hahaha, mampus kau Arjuna!” Gentar yakin caranya akan berhasil.
Sampai di perjalanan pulang, aku yang sedang mengendarai sepeda motor dengan santai, tiba – tiba gerombolan Gentar yang mengendarai sepeda motor menghadangku untuk menghentikanku.
”Hei, anak culun berhenti kau!” Gentar membentak.
”Maksud kamu apa? Aku tak pernah buat urusan dengan kamu.”
”Ha, kau bilang kau tak punya urusan dengan aku!” Gentar memegang keras kerah bajuku.
”Lepasin, emangnya aku takut dengan kamu! Enggak sama sekali.”
”Ow, jadi begitu.”
”Udah bos, habisin aja.”
”Kalau berani satu lawan satu, enggak usah bawa – bawa yang lain. Kalau kamu emang jantan Gentar!” aku mulai naik darah.
”Oke, aku tunggu kamu nanti malam di gang belakang sekolah.”
Mereka pun pergi meninggalkan aku. Dan aku segera pulang.
***********************************
Suasana di gang belakang sekolah begitu sepi, cahaya lampu yang remang – remang dari pagar sekolah ditambah suara jangkrik yang sayup-sayup kedengarannya membuat suasana terasa menakutkan. Namun, aku tetap menunggu kedatangan mereka, aku tak pernah lari karena itu bukan sifatku.
Terlihat dari arah kanan cahaya lampu sepeda motor mereka perlahan mendekat.
”Wah, jantan juga anak ini bos!”
”Diam kamu!” Gentar membentak anak buahnya.
”Sesuai perjanjian kita, kenapa kamu masih bawa anak buahmu? Penakut!”
”Jujur, baru kali ini aku kenal dengan orang yang berani menantangku. Tapi tak pernah ada sampai saat ini yang bisa mengalahkanku untuk nge-drinks.”
”Maksud kamu apa? Kamu menantangku untuk nge-drinks,” ku dorong dada Gentar.
”Iya, kalo emang kamu jantan!!”
”Oke..!”
”Plok, plok, plok, plok, plok,” mereka bertepuk tangan.
”Selamat datang di Brand All, itulah nama geng kami. Geng ini akan semakin lengkap jika kau bergabung,” Gentar memujiku.
”Jadi apa maksud semua ini?”
”Ya, begitulah kami dalam merekrut anggota. Siapa yang lulus dari tantangan kami maka dia bisa menjadi anggota kami,” Gentar menjelaskan.
”Ow, jadi semua ini hanya sandiwara.”
”Ya sebagai ujian, are you ready to join us?” Gentar merangkul pundakku.
“Akan kupikirkan dulu,”
“Tak perlu berpikir, sekarang mari kita berpesta…!”
”Iya Jun, tadi kamu berani menantang bos kami untuk nge-drinks . sekarang ayo buktikan!”
”Never mind, let’s go..”
”Hahaha, kamu memang seorang yang seperti aku harapkan untuk gabung di geng ini!!” kata Gentar sambil menepuk-nepuk pundakku.
Mereka mengeluarkan berbagai macam merek minuman keras dari dalam tas mereka. Kami pun pesta bersama malam itu, dalam batinku berkata, ”Daripada aku bosan di rumah, benar juga aku bergabung dengan mereka. Aku bosan dengan ayah dan ibu yang tak pernah memperhatikanku.”
”Ayo Juna, bos udah abis dua gelas tu!”
”Oke, tapi aku enggak akan panggil Gentar dengan sebutan bos.”
”Hahaha, tak masalah Juna. Kamu mau bergabung dengan kami malam ini saja kami udah seneng.”
Aku pun segera meneguk minuman-minuman yang rasanya aneh itu. Aku semakin tertantang untuk minum lebih banyak karena mereka menghinaku. Sampai aku tak sadar dengan apa yang telah terjadi pada diriku.
******************************
”Kriing, kriiing, kriiiiiiiing,” alarmku berbunyi.
”What’s? Jam enam?”
Aku terlambat bangun, dan kepalaku pusing sekali pagi itu.
”Ah, apa ini? Kenapa aku bisa pusing banget?”
Aku memaksa untuk berdiri dan menuju kamar mandi walaupun badan terasa agak berat.
Sampai di sekolah ternyata belum terlambat. Pak Satpam masih berdiri di depan gerbang tempat parkir.
”Pagi pak!”
”Pagi..!” jawab Pak Satpam.
*****************************
”Wow, what’s up bro?. Kenapa dirimu tampak aneh hari ini?” Beni terkejut ketika aku tiba di kelas.
”Nothing, aku rasa biasa saja.”
”Kenapa kamu tampak lelah dan tak bersemangat gitu?”
”Ah, kurang tidur aja,” jawabku dengan sikap acuh.
Waktu pelajaran aku hanya tidur, bahkan aku sampai kena skors karena tindakanku ini. Akhirnya aku seharian tidur di UKS.
Sepulang sekolah, Gentar dan kawan-kawannya menghampiriku lagi.
”Mau apa lagi kalian?” tanyaku.
”Waduh bos, anak ini loyo sekali. Haha baru minum beberapa teguk aja udah KO!”
”Hei, jangan asal ngomong kamu ya! Jaga mulut kamu itu!” aku marah dan menekik leher Rino.
”Eith, tenang Man. Kita kan udah sepakat kalau kita enggak ada permusuhan lagi,” Gentar menenangkanku.
”Kalau kamu memang berani nanti malam kita dugem ke diskotik!” kembali Rino menantangku dengan nada mengejek.
”Baik!” kutampar muka Rino.
”Hei, sudah-sudah...” mereka melerai perkelahianku dengan Rino.
Malamnya, aku berangkat bersama mereka ke diskotik. Di sana kami seakan-akan sudah lupa dengan status kami sebagai pelajar. Kami semakin menjadi-jadi, tak hanya menuman keras tetapi mereka juga memberiku pil ekstasi. Hingga aku tak sadarkan diri, aku tak sadar jika mereka semua sudah pulang, diskotik pun sudah sepi dan akan segera ditutup. Aku mencoba berdiri dan pulang walaupun dalam keadaan senggloyoran.
***********************************
Malam semakin larut, aku pun semakin hanyut. Setiap malam aku dugem dengan mereka. Bahkan kami sudah mengonsumsi narkoba. Aku tidak tahu kalau ternyata mereka hanya memanfaatkan kekayaan orang tuaku. Aku dicekoki berbagai merek obat terlarang dan aku tak pernah bisa menolak. Malahan jika persediaanku habis aku marah-marah pada mereka karena tidak segera dibelikan. Aku berikan semua uang seberapapun yang mereka minta untuk membelikan obat-obat itu.
Tugas sekolah dan belajarku pun terbengkalai. Aku lebih mementingkan dugem bersama mereka. Hingga berbagai merek obat terlarang dan berbahaya telah kucoba. Bahkan aku telah berani menggunakan narkoba berdosis tinggi.
Hingga suatu malam, ketika aku pulang dari diskotik dalam keadaan mabuk, sampai di rumah ayah dan ibuku belum tidur. Sepertinya mereka sengaja ingin tahu kenapa aku setiap hari pulang larut malam terus.
”Apa yang kau kerjakan, hingga kau pulang malam begini Arjuna?” bentak ayah sambil berjalan mendekatiku.
”Iya Arjuna, akhir-akhir ini ibu lihat kamu pulang larut malam terus dan tak pernah belajar, sebenarnya apa yang kau kerjakan di luar hingga kau seperti ini?” tambah ibu pelan.
”Bukan hanya akhir-akhir ini bu, tetapi ini sudah lama. Hanya saja ayah dan ibu sibuk sendiri!” jawabku dengan suara yang tak lancar karena kondisi mabuk.
”Bau sekali kau, kau mabuk Arjuna?” bentak ayah yang semakin marah dan akan menamparku.
”Tampar, ayo tampar aku ayah!”
Tetapi ayah tak jadi menamparku.
”Arjuna kenapa lakukan ini semua? Membuat malu keluarga saja kau Ar... Apa kau tak malu?” bentak ayah.
”Kenapa aku harus malu, seharusnya ayah sendiri yang harus malu, ayah curi uang negara kan? Apakah ayah tidak malu? Ayah taruh mana muka ayah? Sudah punya jabatan, hidup cukup mewah tetapi ayah masih ko-rup-si. Bukankah itu lebih membuat malu?”
”Apa kau bilang?” ayah pun menampar pipiku.
”Ceplaass,” begitu keras ayah menamparku, hingga aku mengelus kesakitan. Dan emosiku sudah tak terkendali lagi.
”Dasar tukang korupsi, muka ayah seperti muka tembok tak tahu malu!!!” bentakku pada ayah dan langsung lari ke kamar.
”Kau anak durhaka, pergi saja kau dari rumah ini!”
”Sudah ayah sudah,” ibu mencoba menenangkan ayah.
Pintu kamarku ku tutup. Di kamar aku menangis, aku sedih, aku merasa tak ada yang mau pedulikan aku, memperhatikanku dan menyayangiku. Bahkan orang tuaku sendiri telah mengusirku.
Gejolak dalam hatiku semakin menjadi, aku semakin frustasi dengan hidupku ini. Dan aku pun mencoba mengakhiri hidupku dengan narkoba suntik, pil extasi, sabu-sabu, dan semua narkoba yang aku punya. Kusuntikkan dan kutelan semua obat, aku berharap semoga ini akan segera mengakhiri hidupku.
Penglihatanku jadi remang-remang, kulihat dunia ini tampak indah dengan bayang-bayang seperti di alam mimpi. Penglihatanku semakin menjadi-jadi dan tak menentu, dunia terlihat terang namun dalam sekejap menjadi gelap. Badanku semakin ringan dan sepertinya aku terbang, terbang dalam halusinasiku. Namun tiba-tiba badanku terjatuh, jatuh ke lantai tetapi serasa jatuh ke dalam jurang yang dalam, jatuh dan terus jatuh sampai aku tak merasakan sesuatu. Sepertinya aku sudah mati.
SELESAI
(Wonogiri, 2006)
Baca >>

Contact Form

Name

Email *

Message *

© 2009 - Galeri Puisi, All Rights Reserved.

Designed by Galeri Puisi