Belum Ada Judul

Air yang membasahi tanah ini.
Kini tumbuh sekolompok rumput ilalang.
Bergumul dengan beberapa pohon padi,
menjepit akarnya hingga buahnya tak menunduk lagi.

Tak Ada Jera (RaSa Hatiku VI)

Apakah karena bisikkan anjing?
Yang mengendus-endus logikamu,
Membasahi hatimu dengan air liurnya,
Hingga kau skeptis
Menyulut kembali api yang telah lama padam
Mengingat lagi yang entah dari dasar pikirmu

Terbeku

Masihkah ada cahaya dalam gulita jiwaku?
Sementara tak ada lagi kelogisan dalam pikirmu.
Mendera aku dengan pisau-pisau
yang kau sendiri tak tahu dimana sisi tajamnya.
Aku hanya khawatir,

Bila Kosong Itu Isi

Kosong bilang isi, isi bilang kosong.
Bila kosong itu isi, bukankah isi itu hanyalah kosong.
Mungkin lebih baik mengisi kekosongan atau mengosongkan yang isi.
Lalu kosong-kosong isi, dan isi-isi kosong.
Sebuah kosong memang memenuhi sebuahnya lagi yang isi.

Sanggama

Ketika pagi menjelang,
beranjak meninggalkan tempat tidurmu,
dan bersetubuh dalam genggaman cemas akan takdir hari ini.
Semangat yang nyaris tiada henti
mencumbui raga yang mengenyangkan perutmu.
Sedang jiwamu meronta,

Tamak

Di dunia mana lagi akan berpijak, jika tamak memenuhi hati.
Helaan nafas yang mengangkat kepala adalah kaki yang melumpuh.
Genggaman tangan yang merengkuh dunia tanpa ruh kesejukkan.
Segala mata enggan untuk bertatap, menoleh dengan liarnya.
Mati pun tak pantas sebagai pelarian.
Sebab air mata hanyalah bumbu-bumbu kemunafikan.

Si Pena Sesat

Sepotong kertas, dan sebuah pena
Memberi ruh bejana kosong
Meniup api lilin temaram
Melukis langit yang semakin muram

Satu hal dari yang pasti,
adalah kepastian dari yang tidak pasti

Tuhan Di Tanah Kami

Tuhan di tanah kami,
menjelma dalam setiap dimensi,
menggema di ruang-ruang hati.
Sebuah teriakan sunyi,
dalam, jauh, tak terbatas,
lalu kami berusaha membatasi.

Masih Mendengar

Kalau kau masih mendengar, inilah jiwaku, tempat aku meletakkan nyawa di atasnya. Dengan segala hormat dan sanjungan, aku persembahkan arloji kehidupanku pada lenganmu. Dan tak terkapar aku melihat ketika helaian sayapmu tak pernah jatuh di hadapku. Semacam duri yang aku tancapkan lebih dalam dari urat nadiku, lalu aku membiarkannya menyatu dalam daging yang meronta-ronta dalam kelupaanmu.

Selamat Pagi Tuhan

Pagi yang berembun
terasa lama ia mendinginkan,
lalu terlupa oleh sengatan panas mentari.
Kami pun segera berjalan beriringan,
dalam garis batas bumi dan langit,
di bawah lengkung cahaya keemasan mentari pagi.
Dimana kami terus berucap,

Merdeka atau Mati

MERDEKA...!!!
Sebuah teriakan yang menggema
Pekikan angin yang menjelma
Kata yang tak disertai makna
Karena rasa telah terhalau
Oleh angin-angin segar dari sebuah rekayasa

Arti Merdeka

Merdeka,
adalah kata,
yang lebih sering terdengar mendekati 17 Agustus.

Merdeka,
adalah kata ambigu,
ada yang bilang belum merdeka,
ada yang bilang sudah merdeka lalu mati.

Skeptis

Masih saja,
mengendus-endus cerita palsu yang aku buat,
sejak kekecewaan menghantuimu.
Skeptis,
dan lebih sering mendengar daripada berpikir logis.

Topeng-Topeng Emas

Aku lebih senang
Kamu datang membawa pisau
Lalu menikamku
Daripada kamu datang membawa senyum
Lalu mengambil hatiku

Untuk Apa Merdeka

Untuk apa merdeka.
Jika harga diri hanya semurah harga kondom.

Untuk apa merdeka.
Jika harga diri lebih rendah dari harga BBM bersubsidi.

Untuk apa merdeka.
Jika harga diri hanya dihargai sekilo daging sapi.

Di Balik Batu

Di balik batu
Ku temukan Tuhan
Bersama doa-doa yang melayang
Di antara bumi dan langit yang kelam.

Di balik batu
Kujumpai Tuhan
Tapi Ia diam
Seakan Ia begitu suci dalam sepinya waktu.

Tanah Kami Digerogoti

Tanah ini membentang,
di sejauh hamparan mata memandang.
Nan hijau tak bertepi,
di bawah lengkung langit yang eksotik.
Siapa yang tak senyum melihatnya?
Adalah orang yang dibalik senyumnya terpendam rasa ego.

Terlalu Pagi

Seperti bosan yang menepi
Lagi-lagi rikuh berbalut rindu
Seperti sajak yang jengah untuk dilantunkan
Karena masih terlalu pagi untuk berucap

Jendela Kenangan

Penantian ini
adalah seperti sore yang kehilangan senja.
Garis yang memisahkan siang dan malam itu
kini telah melebur bersama derai kristal kenangan.
Tentang buku kecil dan si mungil yang menatap ke arah jendela.
Menjahit benang-benang kusut dan titik-titik bosan yang ditemui.
Sementara senyum tergurat di setiap kata yang tertata rapi di muka jendela.

Kontras

Kekasih,
Akan ada saat
dimana kita bersama menghitung
detik-detik waktu meninggalkan kita.
Atau hanya aku saja yang menghitung setiap langkahmu
yang menjauhiku.
Sejengkal demi sejengkal semakin kabur di mataku,
kaki-kakimu tak goyah lagi,
sementara aku masih bertekuk lutut dalam rasa.

Bila Malam Menjelang

Demi malam yang tirainya menutupi siang,
terdengarlah nyanyian-nyanyian sunyi kematian.
Merenggut nyawa-nyawa abadi
dalam gelap,
berdecak-decak langkah kaki
bersama sebuah obor yang menyala-nyala
tanpa tangkai dan tanpa tangan.

PR ku 3 Buah Soal

Aku punya PR, ada 3 buah soal,
lumayan susah, sesusah menangkap tikus di dalam sangkar.
Dan parahnya lagi,
setiap hendak menyentuhnya malas pun menjangkiti seluruh tubuh,
aku lebih suka menghitung uang.
Waktuku hanya untuk menghitung uang,

Lapuk

Matahari sepertinya lupa
membunyikan loncengnya di tengah hari,
dan dirimu pun tak nampak lagi.
Di reruntuhan, di reruntuhan,
adalah puing-puing yang berserakan di antara harap dan sesal.
Wajahmu yang temaram,

Wahai Pagi

Wahai pagi,
sampaikan salamku untuknya bersama sejuknya embunmu.
Bangunkan ia dari mimpinya,
agar ia melihat bahwa aku datang membawa sekuntum bunga,
dan senyum bahagia.
Wahai pagi,
semoga ia mengerti, betapa ku berharap padanya.

Derai Gerimis

Aku bukanlah malam yang berkabut itu,
yang kelamnya membawamu
dalam keangkuhan senyum rembulan.

Aku juga bukan langit yang bertabur bintang,
yang indahnya menertawakanmu,
padahal aku sendiri berlumuran papa.

Elegi di Kala Fajar Menyingsing

Pagi ini adalah saksi ketika tak ada alarm lagi berdering
mengucapkan selamat pagi.
Hanya saja detik jam terdengar lebih kencang,
yang biasanya jengah untuk menyuarakan suara sumbangnya.
Dan hati ini selalu luluh dalam peluh keangkuhan,

Lentera Sunyi

Wahai malam yang merajai kegelapan,
izinkan aku mendekati lampion-lampionmu yang temaram.
Hanya ingin melihat bayanganku sendiri,
masih adakah ia? atau juga pergi bersama dia.
Hanya ingin mendekap bayanganku sendiri,
agar ia tak kedinginan, dan tak kesepian.

Tanya Bisu

Tidakkah kau lihat begitu banyak kiasan indah untukmu dalam puisi ku?
Namun kau selalu bertanya pada pagi tentang hari-hari lalu,
Sesejuk inikah pagi kemarin?
Matahari mana yang tak bangun bersama kepulan asap rokok?

Dialog Hujan Turun Lagi

A:
Hujan pun turun lagi

B:
Berteduh saja di hatiku agar tak kena hujan

A:
Bagaimana bisa aku berteduh?

Sang Kala

Dan demi senja yang merindukan pagi
Aku melangkah ke gelapan malam
Yang entah masih adakah harapan akan esok pagi
Masihkah akan melihat senyummu ?
Yang merekah di antara dua bukit kemenangan pagi

Senyum Senja

Ada kegelisahan
Yang menyelimuti hati
Menerka-nerka, cintamu hilang kekasih

In a Dream Paradise

*)
Well,
I can see you in the night, even though you were covered by the dark and clouds. I've fallen in the deepest river, until my hand can't rise on the top to say goodbye to you.

Rentan

Menapak kaki kaku dalam keakuan
Yang terasa aku dan semakin aku,
Menanti kaki-kaki lain mengikuti kakiku,
Menuju ruang kehampaanku.

Karena kau adalah kakiku

Untukmu Kekasih

Tiada yang lebih indah di hari ini kekasih,
Selain senyum sapamu
yang menghembuskan nafas ke paru-paruku.
Aku menghirup baumu yang semerbak
menggugah jantungku untuk berdegup kencang

Meski,

Menjemput Kekasih

Aku bertemu denganmu kekasih,
di dalam garis yang tak pernah putus
dan selalu berkelok-kelok di tepian jurang keindahan
yang memisahkan jiwa & ragaku.

Suaramu yang mendesah-desah
memanggil
melalui kicauan burung
yang terbang mendekatiku,

Di Saat

Di saat hujan merindukan kemarau
Di saat air merindukan api
Di saat datang merindukan pergi
Di saat dekat merindukan jauh
Di saat-saat menanti saat

Kekasih Dalam Penantian

Aku melihat harapan di matamu,
Namun, akan segera sirna di ujung rasa rindumu yang tak bertahta

Aku berada di dalam reruntuhan istana cintamu,
yang kau bangun begitu megah di hatimu.

Di Antara Hujan dan Badai

Aku di antara hujan dan badai
Keduanya mengikuti hingga malam, dalam mimpi dan terjaga
Membangunkan di kala mentari sedang malas untuk tersenyum
Membawa keriuhan dalam hati yang sedang mati

Kau Pilih Dia

Pelangi yang indah itu kini tertiup angin kencang,
Riuh,
Kabut hitam menampak di segala pandang
Dan sepi menusuk-nusuk tulang
Mengiris-iris daging ini
Menghentikan setiap aliran darah di penghujung sel-sel kaku
Hanyalah, air mata yang masih mengalir deras

Karya Abadi

Di saat embun tak menetes
Dan angin tak mau terbang lagi
Gundah mengganggu hati.
Berceceran pula
Potongan-potongan kertas
Di sana tertulis tentang rasa haus

In The Dark And You’re The Light


I want, always find you in the dark and the light.
But I always in the dark and you're the light,
your eye burn me and blow the black dust.
And i'm running to confess, in a piece of peace.

Keabadian


Aku senang karena aku berpikir
Aku sedih karena aku berpikir

Dan apakah aku sesat jika aku bepikir?
Bukankah kebenaran itu ada di akalmu?
Yang diwariskan oleh keabadian

Kekasih yang Tak Terjangkau

Diksi-diksi indah pun tak dapat menjelaskan indahnya dirimu.
Sungguh, 
Aku terjebak dalam kata-kata dalam mengungkapkan indahnya dirimu.
Yang tak tersentuh.
Mungkin hanya melalui kematianlah aku mampu mewujudkanmu dalam benak ini.

Air dan Palu


Aku datang membawa tanah,
Kau bawakan aku air
Aku datang membawa batu,
Kau bawakan aku palu

Terkikislah sudah.
Hancurlah sudah.

Berdiri Di Atas Angin

Berdiri di atas angin
Menangkap air hujan
Berikan aku sebuah cangkir
Kutuang air selautan

Berdiri di atas angin
Melukis kata di muka awan
Hingga penaku usang
Beberapa huruf berjatuhan

Doa Para Pencopet


Dihajar aku dalam keganasan tangan-tangan besi
Yang membabi buta
Dalam ketidakadilan,
Dalam kemurkaan,
Kebencian yang begitu dalam
Tergores di setiap lekuk otakmu
Tentang kaumku,
Yang kecil dianggap besar

Biar Saja


Mencair sudah kebekuan ini
Dalam keheningan malam yang menggigil
Tatkala datang beberapa tulisan mungil
Yang dengan sombongnya
Menampak pada layar

Satu Langit Satu Hujan


(Rasa Hatiku V)


Masih dalam penantianku
Aku tak lelah dalam hancurnya harapan
Berdiri dalam kemustahilan
Tapi aku bisa terbang
Melayang-layang dalam bayangan

Pesan Ibu

Tak henti bibirmu berucap
Memberi batas-batas kasih sayang
ratusan kali,
ribuan kali,
tak terhitung lagi,
tak ada kebosanan.
Meluruskan kaki-kaki anakmu